Hi

Nanar kupandang sajian nasi campur vegetarian di hadapanku. Pikiranku tidak sedang menyatu dengan ragaku. Suara percakapan orang-orang di beberapa meja di rumah makan timbul tenggelam di kepala ku. Hujan membuat kami tak bisa duduk di kursi luar atau gazebo di taman terbuka restauran. Sebagai gantinya kini kami duduk di meja pojok, di bawah lukisan safana yang didominasi warna kuning di atasku. Waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Resah ku santap paduan sate, daging bakar, ikan bumbu bali, sayuran disiram sambal kacang dan setumpuk kecil emping goreng yang semua berbahan non-daging. Menu vegetarian yang disajikan dalam piring beralas daun pisang membuat seakan semua daging tiruan tersebut menonjol mendekati penampilan aslinya, kecuali rasanya yang tentu saja tak bisa diimitasi.

Hatiku riuh seperti sedang diterjang angin puting beliung. Hal itu membuatku harus mengerahkan segenap daya untuk mendengar, mencerna dan memberi tanggapan wajar di tiap tukar kata dalam pembicaraan kami. Ya, kami sedang bercakap tentang hujan yang seharian mengguyur kota, kabar selama kami lama tidak berjumpa, binatang, kesukaan, makanan, juga lainnya entah apa. Musik menjadi hal pertama sejak kami duduk di meja, saat makanan yang kami pesan belum disajikan hingga gelas minuman kedua dia tandaskan. Semua nama dan musik yang aku suka tiba-tiba tak mampu aku eja. Ingatanku menjadi tak setia karena di dalam diriku sedang berusaha menahan agar pikiran dan hatiku tak pecah berantakan.

Berbincang dengan mu adalah menghidupi paradoks keterasingan dan menemukan penggalan siapa diriku. Saat ini aku hampir merasakan benci mengingat kenyataan yang melingkupi mu dan diriku, kenyataan yang menghidupi kita. Kenyataan yang tak senyaman membayangkan embun pagi yang menjadi bagian romantisme terbitnya mentari atau banyangan camar terbang indah di saat mentari tenggalam ditepi lautan. Hatiku terasing dari mimpi yang tak disetujui oleh logikaku. Tapi ada saatnya kita terhubung begitu saja oleh banyak kesamaan yang barangkali tak pernah kita sangka. Kita menyukai membangun dunia lewat fantasi dan untain kata-kata. Menggapai kedamaian dengan menyusuri mutiara kata para pejungga dan pengembara kehidupan adalah hal yang kita suka. Terasa alami dua hal itu menarik kita dalam pusaran luapan kegembiraan begitu saja. Melihat pendar semangat dimatanya saat merangkai harapan dan rencana perjalanan yang dia sedang susun dalam hidupnya membuat semua hal disekitar kami menjadi hilang. Pelayan yang hilir mudik membawa mengantar pesanan dan melayani permintaan tiap meja, temaram lampu restauran, perabot kayu dan dekorasi ruangan menjadi kosong tertelan oleh lautan di matanya.

Gagang cangkir didepanku terasa begitu jauhnya untuk kujangkau. Saat aku berhasil meraihnya sendok gula kecil disebelahnya berdentang jatuh membuat dadaku berdetak makin kencang. Aku seperti terseret dalam pusaran yang makin membesar karena aku gagal untuk menghentikan diriku agar tidak melawan. Melepaskan pertarungan batin agar bisa menghidupi ‘kekinian’, momen dimana aku sedang bernafas, tak juga sanggup aku lakukan. Suara yang keluar dari mulutku; canda, argumen, cerita dan jawaban tanya hanya sayup terdengar ditelingaku sendiri. Gerangan keterbelahan rasa dan pikiran yang membuat aliran kata-kata kita tercekat di banyak tikungan pertimbangan. Hingga, dialog yang ada adalah kekakuan dan kekawatiran untuk melakukan kesalahan.

Saat gelisah tak terbendung, kita akhiri pertemuan dengan tatap yang tak saling tahu arti dan jawabnya. Selain, kepasrahan bahwa kita gagal mengikatkan hati dan pikiran untuk janji dilain pertemuan. Sepanjang jalan perpisahan seakan memantapkan ketakbersuaan abadi yang menundukkan kita dalam pedihnya kegelisahan.

Kembali mataku nanar. Saat kutemukan pesan surat elektronik yang kau kirimkan menghayutkan resah dalam sekejap: “Hi!”

ada benang penghubung diantara kita 

tarik menarik mentautkan jiwa  

terhubung dalam keterpisahan waktu, ruang dan jarak 

resah saat kau hilang dari aku mengarah 

parau suaraku saat nyanyimu hilang dari hatiku 

relung jiwaku hampa saat genta kehidupan mengaburkan dawai musikmu

pekat pandangku kala dirimu berpaling dari melihatku 

hi 

hatiku tak berikrar 

cinta belum berwajah 

rindu meragu untuk diberi nama dengan namamu 

kapan benang pengikat hati ini terulur?

tak tahu siapa yang memintalnya 

helai-helainya menjerat dan membuat kita 

satu nafas saat saling mengingat 

bahagia hanya oleh esensi saling merasa yang tak selalu perlu diartikan

hadirnya hanya untuk kita nikmati bersama

warna-warni helai itu seperti pelangi 

seliris namamu saat hatiku tergetar mengingatmu 

semanis saat kau mimikirkan diriku dalam keyakinanku 

hi … 

saat ini sehelai benang biru yang kutitipkan untukmu

untaiannya sedang menyapamu

mempertemukan jiwaku dan jiwamu

menjeratku kian erat saat aku memanggilmu…. hi.  

(Jakarta, 22 Januari 2015)

Advertisements

Januari, Hujan dan Gending Jawa

Januari membawa rinai hujan di pagi hari. Yogyakarta terasa kehilangan suluh hidup dalam selubung kabut pagi dan rintik hujan. Kicau burung tak terdengar. Gerak kehidupan pelan dalam langgam ketaktergesaan untuk menunaikan kewajiban. Seakan memandang hujan dan terlarut dalam lamunan kehidupan di alam pikiran menjadikan kenyataan tertinggal jauh dari bayangan impian.

Rumah joglo tak berdinding. Kursi-kursi kayu jati dan jajaran pilihan menu sarapan pagi masakan Jawa dan sederet jajanan pasar membuat suasana terasa lepas dari abad kemajuan. Alunan gending Jawa pelan menimpa suara telivisi yang memang hampir bisu yang tergantung disalah satu sudut pilar kayu. Perasaan teraduk dan mata enggan beranjak dari memandang hampa ke titik entah apa ke curahan deras air hujan yang menghujam makin tajam ke tanah. Saat bunyi hujan dan gending Jawa bersenyawa ingatan ku tersedot ke pusara magis dingin pagi, hujan dan masa silam.

Aku mencoba mengaduk kehampaan dan mencari bayang mu disana. Menyelusuri ingatan satu ketika yang pernah terukir di bumi Yogyakarta. Menyusuri romantisme peninggalan peradapan lama dan membangun romantisme kita sendiri dengan mengendari becak keliling kota. Berburu keunikan simbol kenangan dengan membeli cinderamata di tempat-tempat yang kita anggap bisa memberikan kesan dan cerita berbeda perjalanan kita. Tak lupa memanjakan lidah dengan melakukan pertualangan kuliner di tempat-tempat penjual makanan lokal yang sudah banyak dikenal. Tak berhenti disitu, tempat-tempat bermuatan cerita yang menjadi ketertarikan kusus kita tak lupa kita jelajahi. Melihat bantar kali Code dengan rumah-rumah sederhana berwarna-warni nan rapi. Merekam kehidupan masyarakat sederhana slum area Yogya yang dimanusiakan kembali keberadaannya oleh pengabdian seorang humanis bernama, Mangunwijaya. Dilanjutkan dengan mencari galeri maestro pelukis ternama dan mengunjungi pasar-pasar seni. Kita bukan seniman apalagi kolektor. Tapi kita menikmati keunikan ciptaan para seniman dan juga ‘keberbedaan’ cara hidup mereka. Humaniora selalu membawa kita dekat pada pertanyaan apakah esensi tertinggi pencarian dan tujuan perjalanan tiap manusia.

Ada satu titik kenangan di Yogyakarta yang kurasakan hilang dengan mengenang perjalanan kita. Buku. Ilmu pengetahuan yang menobatkan Yogya sebagai kota impian untuk menggantungkan cita-cita sebagai seorang pelajar. Ingat saat kita selalu saja mencari kesempatan untuk kembali kesini. “Kembali ke Yogya selalu terasa kembali ke kampung halaman. Ke akar perjalanan kita sebagai pembelajar”, kata mu. Agenda memburu buku di tempat-tempat tak biasa selalu terasa menyenangkan. Membawa kepuasan batin yang seakan mampu membuat derajat intelektual kita naik beberapa level kecermelangannya. Berjam-jam kita bisa menenggelamkan diri mencari buku dan mencuri-curi untuk membacanya. Saat itu, gadget masih sebagai pelengkap bukan kebutuhan pokok kehidupan. Keriyuhan kebersamaan adalah kedekatan dalam pertukaran senyum, kata dan tatapan kedalaman interaksi manusia. Dimana jarak sangat terasa dihitung untuk janji pertemuan yang selalu dinanti-nantikan. Ketika manusia mendekatkan hati satu sama lainnya sebagai kebutuhan fundamental eksistensinya.

Kini, kembali ke Yogya dengan menempuh kecepatan waktu dan jarak yang didekatkan teknologi, aku kehilangan kemampuan untuk berhenti dan mengingat perjalanan yang disebut kenangan. Ingatan tak lagi membawakan romantisme momen yang bisa diendapkan cukup lama. Aku dikepung keterengahan kecepatan kejadian demi kejadian yang memburu ku bahkan hingga saat badanku coba kutidurkan. Kawan tak lagi menyambut kita dengan hangatnya pelukan dan tawaran secangkir wedhang hik yang diminum dengan saling bertukar kabar saat kita kongkow di pinggir jalan. Hening alam, kesegaran hijau dedaunan dan embun yang cemerlang telah ditutup oleh bising kendaraan dan polusi yang menyesakkan. Yogya menghidupi perubahannya. Kurasa tak jauh beda dengan kita.

Aku menyibakkan tirai kabut masa lalu dengan mata yang masih memandang panah-panah hujan yang kian deras di depanku. Setelah sekian lama tak kembali menginjakkan kaki di Yogya betapa sempurna dia menyambut ku. Rinai hujan, Januari dan gending Jawa mengalun menggetarkan tubuhku. Ada kebangkitan keterhubungan yang lama terlupakan bahwa masa lalu yang kita sebut kenangan tak pernah menjauh atau menghilang, dia menunggu direlung hati yang dibatasi selaput tipis ketakpedulian untuk kita kembali mengunjunginya. (Yogyakarta, January 10th, 2015)

Teentaal

tablaDha Dhin Dhin Dha. Jemari kaki mu menari pelan mengikuti ritme Teentaal yang masih salah-salah ku mainkan. Kaki mu yang terjulur santai didepan ku berwarna putih pucat dengan pias tanah melekat ditelapak mu. Dha Dhin Dhin Dha. Empat larik pelajaran sederhana ritme tabla, enam belas kata berirama senada membawa resah di kepala. Baris-baris sederhana itu tak juga benar-benar mampu kubunyikan. Harmonium mu mendesah kadang meringkik terpaksa saat jemari mu salah menekan tutsnya. Saat itu kau akan melempar senyum dan tatapan jenaka. Tentu saja susah payah kuabaikan sihirnya. Parahnya kucoba enyahkan resah dengan menghentikan Teentaal dengan menarik nafas dan mengatupkan mata yang tentu saja semakin menarik perhatian. Damn!

Aku ingin mengutuki kelas hari ini. Kelas penuh sesak oleh mereka yang hari biasa tak pernah bisa datang karena kesibukan kerja. AC yang mendinginkan ruangan dan membuat udara masih layak dihirup serasa menaikkan darahku saja karena kipas dan hembusan aginnya meniup-niup tepat ubun-ubun kepalaku. Juga kenapa Tabla harus berada di depan harmoniumnya. Ahh… Ta Tin Tin Ta! Satu ketukan jari telunjuk yang membentur lingkaran muka Tabla kecil sebelah kanan bertumbukan tak karuan hingga bisa ditebak bunyi menjadi tak ada indah-indahnya. Larik terakhir Teentaal tak juga tepat aku eja. Saat itu mata kami bertemu dan ku lihat pancaran mengundang disana. Aku cermati lebih lanjut. Kubuka telingaku dan ku aduk-aduk ingatanku akan nada tak tepat yang dengan bangga coba dia mainkan. “Bisa nyanyikan lagu ini?”, tanya mu. “Bagaimana ku tahu kalau menebak nada mu saja aku tak ada petunjuk sedikit pun”, gumanku di hati yang manyun. Hah! Sebentar…! “Maju tak gentar membela yang benar…”, dia mainkan nada lagu Halo Halo Bandung setengah jalan. “Tujuh belas Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita”, menyahut separuh lagu pertama hingga membuat medley tebak lagu dan siapa dia seperti di quiz era tahun 80an yang di pandu oleh Kus Hendratmo.

Mata pucat abu-abu mu membesar dengan bangga saat beberapa pelajar mencoba mengikuti petikan harmoniumnya. Dha Dhin Dhin Dha. Ta Tin Tin Ta. Latihan teentaalku digantikan oleh heroisme nyanyian lagu-lagu kebangsaan. Sekali lagi tak satupun kami tahu bagaimana membawakan lagu nasional dengan tuntas. Peserta senior tiba-tiba terjangkit penyakit melankolia. Selendang Sutra, Sepasang Mata Bola, Berpisah di Teras St. Carolus hingga Desember Kelabu, Haryati dan Mutiara dari Selatan begitu saja menyeruak dalam ingatan mereka. Tak lupa mendendangkan Nyiur Melambai sembari mengingat kejayaan satu-satunya televisi nasional sebelum televisi swasta menjamur seperti sekarang. Pelajar harmonia dari Australia kulihat terbengong sebentar untuk kemudian melanjutkan latihannya yang sekarang lebih ke pop kekinian dengan mencungkil tiga bait lagu Adele Set Fire to the Rain hingga Jar of Heart Christina Perri.

Dha Dhin Dhin Dha. Hatiku dipenuhi tawa lepas menyaksikan eforia orang-orang yang bisa melepas tawa ironis tak berhasil mengingat lagu kebangsaanya. Kelas sudah usai lama. Guru pun sudah pulang setelah tradisi makan siang bersama dengan murid-muridnya ditiap usai latihan berakhir tengah hari tadi. Jarum jam menunjukkan angka tiga lewat. Pusat kebudayaan tempat kami belajar juga sudah sepi ditinggalkan orang. Tak lagi terdengar musik dari kelas menari disebelah atau suara riang anak-anak. Tinggal kami berempat tersisa. Dua orang sedang bicara mengenai perjalanan kesadaran spiritual masing-masing. Aku dan kamu mencoba mengibukkan diri dengan alat musik kami masing-masing.

Kaki panjang mu masih berada di depan ku. Bergerak-gerak menjengkelkan sekaligus tak mudah untuk tidak diperhatikan. Balada mengambil kelas budaya di pusat kebudayaan negara asing dengan pelajar multi negara adalah kebahagian tabrakan kelucuan dan kejutan tiap saat. Interpretasi gagap komunikasi, tradisi dan beban-beban sosial yang dibawa masing-masing orang. Bukan percampuran hanya kerendah hatian untuk menerima dan mencoba saling memahami. Ya meskipun yang sesungguhnya adalah pemakluman dengan pilihan kembali kepada individu sendiri untuk seberapa dalam ingin memasuki ranah baru budaya lainnya. Sepertinnya aku ingin meloncati Teentaal untuk mencoba membunyikan Kayda. Dha Dha Tu Na. Ta Ta Ti Te. Empat larik, enam belas beats dasar Tabla yang membuatku mengerutkan dahi untuk mencoba membedakannya dengan Teentaal sebelumnya.  (Jakarta, 17 Nopember 2014)

PS. Tidak memiliki hak cipta terhadap gambar Tabla yang digunakan disini. Gambar diambil dari internet. 

Setangkai Semanggi

images-semanggi“Hi, Aku mau beritahukan sesuatu!” Dia berhenti berdansa dan meninggalkan suara musik jazz di salah satu panggung Festival International de Jazz de Montreal menjadi sayup. Aku condongkan sedikit telingaku ke arahnya. Kerumunan massa penikmat jazz menenggelamkan suaranya hingga tak tertangkap maknanya olehku. Aku menarik mukaku dan memandang lekat wajahnya di keremangan lampu festival. Tangannya menunjuk ke pergelangan kaki kanannya. “Aku memakainya supaya tidak hilang dan akan terus dekat denganku”. Sesaat aku terpana sebelum menemukan canda untuk menyembunyikan getar bahagia dihatiku. “Oh… itu penghinaan! Memakainya dipergelangan kaki yang jauh dari hatimu bukanlah penghormatan untukku”. Kulihat matanya membesar tak percaya sebelum dia tertawa setelah melihat kerlingan mataku.

Kertas berwarna pucat gading digulung dengan tali hitam berhias kelopak bunga semanggi terbuat dari batok kelapa kuletakkan di kotak suratnya beberapa hari lalu. Berhari-hari surat itu belum juga sampai padanya. Hatiku mulai diliputi cemas karena commencement yang berarti waktu perpisahan akan segera tiba. Tak ada yang istimewa dari kata yang tertulis di dalamnya. Hanya penanda akan makna yang harus kami eja di hampir satu purnama kebersamaan yang minim kata. Tak juga aku ingin menjembatani bentang saling bertukar pandang yang membuat kita seringkali saling tertunduk. Hanya serpihan kata yang ingin menyampaikan hal yang memang harus dipendam dengan tanpa mengkaitkan sedikitpun pada pilihan kata yang digunakan untuk menulis surat untuknya.

“Hi, aku sangat suka suratmu”, suaranya berbisik dan dengan canggung tangannya menyentuh pundakku siang tadi di acara perpisahan. Aku melontarkan seulas senyum yang tenggelam bersamaan dengan datangnya gulita di Agora, aula serba guna di kampus John Abbot College. Ruangan tempat wisuda kini diterangi temaran cahaya lilin dari seratusan orang yang sedang melaksanakan refleksi dan doa bersama untuk perdamaian dunia. Keheningan terasa menggigit di antara kami yang berdiri berdampingan dengan hanya dipisahkan oleh sejengkal ruang hampa di antara kedua lengan kami. “Ketenanganmu ibarat pengingat tuk membawa kacau pikirku kembali ke titik kesetimbangan”. Penggalan kata dalam suratku kini terus terngiang di hatiku. Aku caba khidmat mendengar doa pengharapan khusuk menggema dipenjuru ruangan. Tetapi, suasana magis dan tenang itu berbanding terbalik dengan relung hati kami yang disesaki oleh berisik dialog tak terucap yang kata-katanya berdentuman menghantam dinding-dinding hati kami berdua. Dig Dug!

Hari-hari antara kami adalah bertukar anggukan kecil dan senyum melalui kaca saat aku menyusuri selasar dan dia berjalan melintasi rerumputan di depan gedung Hezberg, gedung pusat kampus. Dia akan tiba dipintu masuk Casgrain Center dan aku berbelok kekanan disamping Agora. Saat itulah pandangan kami akan saling bertemu. Mata coklat sayumu akan terbawa disepanjang hariku. Sering aku terpaku menatap jajaran buku bacaan musim panas di lemari kaca lorong penuh loker mahasiswa hanya untuk mendiamkan hatiku sebelum memasuki kelas. Mengingatkan pikir rasionalku akan kalkulasi perilaku dan pemikiran yang mesti setia dan awas dibenakku. Seringkali kita dipertemukan di kafetaria. Duduk tenang bersebelahan, hanya bertukar sapa dan senyum sekedarnya, sebelum kita diam dan menenggelamkan diri mendengarkan canda dan percakapan makan siang empat atau lima teman satu meja lainnya. Kesempatan yang memungkinkan kita bertukar gagasan bermunculan dari menikmati mentari musim panas, diskusi hingga pesta bersama kawan. Yang ada kita membentengi diri meski tak kuasa untuk tak saling mencari beradaan dan mencuri pandang dikejauhan atau saat berhadapan.

Malam ini, di enam jam sisa waktu kita, di tengah lautan manusia di festival musik jazz bisa jadi adalah kedekatan kita yang paling istimewa. Tali gelang bunga semanggi menjadi penghubung yang membuka kekakuan di antara kita. Canda yang lepas, sekat hati yang terbebaskan dan membuka berbagi hal yang selama ini kita pertahankan untuk berjarak. Detik yang berjalan menuju akhir pertemuan tak membuat kita tahu lebih banyak siapa aku dan dia. Juga bukan untuk mengutuki kegaguan dan tembok kaca yang kita dirikan di antara kita.

Kami sedang merangkum pertemuan, keberjarakan dan kebersamaan kami dalam batang masa yang mendekati akhir. Dalam kebisuan kami sepakat untuk mengukir sepenggal suvenir kehidupan untuk kita sematkan di pojok ruang memori kami. Memberi arti seseorang yang ditakdirkan untuk kita temui dalam sebuah perjalanan tapi tak berani kita terima sebagai takdir kehidupan. Tak juga kita gegabah menyebutnya sebagai pertaruhan karena biarpun ruang dan masa bertepatan hanya saja kita, aku dan dia, bukan seorang teruntuk satu dan lainnya.

Sekembalinya dari festival pagi telah menjelang. Bulan cemerlang di langit redup Sainte Anne De Bellevue, Montreal. Sinarnya menyeruak di sela ranting dedaunan di rindang pepohonan Maple, butiran embun berat menggelayut di basah rerumputan dan kerling perak danau St. Lawrence melengkapi fragmen cerita yang segera menemui puncaknya. Sesak menggayuti dada kami. Langkah enggan mengayun. Gedung kolonial merah bata John Abbot College terasa angkuh menjulang. Tiba-tiba jajaran selusin anak tangga memanjang menjadi seribu buah karena kita mendakinya dengan sangat perlahan. Seakan dengan memperkecil langkah akan bisa mengulur waktu perpisahan. Namun, sang waktu yang memang tak pernah mampu kita genggam tengah mengulurkan jemarinya. Saatnya telah tiba untuk mengucapkan selamat tinggal.

Berdiri bersisihan dalam diam. Memandang teman saling mengucapkan pesan perpisahan dan janji untuk bersua dilain kesempatan meski tak tahu entah kapan. Kami masih setia menghidupi paradok bersama dalam keterpisahan. Memilin makna dan menguburnya di palung hati masing-masing untuk banyak hal yang tak pernah terucap. Tarikan nafas mu berat dan dalam. Bulu kudukku meremang. Meski kita sama-sama menatap ke depan, mata hati kita saling berpandangan. Kita bercakap dalam batin yang tiba-tiba memerih oleh kesadaran. Kita harus tetap menghidupi kewarasan. Memegang kendali realita agar tidak ditarik pada pusaran yang barangkali hanya perasaan sesaat. Kesadaran bahwa esok hari kita akan terjaga dan menghidupi kenyataan hidup di belahan dunia yang berbeda.

Seperti memang sudah gilirannya tiba. Kau tarik lembut tanganku dan memelukku dengan erat. Sesaat, paradok berjarak dalam kebersamaan melebur dalam satu nuansa. Pertama dan barangkali untuk terakhir kalinya kita ‘bersama’. Tak perlu kata untuk menyuarakan segalanya karena memang lagi diperlukan kata-kata. Mata coklat mu tersaput mendung dan memerihkan hatiku. Satu-satunya kata yang kudengar adalah “take care”. Terucap dari hati seperti makna empat kelopak semanggi. Menyematkan doa pada alam untuk harapan, cinta, keyakinan dan keselamatan. Ini bukan mimpi karena saat kusaksikan mentari terbit pagi ini ada perih yang mengalirkan air mata. (T.Agung, 25 Juli 2014, Jum’at)

NB. Saya tidak punya copy rights untuk gambar yang disertakan dalam tulisan ini, gambar dipinjam dari internet. 

Lelaki Kecilku

faiz2Mengenang kelahiranmu adalah meniti kembali ingatan romantis sebagai seorang ibu. Saat itu purnama terang menyinari langit kota tenang di kaki gunung Slamet. Dini hari jam tiga pagi membelah dingin kota berkendara motor mengantarkan kelahiranmu. Sendirian, kita tinggalkan saudara perempuanmu yang sedang demam di tempat tante di kosan. Kau hadir dalam hitungan jam dengan kelegaan yang nyaris kupertanyakan kenapa sakit saat kelahiranmu hanya tipis dan sebentar saja.

Ku syukuri dengan tanya kebahagiaan. Kita memiliki momen itu anakku. Waktu yang hanya untuk mu dan untukku, untuk kita. Kudekap kau laksana harapan membara dengan mata menatap ke depan “semuanya bisa kita lalui”. Saat kelahiranmu kita sendirian. Kini enam kali ulang tahunmu kita lewatkan dalam keterpisahan. Kita telan tangis dalam jarak yang dibentangkan oleh kehidupan yang terkadang tak sepenuhnya bisa kita terjemahkan.

Semalam, kita bercanda tentang sebuah perayaan ulang tahun. Kita angankan sebuah kue berhias lilin kecil untuk pesta kejutan. “Itu lho Bu… pasti seru kalau ada kertas kecil kuning emas dan perak berhamburan. Mereka dijejalkan di banyak balon yang ditiup besar-besar untuk nanti dipecahkan”. Kita telan kepahitan dalam tawa kita yang tak direkayasa. Kunyanyikan lagu ulang tahun untukmu satu hari lebih awal dengan pelupuk menggantung air mata. Saat hidup tercuri kita belajar untuk menikmati tiap momen yang kita punya, tiap helaan nafasnya. Lagu untukmu tak diakhiri dengan tepuk tangan atau pelukan. Selalu terselip getir ketakpastian untuk sekedar bertukar kata membuat setiap kesempatan, sekecil apapun, memuat berjuta pesan tertahan yang tak pernah tuntas kita sampaikan.

Kita belajar untuk menerima. Meskipun perpisahan dengan mereka yang kita genggam sebagai kehidupan tak akan pernah mampu mencapai taraf ‘biasa’. Tiap saat adalah luka yang kita tiupkan pengharapan untuk mengurangi rasa pedihnya. Tiap celah adalah pendar kehidupan yang kita serap sebagai nyawa untuk kita terus melangkah. Doa tak lagi sebuah kata tapi adalah setiap langkah penjiwaan kita memaknai arti keterpisahan dalam kebersamaan abadi. Karena kita tak hanya pernah dalam satu tubuh, berbagi aliran darah tapi kita adalah hidup yang saling mengisi dalam keberadaan abadi.

Semua jalan yang telah kita lalui adalah pengayaan batin yang tak sekedar untuk bertahan tapi memacu kita untuk terus melangkah ke depan. Tertatih kita membelah halangan dan memecahkan labirin kehidupan. Barangkali kita tidak berjalan di satu jalur yang sama. Dihentikan oleh teka-teki persoalan kita masing-masing di tengah perjalanan. Belajar dan menarik kesimpulan berbeda dari tiap hal disodorkan ke kita. Tetapi, keyakinan bahwa kita akan saling menemukan di rumah jiwa yang kita bangun bersama tak akan pernah surut sekejappun.

Langkah-langkah kecil kita dihidupi oleh obor semangat yang sering, setiap saat, nyalanya meredup dan nyaris padam. Tembok kehidupan menawarkan berjuta interpretasi makna yang tak selalu tertangkap oleh kebingungan kita. Kita terus melangkah menggapai asa perjumpaan dan impian akan terang bahagia ditiap akhir kegundahan. Apapun rasa dan gugatan tanya kita pada kehidupan selalu saja menawarkan pilihan untuk kita bagaimana dan seperti apa kita bersikap pada kehidupan. Semoga kita senantiasa bisa tumbuh dan menghidupi kehidupan sebagai pembelajar untuk menuju ‘aku’ dan ‘kita’ yang lebih baik. Meskipun, tak jarang kita ingin lari dari semuanya; menyerah dan mengutuki segala hal yang terasa tidak pernah berapa di tempat yang semestinya. Tak apa Nak… kita tak perlu kehilangan sisi manusia kita untuk marah, bertanya, tak puas, atau sedih hanya karena kita ingin selalu belajar memeram untuk mengeluarkan yang terbaik dari apa yang terjadi dengan kita. Selamat ulang tahun lelaki kecilku. Kali ini bukan sebuah lagu tapi melodi yang memang tak pernah henti mengalun ditiap deru aliran darahku. Jakarta, 22 April 2014faiz

Deburan Ombak di Puncak Grand Canyon

Image

South Rim Grand Canyon

Perjalanan ke Grand Canyon rasanya pantas disebut petualangan. Kami berkendara mobil selama hampir 4,5 jam dengan jarak tempuh Las Vegas – South Village Grand Canyon sejauh 277 mil atau 445 kilometer. Saat mobil kami meninggalkan South Las Vegas Boulevard jam 10 pagi matahari bersinar terang dan hangat. Suhu berkisar antara 57˚F atau 13˚C. Meskipun saat ini musim dingin dan sebagian orang di wilayah Pantai Timur (East Coast) seperti Boston dan Chicago di Midwest sedang menggigil di suhu minus 39˚C, Las Vegas jauh lebih hangat karena terlindungi oleh iklim gurunnya. Daerah ini hampir tak pernah bersalju di musim dingin.

Keluar dari pusat kota (downtown) kami melintasi wilayah pinggiran Las Vegas dan pemukiman penduduk di Negara bagian Nevada yang sudah tentu tidak segemerlap dan semewah The Strip. Barangkali karena ketersedian lahan yang luas kebanyakan model perumahan penduduk di Nevada adalah hunian horizontal untuk keluarga tunggal. Hal itu serasa berbeda dengan Boston yang kebanyakan penduduknya menempati hunian vertikal seperti apartemen maupun town house atau satu bangunan dengan beberapa keluarga. Segera setelah melewati perbatasan kota, di sepanjang perjalanan kami hanya melihat gurun dan pegunungan batu yang gersang dan berangin kencang. Batu-batu kerikil  tak jarang terdengar memukul kaca depan mobil. Belum terlampau jauh melampaui perbatasan kota, kami masih menemui satu atau dua hotel dan kasino. Juga beberapa tempat perhentian bagi para pengendara mobil atau turis yang ingin berfoto atau rehat sejenak untuk mengagumi keindahan alam.

Image

Pemandangan di sepanjang perjalanan dari Las Vegas ke Grand Canyon

Setengah sampai satu jam pertama kameraku tak henti mencoba mengabadikan pemandangan alam di kanan kiri jalan. Hingga akhirnya aku melihat semua gambar hasilnya sama saja; pegunungan kering, tandus, berwarna hitam keabu-abuan dengan terkadang tertupi tumbuhan perdu pendek berdaun hijau tua. Jalanan yang lurus besar berkelok-kelok di depan yang awalnya mengagumkan menjadi sangat monoton. Rombongan para pengendara sepeda motor, mobil rumah berjalan (RV/Recreational Vehicle) dan anjing yang menikmati matahari dan segarnya tiupan angin di mobil bak terbuka tuannya menjadi hiburan kami. Hingga, kalau ada diantara kami yang ingin menunjukkan pemandangan yang dipikir luar biasa harus menginformasikannya dengan lengkap seperti, “Endri lihat ada batu cadas besar di sebelah kanan?” Ya, yang benar saja karena di kanan kiri semuanya batu cadas besar. Dinding-dinding kokoh alam yang kering dan kaku tersebut membuat perjalanan terasa cepat sekali membosankan. Meskipun ukurannya yang serba masif membuat kita tak bisa mengabaikan untuk tak derdecak kagum disepanjang perjalanan.

Kami singgah disebuah kota kecil yang kami lewati untuk mengisi bensin, membeli persediaan air minum, camilan dan ,tentu saja, tak ketinggalan berburu kartu pos. Kartu pos Hoover Dam Nevada (Bendungan Air Hoover) bercerita dari mana sumber air yang berlimpah di kota Las Vegas itu berasal. Diperbatasan antara Nevada dan Arizona kami melewati Danau Mead (Lake Mead) waduk air terbesar di Amerika berdasarkan volumenya. Setelah melewati danau Mead jalanan naik, turun dan berkelok. Alur jalanan terlihat memanjang hingga hilang di horizon. Langit biru memayungi padang pasir dan pegunungan di bawahnya.

Perjalanan kali ini kami berlaku seperti turis era-80an yang dipenuhi dengan segala rasa ingin tahu dan siap untuk menyambut setiap petualangan yang datang menghampiri. Kami mencoba untuk tak mengandalkan internet untuk memuaskan rasa keiningtahuan kami. Kami hanya tahu Grand Canyon sebagai key word untuk dimasukkan ke GPS (Global Positioning System) di telpon pintar kami. Sinyal telpon dan internet yang datang dan pergi sepanjang perjalanan sebenarnya lumayan membuat kami kawatir juga. Alih-alih mencari di mesin pencari google kami memutuskan untuk bertanya pada penduduk sekitar tentang bagian Grand Canyon mana yang mereka rekomendasikan untuk kami kunjungi. Juga kami berinisiatif untuk menelpon teman yang pernah berkunjung ke Grand Canyon. Penjaga CVS Farmasi mengatakan alasan menyarankan tempat itu karena mudah dijangkau dan pemandangan terindah yang disajikan film-film Hollywood adalah bagian itu. Akhirnya dapatlah kami tambahan kata kunci “South Village Grand Canyon” yang kami amini untuk menuntun arah mobil kami.

Image

Titik pandang Grand Canyon dari South Rim dan Yavapai Point

Akhirnya kami sampai di Grand Canyon kurang lebih jam 4.30 sore. Bagi turis mandiri seperti kami yang memilih menyewa mobil dan tidak mengikuti paket pariwisata apapun tidak ada kesulitan berarti. Banyak tempat seperti National Geography dan toko atau rumah makan yang dengan senang hati menunjukkan jalan dan memberikan peta atau petunjuk bagaimana menuju Grand Canyon. Kami berhenti di Tuyasan sebuah toko makanan dan suvenir, perempuan penjaga toko dengan ramah menjelaskan jalan ke Grand Canyon. Bagi pengunjung dengan menggunakan kendaraan umum, bila datang dari Las Vegas, pengalaman seorang teman, ada paket bis wisata yang berangkat pagi dan pulang sore hari. Jika ingin berkeliling sekitar Taman Nasional Grand Canyon juga ada bis keliling gratis. Bis rute biru (Blue Line) yang membawa penumpang keberbagai fasilitas umum seperti penginapan, rumah makan dan bumi perkemahan. Bis rute oranye (Orange Line) melayani rute keberbagai titik pandang dan atraksi wisata di Grand Canyon. Jadwal bis tersebut antara 15 hingga 30 menit.

Pemandangan mendekati Grand Canyon terasa mulai berbeda. Pepohonan lebih banyak dan terlihat sisa-sisa salju badai Hercules seminggu yang lalu. Udarapun mulai terasa dingin. Selain mengejar matahari tenggelam kami berjanji akan membuat ekspresi wajah kagum dan terkejut luar biasa jika telah sampai di ngarai tebing di utara Arizona tersebut. Kami akan meletakkan kesepuluh jemari kami di depan mulut, mata melotot dan akan meminta orang untuk mengabadikan fose gila kami dengan latar belakang tebing raksasa itu. Apakah benar salah satu tempat yang ditetapkan sebagai keajaiban dunia tersebut sedasyat yang kami dengar?

GC3

Grand Canyon dan Sungai Colorado yang mengalir di bawahnya

South Rim-Heart of the Canyon adalah titik awal kami mengagumi bentangan tebing merah sepanjang 446 km dengan lebar mulai 6 sampai 29 km dengan kedalaman lebih dari 1.600 meter. Tebing yang melengkung seperti mangkok raksasa dengan sungai Colorado berkelok jauh dibawahnya menghadirkan sensasi kekaguman yang luar biasa akan kebesaran Tuhan. Sungai Colorado yang mengalir sepanjang 1.400 miles atau 2.250km tersebutlah yang telah mengukir Grand Canyon selama 5-6 juta tahun. Walaupun matahari tak terlihat tapi perubahan warna karena cahaya keemasannya yang memantul di dinding tebing yang maha luas membuat suasana magis dan mencengangkan. Udara dingin dan angin puncak Grand Canyon membawa gigil ke para penunjung. Selain menyusuri jalan dengan pagar pembatas, pengunjung bisa lebih dekat lagi ke tebing dengan memasuki terowongan atau jalan yang disediakan untuk mereka bisa lebih ke bawah lagi.

DSC_0162

Jalan menuju South Village Grand Canyon

Puas menyusuri South Rim trail kami melanjutkan melihat keindahan Grand Canyon dari Yavapai point. Kami pergi ke Grandview Point, sebuah bangunan kaca di atas tebing untuk bisa melihat perubahan warna saat matahari tenggelam atau terbit. Didalam ruangan tersebut juga ada diorama proses terjadinya Grand Canyon baik South maupun North Rim. Juga kita bisa menyentuh beragam contoh bebatuan yang berasal dari Canyon. Grand View Point selalu tutup 15 menit setelah matahari tenggelam saat musim dingin.

Yavapai point menyajikan tampakan alam yang lebih luas. Saat itu matahari tinggal segaris titik menyala dibiru pekat kehitaman bagian barat Grand Canyon. Pemandangan masih menakjubkan tapi tak lagi maksimal. Latar belakang alam yang akan segera tertelan malam dengan pendaran nyala lampu dari rumah kaca Grandview Point membuat suasana disekitar Yavapai point begitu kontras dan dramatis. Keluar dari pintu lain Grandview Point kami mendengar deburan ombak yang sangat keras dikejauhan. Kami menyusuri jalan setapak dengan tak melewatkan sesi foto disepanjang jalan menuju arah datangnya suara. Apakah titik ini berdekatan dengan laut? Bagaimana mungkin diketinggian gunung ada lautan? Tentu saja kami keliru karena suara deburan ombak tersebut diciptakan oleh tiupan angina yang membentur dinding-dinding jurang yang terjal. Sebenarnya banyak titik lain yang direkomendasikan oleh tabloid dan peta panduan “What to do at the Grand Canyon South Rim” seperti Mather Point, Hopi Point, Bright Angel Trail tapi sayangnya malam telah benar-benar turun hingga kami harus puas dengan dua titik yang kami kunjungi hari ini. Kami berjanji akan kembali lagi ke wilayah yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pertama oleh Presiden Amerika Serikat ke 26 Theodore Roosevelt tahun 1908 ini dilain kesempatan. Sebelum mininggalkan Yavapoint diiringi suara “deburan” ombak dan sisa cahaya jingga kemerahan matahari terbenam kami tak lupa membuat pose takjub akan kedasyatan jurang merah ini seperti yang kami janjikan.

Perjalanan kembali ke Vegas terasa lebih menegangkan. Malam melewati gurun dan pegunungan cadas dengan hanya diterangi lampu-lampu mobil yang sangat jarang berpapasan atau satu perjalan dengan kami, membuat kami sering bertukar pandang karena menyimpan kekawatiran. Kami mencoba menghidupkan suasana dengan membuat berbagai permainan yang tentu saja kami cepat kehabisan ide. Okay, sepertinya tangki bensin harus dipenuhi meskipun harga bensin sekitar situ mahalnya minta ampun. Empat jam menembus pekat, rasa lega tak terkira saat dikejauhan kami melihat pendaran warna keemasan dilangit Vegas. Dalam sehari ini kami berada di dua kutub dunia yang ektrim; alam yang menghidupkan takjub dan imajinasi dan kota cahaya yang dihidupkan oleh imajinasi manusia. (Treasure Islands, Las Vegas, 12 Januari 2014)

Image

 Image

Vegas Kota Fantasi

Image

“What happens in Vegas stays in Vegas” 

Tagline yang sangat terkenal berkaitan dengan Sin City, Vegas. Semua hal tentang Vegas selalu dikaitkan dengan kebebasan; bebas untuk makan, melihat, berbuat dan menjadi apa saja yang berbeda dari diri kita dikehidupan keseharian. Vegas dianggap menawarkan berbagai kenikmatan dunia tanpa batas pelacuran, perjudian dan kehidupan malam. Kegilaan “Apa yang terjadi di Vegas biarlah tinggal di Vegas” menginspirasi dan coba digambarkan dalam berbagai film hollywood seperti film dengan judul sama persis dengan tagline tersebut yang dibintangin oleh Cameron Diaz dan Aston Kucher, Hangover, dan masih banyak lagi.

Banyangan itulah yang kurang lebih ada dibenakku sebelum berangkat ke Vegas. Musim dingin Januari 2014 ini aku berkesempatan untuk menikmati kota yang disebut “the real Amerika” kata seorang teman asli sana. Penerbangan 7 jam dari Boston ke Vegas dengan terlebih dulu transit di Atlanta terbayar bahkan sebelum pesawat mendarat di bandara internasional McCarrran, Nevada.

Vegas adalah kota berpenduduk terpadat di negara bagian Nevada, Amerika dan salah satu tujuan pariwisata ternama di dunia. Setengah jam sebelum pendaratan banyak orang yang mengatakan bahwa pemandangan di bawah sangat menakjubkan. Gunung batu dan padang pasir yang maha luas terhampar di bawah akan membuat decak kagum. Kapten pesawatpun menginformasikan ke penumpang hal-hal yang dianggap atraksi alam yang menarik. Sayangnya, tempat duduk kami di sayap kanan pesawat membuat kami tak beruntung untuk menyaksikan keajaiban alam tersebut. Hamparan gelap pekat dan sedikit warna memerah garang matahari tenggalam adalah hal yang kami lihat.

Hingga 15 menit sebelum mendarat mata kami tertuju sekumpulan besar tebaran bintang nun jauh disana. Pesawat seperti mengarah ke galaksi “bima sakti atau milky way”. Berpuluh kali melakukan pendaratan di malam hari baru kali ini aku melihat tebaran lampu yang memancar sangat terang hingga langit diatasnya pun memendar dengan warna keamasan. Welcome to Vegas!

Pemandangan Vegas dari udara

Casino, tanda arah ke toko penjual minuman keras dan billboard besar berbagai acara pertunjukan  adalah hal pertama yang membuat suasana bandara McCarran berbeda dari bandara manapun yang pernah ku datangi.

Las Vegas Strip

The Strip adalah pusat utama kota hiburan tersebut. Orang membayangkan Vegas hanyalah casino. Memang sejak tahun 1931 sejak judi dilegalkan pertumbuhan hotel dan casino sangat pesat di Vegas. Akan tetapi Vegas tidak hanya resort, hotel dan casino yang memadati sepanjang the Strip.

Vegas adalah kota fantasi yang menawarkan orang untuk hidup dalam dunia dongengnya sendiri. Setiap detail bagian kota adalah atraksi. The Strip adalah kota dengan arsitektur fantasi landmark dunia. Seantero kota dipenuhi oleh hotel dan kasino menawarkan keunikan tema beraksitektur seperti piramida Mesir, menara Eiffel Paris, patung Liberty New York, Excalibur Raja Arthur Inggris, Caesar Palace Yunani dan lainnya. Kita seperti dibawa ke dunia 1001 malam dengan lampu-lampu, design interior dan atraksi yang sesuai dengan tema pilihan masing-masing. Juga untuk kesatu tempat ke tempat lainnya sangat mudah karena masing-masing tempat terhubung dengan jembatan penghubung atau penyeberangan berekskalator.

Image
Apakah Vegas hanya hotel dan kasino? Kota yang hanya memiliki penghijauan vegatasi gurun dan patung besi binatang merumput disetiap sudut kota ini ternyata memiliki banyak hal lainnya. Panggung hiburan kelas dunia dari musik, sirkus hingga komedi bertebaran tentunya tak asing lagi. Cirque du Soleil, hiburan yang menggabungkan sirkus dan seni jalanan, sangat terkenal disini. Di the Strip tak jarang kita bisa melihat seniman jalanan menunjukkan kebolehannya lengkap dengan berbagai kostum uniknya. Seperti, aku mengira sedang mengagumi patung orang berkostum warna peach, bertopi dan wajah dicat warna senada duduk di udara.  Hingga aku melihat dia bergerak untuk meluruskan punggungnya sebelum kembali ke posisi semula. Tiba-tiba air ditelaga depan hotel Bellagio tersembur ke atas, meliuk-liuk mengikuti lagu “ time to say goodbye”. Rupanya atraksi dancing water fountains yang diiringi oleh musik akan berlangsung. Pengunjung, pejalan kaki dan orang dari gedung-gedung lain bisa menikmati tarian air di kolam besar the Fountain of Bellagio dengan jadwal-jadwal tertentu tiap hari baik siang maupun malam. Tidak hanya yang ada disepanjang the Strip,Vegas juga punya banyak daftar tempat rekreasi keluarga seperti museum, kebun binatang dan taman kota yang cukup terkenal lainnya. Aku juga berkesempatan untuk datang ke pameran Jeff Mitchum, seorang designer dan landscape photographer, untuk mengagumi kejelian bidikan lensanya terhadap keindahan alam.
Atraksi Air Menari di the Fountains of Bellagio, Hotel Bellagio, Vegas
Hotel Excalibur
Mengunjungi Vegas bagiku seperti melihat apa yang disebut kenormalan sebagai hal yang berbeda. Melihat hal yang dimasyarakat lain bukan sebagai kelaziman menjadi hal yang “normal” dan biasa saja disini seperti segala bentuk permainan taruhan dan perjudian baik dilakukan oleh orang maupun mesin, minuman beralkohol yang disediakan dan diantarkan oleh pelayan secara gratis hingga toko-toko untuk orang dewasa. Ternyata itu hanya sebagian dan yang paling sering aku dengar. Makanya, seperti tak percaya saat melihat anak-anak, manula, dan keluarga berjalan santai ditengah-tengah hiruk pikuk the Strip dan permainan di resort Las Vegas karena memang banyak hal lain yang bisa dilihat dan dinikmati.
Jutaan tons watts lampu membuat tiap orang seakan terlempar dari dunia realita di gemerlap malamnya Vegas. Saat siang hari suasana kota tak ada bedanya dengan kota-kota lain di Amerika. Hanya saat melihat gunung cadas merah dan hamparan gurun pasir dibalik gedung-gedung indah Las Vegas menyadarkan aku bahwa kota ini seperti sebuah titik kecil di gurun pasir. Vegas yang katanya menawarkan “surga dunia” bagi pengunjungnya tapi bagiku pergi ke Vegas adalah menghidupi mimpi yang (barangkali juga) dipunyai banyak orang untuk melihat sisi lain budaya dan kehidupan masyarakat lain yang berbeda dan menikmati tidak terbatasnya daya imaginasi dan kreatifitas manusia. Jadi, aku tidak ingin membiarkan pengalamanku di Vegas seharusnya biarlah tersimpan di Vegas karena itu aku berbagi catatan kecil ini. (Jkt, 22/1/2014)
Festival rangkaian bunga di Hotel Wynn, Vegas
Festival rangkaian bunga di Hotel Wynn, Vegas
"Leo the Lion" mascot dari MGM Resort International

Komunitas IIDN: Trendsetter Ibu-Ibu Gaul

Senyum Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN)

Awalnya kata

Sore itu Waltham diselimuti oleh salju yang lumayan tebal. Aku telah beberapa hari kembali menginjakkan kakiku di Negeri Paman Sam setelah setengah tahun pulang ke tanah air. Rupanya tubuhku memerlukan waktu beradaptasi gigilnya udara musim dingin lebih lama dari yang aku kira. Itu membuatku malas keluar untuk beraktivitas atau bertemu teman-teman. Seharian waktuku kuhabiskan untuk membaca, menikmati saluran Youtube yang lancar dan ber-facebook ria.

Tak banyak update di newsfeed facebook ku. Jam-jam seperti ini bisa dimengerti kalau jarang yang online karena ini adalah jamnya orang tidur di Indonesia. Perbedaan waktu 12 jam antara Boston dengan Jakarta membuat kami hidup dalam dunia yang berkebalikan. Sore disini adalah dini hari di tanah air. Kulihat berderet postingan baru dari nama akun yang sama. Ternyata masih ada juga orang terjaga. Status-statusnya sudah layaknya note saja. Panjang dan menceritakan satu tema atau kejadian dengan detail. Aku berpikir kenapa dia tidak menjadikannya sebagai tulisan utuh saja dan menaruhnya di blog atau note. Kurasa itu akan membuat idenya lebih tertata dan bisa dinikmati orang lebih lama. Status di facebook seperti selalu mengikuti prinsip aliran air. Dia akan berganti setiap saat. Cara penulisan ide panjang di status facebook juga sayang, menurutku, karena merepotkan bagi orang yang ingin tuntas membacanya harus  mengklik “readmore” untuk membaca keseluruhan postingannya. Padahal dia boleh dikata sangat artikulatif dalam menyampaikan idenya.

Aku tergoda untuk lebih tahu tentang pemilik akun tersebut. Aku tidak yakin pernah mengenalnya secara langsung di dunia nyata. Juga aku tidak ingat hal apa yang membuatku berteman dengannya di sosial media. Aku mendapati diriku lebih banyak menemukan pertanyaan daripada jawaban setelah menyusuri dinding facebooknya dan memperoleh informasi dari pemilik status-status panjang ini. Okay, dia punya blog dan ternyata seorang penulis yang produktif. Baiklah, dari photo dan banyak postingannya dia ternyata super sibuk. Hmmm ditambah lagi dia adalah orang tua tunggal dengan tiga putra dan yang satunya masih balita. Dengan sederet data dari penelusuranku, bagaimana dia bisa mengatur waktunya hingga hampir setiap menit aku mendapati postingan barunya di newsfeed beranda Facebook ku.

Saat ini dini hari di Indonesia dan dia masih saja online. Akhirnya kuputuskan untuk mengiriminya surat di inbox.

Dear Mbak Lygia,

Kayaknya menulis email ke Mbak sudah menjadi keharusan nih. Karena terus terang sudah “gerah” banget baca tulisan dan posting status-status Mbak Lygia di Fb. Statusnya yang seringkali sangat panjang selau saja bermunculan di newsfeed halaman fbku. Sudah berkali-kali aku ingin menulis email atau posting di wallnya Mbak Lygia tapi entah kenapa selalu saja tidak jadi. Ini sudah sangat menjengkelkan karena biarpun status fb Mbak sudah bisa jadi satu cerpen selalu saja aku baca semuanya, membuat aku selalu ikut tertular virus semangat menulis dan untuk lebih peka dengan hal-hal kecil yang kurasakan dan terjadi disekitarku. Sorry Mbak benar-benar tulisan Mbak Lygia itu bikin gerah karena membuat ku selalu merasa kalah kenapa aku yang punya hobby nulis tidak bisa produktif. But anyway, What I gonna to say is keep your spirit and thank you so much for your many inspirational stories.

Love,

Endriani

Seperti yang kuduga bahwa dia masih terjaga. Tak sampai lima menit aku telah mendapatkan email balasan darinya.

Whuaaaaa, nah lho, kenapa bisa muncul di newsfeed ya? Ayooo, hidden! ahahaha, maaf kan maafkan kalau serbuan postingan saya akhirnya mengotori halaman beranda. Ayoo, hobi nulisnya disalurkan agar tersesat di jalan yang benar. Sudah gabung di IIDN kah? Salam kenal selalu! 

Seperti pantun berbalas kami saling menulis di inbox. Akhirnya dia mengirimkan link Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Kesan pertamaku adalah konotasi “doyan” yang sangat mengganggu. Memangnya tidak ada kata-kata yang lebih memberi kesan positif apa ya seperti “gemar”, “suka” , “hobi” atau lainnya yang lebih paralel dengan asosiasi makna “ibu” yang agung dan berwibawa. Aku tak berekspektasi banyak bahkan sedikit enggan untuk menelusuri link IIDN. Sebenarnya aku lebih banyak menghindari tergabung dalam group-group di sosial media. Penyebanya, aku paling malas mendapatkan tumpukan notifikasi aktivitas baru di group tapi ketika dicek ternyata hal yang sama sekali tidak penting.

Fun, beda dan berdaya 

Sekali lagi aku dikecewakan oleh pranata dan penilaian yang terlalu mengeneralisir yang telah aku buat sendiri. Aku dapati bahwa komunitas yang anggotanya rata-rata adalah ibu-ibu dan sangat bangga serta antusias mencantumkan identitasnya sebagai ibu rumah tangga ternyata lebih dari apa yang bisa dikatakan aktif dan bersemangat. Itu tergambar jelas dengan melihat arus postingan karya anggota IIDN, yang berjumlah hampir 7000an akun, bermunculan hampir tiap jam. Hal itu membuatku merinding. Aku merasakan limpahan energi luar biasa yang mengusung semangat fun, beda dan berdaya.

Kenapa arus produktivitas ibu-ibu yang menyalurkan kreativitasnya di group IIDN begitu menggetarkan hatiku? Karena aku tahu dan pernah merasakan bagaimana berjibaku diantara padat aktivitas mengurus anak, suami dan rumah tangga dan menangkap ide kreatif yang berloncatan dengan cepat di kepala. Kenyataan bahwa mereka berhasil mengikatkan ide dan inspirasi mereka dalam bentuk tulisan dan percaya diri membaginya kepada khalayak adalah prestasi luar biasa.

Singkat kata berkat Mbak Lygia, terhitung sejak tanggal 3 Maret 2013 aku resmi tergabung menjadi anggota IIDN. Ya, aku adalah pendatang baru di group ibu-ibu menulis ini. Biarpun aku cukup aktif menambah tulisan di dua rumah menulisku belum sekalipun aku membagi tulisanku. Satu-satunya postinganku di group adalah untuk menjawab ucapan selamat datang atas keanggotaannku. Meskipun begitu mengunjungi dinding group IIDN dan secara aktif membaca tulisan teman-teman anggota group kini selalu menjadi kegiatan utamaku ketika membuka Facebook. Tulisan-tulian inspiratif seperti puisi, cerita pendek, tip tentang anak, berbagi pengalaman perjalanan hingga tulisan motivasi yang telah dimuat dimajalah, buku ataupun seminar begitu banyak bertebaran sebagai ladang tempatku untuk menambah pengetahuan baru.

Akan tetapi, itu membuatku terserang oleh rasa rendah diri. Entah kenapa aku merasa genre tulisanku berbeda. “Memang iya?! Memang ada gaya, sudut penceritaan dan pemilihan kosa kata yang sama meskipun barangkali ide dan tema yang ditulis serupa”. Tentu saja aku berusaha untuk mengkritisi diriku sendiri karena berpikiran demikian. Hal itu, masih saja urung membuatku ‘berani’ untuk sekedar meramaikan group IIDN apalagi turut serta mendinamisasikannya. Akhirnya aku sadar itu hanya sebuah apologi karena sebenarnya aku memang  lebih suka menikmati tulisanku sendiri. Karena perasaan tulisanku belum ‘siap’ untuk dinikmati orang banyak membuatku lebih suka membiarkan blogku kesepian. Aku bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir aku membuat note di Facebook.

Seperti awal kata aku mengkontak Mbak Lygia hingga tergabung di forum ini, aku diliputi oleh perasaan jengkel dengan diriku sendiri karena lebih menjadi penikmat pasif tulisan orang lain daripada menggedor daya kreatif untuk melahirkan karya. Makanya aku menentukan target untuk membuat satu tulisan di hari ulang tahun IIDN. Itu akan menjadi sebuah ‘prasasti’ untuk aku berterimakasih bahwa keberadaan group ibu-ibu menulis ini telah begitu menginspirasi. Ketika kubaca ada lomba blog HUT IIDN tahun 2013 membuatku bertambah semangat untuk menulis. Tapi kemudian aku diserang kebingungan ketika sekali lagi aku perlu mentautkan tulisanku ke banyak link dan nama yang terus terang aku tidak mengerti sebagai kata kunci yang wajib dicantumkan. Selain Mbak Lygia Pecanduhujan (http://www.lygiapecanduhujan.com/) dan IIDN (http://www.iidn.org/) tentunya, ternyata aku harus menggali lebih dalam keanggotaan dan jejaring IIDN seperti Indscript Creative (www.indscriptcreative.com) dan Indari Mastuti (www.Indarimastuti.com). Sekali lagi kepenasaranku makin bertambah untuk lebih mengenal Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) beserta semua anggota-anggotanya dan juga lingkaran jejaring strategisnya. Bagaimanapun, aku senang di perayaan hari jadi IIDN yang ketiga ini aku bisa turut mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Semoga semakin banyak hati yang tersentuh dan terinspirasi oleh kiprahmu. Salam. (Jakarta, 31 Mei 2013)

Klik disini/di photo: Kartu Ultah IIDN

Screen shot 2013-05-31 at 10.52.14 PM

Oase: Khutbah di Atas Bukit

Tubuh di kereta api, berpindah tempat dalam diam. Gerak yang memindahkan tubuh tanpa perlu berjalan membuatku mempunyai waktu untuk membaca kembali dengan seksama Khotbah di Atas Bukitnya Kuntowijoyo. Buku cetakan tahun 1976 ini kutemukan diantara jajaran koleksi sastra klasik di perpustakaan pribadiku. Aku ingin kembali menuntaskannya. Barangkali aku merindukan Barman atau Human, atau masih penasaran dengan kediaman dan kepasrahan Popi. Tiga karakter utama cerita yang hidup dalam jalinan pencarian akan makna kesejatian hidup.

Ough! Pertanyaan-pertanyaan filosofis yang klise seperti “apa yang kau kerjakan, apakah kau bahagia, apa bahagia itu?” terasa begitu aneh di kepalaku. Bagaimana ketiga karakter utama tersebut ingin ‘mengosongkan’ hidupnya dari sejarah, masa depan dan pemikiran. Mereka mencoba menghidupi kehidupan yang dianggap sebagai pelepasan akan apa yang disebut sebagai penderitaan. Bagiku tak lebih dari melarikan diri dari persoalan. Terlebih ketika mereka memilih untuk mencapai “kebebasan” dengan menerjunkan diri ke jurang atau menenggelamkan diri di sungai bebatuan. Penutup cerita itu terasa paradoks dengan ungkapan bahwa manusia sibuk meningkatkan nilai hidup dan lupa bahwa hidup itu sendiri sudah sangat bernilai.

Aku masih bertanya; apa kira-kira relevansi novel ini dengan kehidupan manusia sekarang? Masih sanggupkah pembaca memperoleh pembelajaran setelah hampir empat dekade novel ini diciptakan. Jawabnya sangatlah subyektif. Bagiku sanggup menuntaskan novel 263 halaman itu sendiri adalah kemewahan. Rehat sejenak dari terombang-ambing lautan informasi yang terus berubah dalam hitungan perseribu detik. Membaca novel lawas ini  seperti menemukan oase di tengah goncangan kereta api yang memindahkan tubuh-tubuh manusia dalam kediaman.

Hanya menikmati pertanyaan-pertanyaan dasar filosofi hidup. Jujur selesai membaca novel ini tak membawaku pada perenungan lebih jauh. Tak terpikir tentang kesadaran atau melakukan pencarian perennial setelahnya. Hanya sedikit menemukan kembali oase untuk lari dari mengecek atau membalas email yang datang tanpa henti, atau keinginan untuk masyuk disosial media tiap saat. Tak perlu ‘mengadili’ si novel atau diri sendiri. Cukuplah kami berdamai pada satu hal bahwa tak perlu bersusah payah menambahkan nilai pada kehidupan karena hidup itu sendiri sudah bernilai. Jkt, 22/1/2013