Aku Mabuk

Aku mabuk Tuhan. Nuraniku tergoncang badai keindahan nan fana. Aku mabuk Tuhan. Bukan karena cinta Mu yang menjanjikan kekekalan. Juga tak oleh rahmat Mu yang bermandikan kesucian. Aku mabuk Tuhan. Hilang segala arah dan pegangan. Jiwaku senantiasa tegang, bulu kudukku setia meremang. Aku dibasuh kerinduan yang tak tertahankan. Ulurkan sibghoh Mu. Kembalikan kemurnian kelahiranku. Biarkan tangisku mampu mengguncang mayapada Mu. Biar jejak kakiku bisa menggetarkan penyangga langit Mu. Juga biarkan qolbu kembali suci agar sanggup mengunduh pundi-pundi doaku tuk mewujud di kedua telapak tangan. Aku mabuk Tuhan. Janganlah Kau berpaling sekarang.

Ulurkan tangan Mu. Tapak Mu akan ku jadikan pembasuh lukaku. Akan aku rebahkan kelambu ungu dukaku. Ulurkan tangan Mu. Diakah mozaik masa lalu yang kini menemukan titik waktunya? Ataukah hanya sekedar seluet di belakang kesempurnaan takdir Mu yang tak berada di waktu yang berkesesuaian? Aku Mabuk Tuhan. Ulurkan tangan Mu untuk membasuh gelisahku, menyeka dahagaku. (22/11/06)


Bijaklah

Duduk di tepian muara aku kehausan. Memandang air berlimpah lidahku tak kuasa tuk menelan.  Sekeranjang pertanyaan berbaris berjejal menggantung di sela bibirku. Komat-kamit jawab tak mampu mampir ketelingaku sebagai penyejuk dan penghilang tanyaku. Jangan-jangan hal yang tertolak dan mengendap sebagai amarah dalam jiwaku adalah kebenaran. Salah satu jawaban dari beribu wajah kedamaian yang sering menghilang.

Ada banyak budaya yang menjadi duri dalam penyebaran pemurnian yang sedang digandrungi. Ada keinginan untuk suci secara berlebih-lebihan. Tak bisakah menengok sejarah para wali? Akumulasi perjalanan tarikh mereka adalah rajutan hikmah yang luar biasa. Salami hati manusia dengan akar yang mereka punya. Bicaralah dengan bahasa mereka. Bernafaslah di udara mereka. Berjalanlah di tanah mereka. Bersujudlah di bumi, karena dibelahan manapun kiblat kau khidmatkan Tuhan akan bersemayam. Ya Kabir. Ya Jabar. Ya Kohar. Di duli-Mu aku kembali.

Lihatlah, aku tak mampu berpaling dari pedih hatiku. Jalan sejarah sedang direbut  dan dikerubuti kebatilan. Semarang, pesisir para khalifah menyisir takdir menyebarkan kalam, gerbangnya mulai runtuh. Tonggak berabad-abad kini mulai dibabat ketakpedulian para hamba Mu. Sejarah seperti di tulis di atas hamparan pasir. Sekejap sapuan ombak mengusir pahatan darah, air mata, dan tulus pengabdian para wali.

Bersorjan dan berbeskap Jawa adalah kamuflase eropanisme yang merasuk lewat celah budaya. Duh, saudara tidakkah mata kalian terbuka untuk membaca? Apa yang kalian buang dan singkirkan dari gerbang sejarah telah dipungut orang untuk ditumbuh suburkan. Apa yang akan kalian bilang, seribu apologi, seraup kekalahan, atau seberkas kesadaran yang bisa terbit di hati kalian? Kalau tidak kita hanya akan disebut sebagai para penelikung jalannya sejarah, sedang mereka pongah menyematkan nama ’kembali ke akar’ sebagai sebuah piala kemenangan. (12/12/05)

GOT (D!)

Kaki anakku tersangkut di tebing selokan. Tinggal sesaat jemarinya mampu menahannya agar tak meluncur ke bawah sana, jatuh ke air yang berkelok-kelok dengan kepala jatuh terlebih dulu.

Ujung rambutnya telah dibelai aliran air yang telah lama tak mengalir. Menjuntai bersama jemarinya yang sesekali menggapai coba kembali tegak ke sisi semula dengan kekuatan sendiri. Mulut rona pias dan keras kepala dihadapanku yang keras mengatupkan diam. Atau matanya berharap pertolongan dariku?

Aku terus terdiam. Melihatnya dengan terkesima. Berjarak seraupan tangan, tapi tak berhasrat untuk mengulurkan tangan. Aku menanti kejatuhannya ke dalam air kelabu yang berbau air sabun yang mengalir dari tiap rumah di sepanjang selokan. Aroma bakteri pembusuk menusuk, berasal dari dekomposisi tak sempurna beragam sampah yang tak semuanya bisa terurai sempurna.

Aku ingin melihat bagaimana jadinya anakku bila meluncur ke peradaban sampah yang dipunyai negeri ini. Negeri yang dari cicit dan awal generasi begitu gemar dengan budaya kotor. Tertawa saat orang mengajarkan sesosok anak agar tak sembarangan melemparkan kotoran. Mereka mengejek dengan bangga sambil melembarkan sampah ke tubuh selokan di samping bak sampah yang kian merana.

Baju kembang-kembang yang dikenakan anakku tentu tak kan lagi menebarkan aroma pewangi yang kusemprotkan tadi pagi saat menyetrikanya. Bermacam bungkus ciki yang lama terbaring di lantai got akan segera menghiasinya. Bungkus permen, pelekat pembalut, atau  gabus-gabus filter nikotin rokok kretek akan menjadi pita-pita kecil di gaunnya. Apa nanti gaun yang berhasil dilolos dari tubuhmu oleh orang-orang yang berhasil mengangkatmu dari selokan akan kubelai dengan sepenuh perasaan di atas papan gilasan? Atau aku akan terlebih dulu berpura-pura berteriak setelah puas mengantar gelembung terakhir udara dari mulut dan hidungmu menghilang? Apa aku juga akan menangisimu dengan limpahan air mata sebagai peri kecil yang telah memilih selokan sebagai keranda bersama puluhan ribu sampah sebagai taburan bunga?

Ah, akhirnya negeri ini berhasil menelanmu juga lily kecilku. Negeri yang telah terdampar di makhsar antah berantah dan telah berganti nama menjadi negeri selokan. Negeri yang mencintai gunungan sampah bahkan di tempat yang paling suci pun mereka mencintai sampah-sampah. Di gerbang masjid, di depan gereja, di pintu wihara dan di pura siapapun yang akan masuk harus melompati gunungan sampah.

Negeri yang makin kaya dengan selokan menghitam telah mengambil puluhan peri-peri mungil seperti juga dirimu nak. Seperti juga kamu, bocah-bocah itu berangkat di bawah tatapan orang tua mereka, bahkan banyak yang menyungging senyum seakan malaikat Ridwan lah yang menggapai tangan darah dagingnya.

Orang tua bangga mengulurkan kedua tangannya untuk meminta-minta setelah menyerahkan anak-anaknya sebagai upeti. Padahal negeri ini hanyalah kekosongan. Satu-satunya kekayaan berlimpah yang dimiliki negeri ini hanyalah labirin gorong-gorong. Di situlah sebenarnya penguasa sesungguhnya bertahta. Nun dari ruang bawah tanah  itulah segala titah disiarkan. Birokrat hanya latah yang tak lebih hanya amplifaier untuk menggandakan apa yang dibisikkan.

Penguasa sebenarnya tidur di dala.m got, tapi mereka itulah sejatinya tuhan. Permukaan Bumi yang kita pijak sama tak bernyalinya dengan manusia yang tinggal di atasnya. Manusia tak pernah bisa lagi bersuara. Mata mereka telah lama buta, mulut mereka sekian waktu telah terkatup. Membeo dan hanya bergerak jika tongkat pemukul telah dijatuhkan, ya hati dan pikiran manusia telah lama tumpul di negeri ini.

Kita berpuas hati dengan para tikus yang tidur di kepala kita. Kawanan itu berpesta pora, makin gemuk, kian kebal dan bebal mengungguli manusia. Tiap lekukan selokan tak luput untuk dibaui. Dimanapun lumbung dibentangkan jalur gorong-gorong akan segera dipanjangkan. Segala apa yang ditimpun akan menjadi piramida kopong yang hanya indah dari luar sedangkan didalamnya keropos digerogoti.

“Gorong-gorong menjadi tempat para perongrong itu menyusun strategi, mematut diri untuk dapat membunglon mengelabuhi manusia yang berjalan di atas bumi. Wajah mereka berhias senyum tulus yang selalu menerbitkan goda. Dasi mencekik leher makluk-makluk itu dengan serasinya. Mereka tak lagi mengendarai aliran air yang berbau anyir yang menusuk hidung, kendaraan mereka mobil impor abai pajak dari merek ternama, mengkilat bagai bulan purnama tempat kemiskinan jelas berkaca. Cat mobil mereka diperas dari darah yang mengucur deras dari para tumbal yang berhasil ditumpas.

Nak, apa jadinya dirimu jika kau telah sampai di kota gorong-gorong? Atau aku yang sebenarnya menjadi penentu takdirmu, di tanganku kuasa Tuhan bisa kucuri beberapa waktu. Aku akan membiarkan got menelanmu atau jemariku akan kembali terulur mencengkeram leher bajumu dan menarikmu dari bergelantungan dari udara? Pikiranku sedang tak berpihak padamu Nak, bersama hatiku ia sedang mengembara di kota kelabu tempat kita berlabuh selama ini. saat takdirmu menghampiri semoga masih cukup bagiku tuk membuat pilihan di atas permainan hidupmu.

Entah di lumbung mana kau akan sampai untuk dijagal sebagai tumbal. Untuk dikenaikan kalung rantai di lehermu dan diletakkan tiruan bumi bernama utang luar negeri di pundakmu. Tiruan bumi berbobot mati ribuan kali generasi yang panjang rantainya hingga melintasi teluk, selat, benua, samudra bahkan persatuan negara-negara. Rantai yang akan dikalungkan ke lehermu dan sebayamu sebagai budak yang telah tergadai bahkan sebelum kalian dilahirkan. Kau dan teman-temanmu akan tumbuh menjadi kurcaci di negeri yang tak pernah bisa mengenal apa itu harga diri.

Kulihat rokmu berkibar di terpa angin dari liang sampah di ujung sebelah sana. Bunga gaunmu mencandai bibirmu yang perlahan mulai membiru. Setitik keringat berjalan di dahimu turun dengan menjadikan rambutmu sebagai sulur. Tubuhmu terlihat lebih putih dari sebelum kita berangkat dari rumah petang tadi. Matamu tak lagi menyorot memandangku, kau telah mengatupkannya dalam tak berdayaanmu. Adakah langit masih kau rasa sebagai selimut semesta yang hangat membalutmu seperti mimpi yang pernah kau celotehkan padaku dari tempatmu sekarang? Apa gerangan sekarang kau sedang melihat bulan di kedua telapuk matamu yang terpejam? Atau disana hanya ada bintang-bintang yang berpendar kian temaram oleh rasa jantung yang berdenyut tak nyaman? Bicaralah padaku dengan hatimu peri kecilku. Bukankah murni bocahmu belum lagi berlalu ditelan baliq. Bukankah bahasa kalbu masih kau punya tuk mengetuk semua pintu? Kenapa tak lagi terdengar bisik itu di telingaku?

Apa kau telah punya pilihan sendiri di hatimu? Apa keinginan kuat yang akan menyeretmu menyertai teman-temanmu? Bunga-bunga yang bermekaran penuh menyelimuti tubuhmu. Warna-warni corak cap yang menghiasi gaunmu, dimataku kini menjadi taman bunga yang menyiratkan kehidupan paling semarak. Bunga-bunga kertas, lili dan mawar berduri berbaur dengan daun-daun yang entah kenapa dilukis dengan cat coklat dan abu-abu.

“Ibu seperti apakah kupu-kupu? Apa sayapnya seperti kuncup telinga tikus yang muncul dari basah air selokan? Kenapa dilagu anak-anak tempo dulu diceritakan begitu beraneka warna, gerangan dimanakah mereka kini bersarang?”

Pernah, dari terjaga tidur siangmu kau bertanya padaku tentang kupu-kupu. Aku tak punya kosa kata dari duniamu untuk melukiskan makluk-makluk mungil yang selalu membuat bunga-bunga seperti yang bermekaran di rokmu menjadi lebih mempesona. Kugores kuas usang dari kotak tua ingatanku tentang sesosok kupu-kupu berwarna hitam biru ke dalam selembar kertas yang ku pungut sembarang dari pojok kamarmu. Dan mulai hari itu gambar-gambar itu menjadi gambar pavoritmu yang selalu ingin kau pamerkan pada teman-temanmu, yang selalu melongo tak mampu memahami kegiranganmu.

Air mulai gemuruh dikejauhan. Hujan akan segera datang. Air akan pasang dan banjir segera menerjang. Atau …?! Nanti dulu, itu adalah derap tikus-tikus dari segala penjuru aliran pipa-pipa, kelokan-kelokan selokan, gorong-gorang got yang mulai membludak. Mereka mulai keluar semua. Semua menuju ke arahmu dengan mata yang menyalak merah.

Apa sekarang telah purnama penuh? Aku mulai melihat bintang-bintang bermunculan dari kegelapan. Berkelap-kelip dihamparan kepekatan dan bau apak yang makin menyesakkan. Cahaya penuh memancar dari tubuh bocah anakku, kau bulan itu, menggelepar dihamparan sampah. Mereka telah menjemputmu dengan air liur yang berleleran Nak. God!Tuhan, lirih pun nama Mu tak lagi mampu dibisikkan.

Menarilah anakku di negeri satu hujan seribu badai debu. Menarilah dengan giring-giring bekas kaleng-kaleng minuman yang kupungut dari sepanjang jalan peradaban sampah dimana kita tinggal. Kenakan cincin pembuka kaleng minuman ringan. Kalungkan label-label pabrik yang berseliweran di lehermu. Ibu akan bersembunyi jauh masuk ke dalam jantung sari bumi untuk merasakan hentakan kakimu.

Aku akan menyeimbangkan duniamu yang telah oleng ke kanan dalam bisu. Akan kupungut dedaunan yang tersiksa di seluruh mayapada, kan kuronce ditiap jengkal tubuhku. Rambutku akan penuh dengan bunga (yang semoga masih ada warnanya). Kulolos sutera dari tubuhku untuk kupakaikan dedaunan yang kusulam dengan tanganku. Setelah itu aku akan menari dan menjadikan hentakan kakimu sebagai pembimbingku, musikku. Kita akan mulai berlayar seperti Nuh yang mendayung bahtera dipuncak gunung kering yang gersang. Menarilah anakku di tanah negeri satu hujan seribu badai debu. Tutuplah matamu teruslah menari biarkan got meliuk dalam darahmu tapi jangan pernah lagi berbisik tentang kembali ke bumi. God.

Genre Alternatif Sastra Perempuan

Kanon dan literer sastra memang bukan milik perempuan. Seperti halnya tatanan dunia, konvensi sastra dikuasai oleh laki-laki. Tapi itu dulu, sekarang, klaim itu sudah basi. Penulis perempuan bermunculan membawa bahasa mereka sendiri dan sering kali mengabaikan keberadaan konvensi.

Salah seorang penulis perempuan yang kuat mengada dengan caranya sendiri, dalam alur jalan yang dibangu lewat karyanya, adalah Nukila Amal. Novelnya, Cala Ibi (Pena Gaia Klasik, 2003), sedikit keluar dari arus utama perempuan penulis yang membuat Nukila berani tampil beda.

Ketika penulis perempuan kebanyakan terjebak eforia menyuarakan persoalan perempuan melalui mengeksplorasi seksualitas yang berlebihan, Nukila menyibak persoalan perempuan dengan sangat unik. Lewat novelnya itu, Nukila menunjukkan janin hakikat dan makna perjuangan perempuan sebagai amanat yang ingin disampaikan. Membangun kesadaran individual perempuan untuk menuju terciptanya fajar kesadaran kolektif pada diri perempuan. Menyadarkan adanya persoalan perempuan secara faktual untuk secara bersama dihadapi dari dalam oleh perempuan sendiri.

Novel berlanggam surealisme ini mengambil tokoh dari dunia fabel dengan menjadikan seekor naga bernama Caka Ibi sebagai tokohnya. Cala Ibi bisa dikatakan tonggak kepengarangan Nukila Amal. Meski tulisannya taka asing, dan bertebaran diberbagai media, Koran atau jurnal, tapi mengarang novel adalah eksistensi kerja kepengarangannya yang boleh dikata menonjol.

Dalam novel ini, naga Cala Ibi menjadi kunci pembuka dunia lain bagi tokoh Aia. Memperlihatkan dunia dari sudut dan cara pandang beda, bahkan menjungkirbalikkannya. Manusia galibnya memandang langit dengan mendongakkan kepala, memimpikan terbang, menyentuh awan, serta bulan di atas sana. Naga mengajak Aia melanglang buana diketinggian mayapada, dan belajar mencium aroma kepasarahan (kematian?) dengan menjatuhkan diri dan membiarkannya mengikuti hukum gravitasi. Meluncur dan membiarkan ketakutan mengejar kemanusiaannya. Cala Ibi juga menuntun Aia untuk bicara secara reflektif dengan dirinya sendiri. agar ia mampu membuka simpul ‘ewuh’ (tabu) yang tak terungkap di hadapan tradisionalisme ibu-bapaknya. Menganalisa permasalahan diri perermpuan baik secara personal, maupun mengangkat kepermukaan permasalahan sosial perempuan meskipun hanyta lewat lontaran pertanyaan. Kenapa hanya diri Aia yang menjadi satu-satunya perempuan berkedudukan penting, kenapa ada keengganan dan sungkan menyebut prestasinya sebagai kesuksesan, kenapa orang tuanya tak menganggapnya sebagai kebanggaan dan justru mengejarnya dengan harapan lekas memperoleh momongan. Dan juga mencoba menghayati dunia secara lebih mendalam kenapa hanya lelaki yang berada di sekeliling Aia. Kenapa hanya laki-laki yang sanggup memutar roda dunia, entah saat ini ataupun di guratan suratan sejarah.

Panggilan hati Aia meronta merasa belahan jiwanya itu ada. Tak tahu siapa, tak mengerti di mana rimbanya. Panggilan itu mengalahkan segalanya. Belahan yang mirip dirinya, menyerupai keberadaannya. Namanya yang dibaca sama, hanya dibedakan stau huruf saja untuk mengejanya, Aiya. Dan jalan untuk titik pertemuan itu sarat kegilaan dan belenggu yang tak tertembus jiwa dan raganya. Pertemuan yang akan bisa melahirkan kembali dirinya (Aia) secara utuh, menggulung resah dan harapan tuk menyatakan tak mungkin mempersembahkan cucu ke pangkuan ibunya. Persatuan yang akan menjawab kenapa dirinya tetap melajang, dan pernikahan tak pernah mampir dalam percakapannya.

“Aia? Aiya?” sampai akhir akan tetap menjadi rahasia. Naga memahami dan menyertai Aia menanti belahan jiwa. Menyertai pencarian jati diri Aia dan memandunya untuk berani memandang cakrawala tempat harapan itu ada.

Kesantunan Nukila dalam bersastra dapat dilihat dari gayanya menutup novelnya. Meski amanat novel ini jelas membawa genre ‘feminis’ yang kuat, tai tetap disamarkan dalam bahasa yang indah, dan sampai akhir hanya diucapkan secara tersirat. Pertautan jiwa antara Aia dan Aiya adalah utopia mendobrak konvensi heteroseksual dalam nilai sosial umum tentang preferensi seksual yang hanya mengenal pembedaan heteroseksual. Pembedaan ini meniadakan kecenderungan preferensi seksual lainnya seperti, homoseksual, lesbianism, maupun transeksual.

Amanat itu tak bisa disuarakan dengan semata-mata. Seakan kutukan umat Nabi Luth tentang kehancuran Sodom dan Gomorah tetap saja belum berani untuk ditabrak. Kedua kota itu menjadi sebuah ibarat untuk mencerminkan norma yang sangat rigid dalam tatanan patriarkhi yang berlaku selama ini. Dimana tenggelamnya dedua kota itu karena praktik homoseksualisme. Symbol legenda itu dilambangkan dengan Laut Hitam yang merupakan titik terendah di bumi, sebuah titik nadir peradaban umat yang menyimpang dari perintah Tuhannya. Nukila dengan menyamarkan amanat novelnya menjadikannya sebagai seorang feminis yang santun kalau tak boleh dibilang malu-malu.

Meski begitu tersamar nilai yang coba disamarkan, novel Nukila menyediakan ruang berpikir cerdas diantara gelombang pengarang perempuan yang masih mengandalkan sensibilitas. Nukila menunjukkan kekuatan penggabungan daya imajinasi dan kemampuan komunikasi bahasanya hingga berdaya pikat tinggi. Dia berada pada satu arah dan mengambil lajur yang berbeda di tengah arus kebahasaan penulis perempuan yang vulgar dan hanya mengobok-obok seksualitas perempuan.

Bahasa Nukila mampu memasukkan nilai lokalitas (indegenitas) jatidirinya sebagai orang yang berdarah Ternate. Pergulatan Nukila dengan bahan tulisannya pun sangat serius dengan memasukkan aspek antropologis, sosiologis dan historis. Karena itu bisa dirasa betapa bahasa Nukila sangat berbeda dengan bahasa Ayu Utami. Ayu hanya mangangkat ke permukaan bahasa perempuan yang terepresif sekian lama oleh hegemoni bahasa lelaki. Hakikatnya Ayu hanya menyuarakan hal yang dibiaskan dan ‘yang terhimpun’ oleh budaya patriarkhi. Upaya dekonstruksi kebahasaan Ayu masih sekadar eskalogis dari sifat sensibilitas perempuan khususnya di area seksualitas. Jadi bahasa sastra model Ayu Utami menyisakan satu permalahan yakni, bagaimana bahasa perempuan dikontekskan dengan upaya menciptakan kesadaran akan permasalahan riil yang dihadapi perempuan. Ada ketimpangan antara wacana kebahasaan feminis dengan realitas persoalan keperempuanan.

Bahasa Nukila memunculkan perkembangan kebahasaan dengan nilai rasa lebih netral dan berkadar intelektual. Cerdas. Bahasa Ayu hanya mengaduk-aduk nilai rasa. Bahasa perempuan yang harusnya diterima sebagai ‘bahasa lumrah’ menjadi terkesan vulgar, bebas, dan terkadang merendahkan perempuan sendiri.

Apa permasalahan keduanya kalau secara bahasa sebenarnya bisa dianggap sebagai fenomena yang ‘biasa-biasa’ saja? Permasalahannya kembali pada penilaian masyarakat sebagai penikmat sastra. Dimana hubungan antara masyarakat dan dunia imajinatif ciptaan sastrawan tak bisa saling dilepaskan. Di sini bisa dilihat relasi dari keberadaan kritik sastra, yang berguna untuk menimbang nilai sebuah karya seorang sastrawan dengan para penikmat sastra sebagai apresiator.

Apresiasi sastra ibarat menempatkan pembaca di area abu-abu antara dunia nyata (ekstrinsik) sastra dengan dunia ciptaan pengarang (instrinsik). Objektivitas penilaian sastra mengharuskan pembaca harus bisa membedakan kedua realitas itu agar mampu melakukan kerja kritis. Unsure instrinsik adalah dunia otonom, sebuah dunia imajinatif pengarang. Karya sebagai dunia imajinatif pengarang kaitannya dengan kondisi nyata adalah bisa jadi betul-betul terjadi di masyarakat, akan terjadi di masyarakat ataupun pernah terjadi. Kesemuanya dibawa ke alam kontemplasi dan pemikiran pengarang kemudian dituangkan dalam bahasa tekstual fiksional. Jadi pembaca bisa mencari sambungan benang merah keduanya tanpa harus mencampuradukkannya.

Sebuah cerita sebagai satu contohnya, Siti Nurbaya. Tokoh, tempat, perwatakan semuanya adalah rekaan. Tapi menurut tahun penciptaan karya itu kita bisa menarik benang merah nilai masyarakat tentang kawin paksa yang ada pada zaman itu dalam masyarakat Minangkabau.

Pencarian Nukila Amal dalam Cala Ibi lebih mampu mengolah topik tentang  perempuan di luar keberadaan seksualitasnya. Realitas factual perempuan mampu dihadirkan dengan kekuatan dan keutamaannya tanpa melulu menyalahkan sistem yang berkuasa (patriarkhi) dalam masyarakat. Nuansa ini juga ada dalam kebanyakan cerpen Nukila yang pernah dimuat oleh jurnal kebudayaan Kalam. Cerpen-cerpennya yang diterbitkan dalam jurnal Kalam itu juga merupakan embrio Cala Ibi, karena menjadi anak-anak judul novel ini.

Nukila seakan-akan pro-‘kodrati’ perempuan. Topiknya tak muluk-muluk tapi penyampaiannya begitu segar, cerdas dan berbeda. Dunia ‘keremehtemehan’ perempuan bisa dihadirkan kepermukaan dengan cara sederhana, tanpa jatuh dalam  simplifikasi masalah yang ada. Sedangkan penulis perempuan lainnya terlamapau terbebani oleh beban berat gerakan feminism. Produk barat ini membuat mereka kadang gandrung dan silau oleh nilai impor, yang seringnya tak sesuai untuk diterapkan ataupun menjadi pisau analisis bagi permasalahan yang timbul dalam lokus perempuan masyarakat kita. Mereka jadi ‘terbaratkan’ dan lupa bercermin pada kompleksitas permasalahan perempuan di depan matanya, yang bisa jadi sangat berbeda dengan yang ditetapkan oleh standar barat.

Maka, Nukila bisa menjadi alternative suara perempuan untuk bersuara dalam sastra. Memikat, unik, dan tak kalah cerdas dan menarik. Ia bisa jadi tanda genre kebangkitan sastra perempuan yang lebih serius dan berbobot. (Rp, 20/6/2004)

Hampa

Hukum alam berjalan pada timbangan kebenaran dan keseimbangan. Pendulum hanya akan bergerak ke arah datang dan pergi jika porosnya tiada bergeser dari titik tumpunya. Semua pada aras yang semestinya. Rasa sedih. Rasa bahagia. Terbagi dalam kurun yang berada pada lingkaran waktu yang telah digariskan. Apa harus ada penyesalan dalam menggembalakan ruh untuk kemudian menuju tempat kembali?

Manusia hanya tahu satu nama untuk merasa menyesal. Dosa. Ruh yang melayang terlampau lama. Hati yang merana bermata duka. Air mata berkeluh pada langit, dan langit terdiam. Manusia mengasihi diri nelangsa dalam tanya dan kata. Tuhan. Kau berhenti dalam sebutan yang kosong dari penjiwaan.

Jangan kau buang selendang keagungan Mu hanya di istana para Sultanah yang kikir dari dzikir pada Mu. Jangan kau tangkupkan jubah kesombongan Mu di hati para pujangga yang selalu mencibir kaum papa dengan mata penanya. Tuhan, di Januari yang gerimis kemana Kau langkahkan terompah Mu dengan ritmis? Di pebruari yang rintik kemana singgasana Mu akan dihadapkan? Aku menunggu Mu di bulan Maret yang berkabut  mendamba Kau singgah di Desember bersama tiupan angin yang membawa hawa panas yang membara?

Kenapa tidak ada yang sederhana. (Friday, 9/12/2005)

Belatung

Mereka tiba-tiba berkeliaran di sela-sela jari kakiku.  Tubuh mereka putih bersih, gilig dan lincah sungguh bertolak belakang dengan kesan dan tugasnya dalam mata rantai kehidupan. Sang pengurai berkedudukan cincin terbawah jejaring kehidupan. Mereka teman bakteri pembusuk, sang penghancur jasad-jasad yang terbaring di kubur. Seram!

Tapi aku tak sedang berada di pekuburan atau di tempat pembuangan sampah. Aku sedang bersantai di rumah. Ketika tiba-tiba makluk putih itu bermunculan  dari tiap sudut dan celah sambungan ubin di lantai rumahku. Menggeliat-geliat seperti sekumpulan bulir-bulir nasi yang digotong sekawanan semut untuk diangkut beriringan menuju sarang.

Aku mendongak ke atas. Apakah mereka juga bergelantungan? Akankah mereka berjatuhan dan menyerangku dengan menuruni sulur dari plafon atap rumahku seperti satu peleton pasukan tempur? Mereka terus berjatuhan. Merangkak di tiap helai rambutku. Masuk ke gua telingaku. Menyusupi sela-sela bibirku. Begitu tak sabar ingin mengurai ragaku luar dalam.  Tapi tidakkah mereka masih mendengar desah nafas dari kedua  lubang hidungku? Dadaku masih turun naik, menandakan sisa kehidupan.

Bayangan mereka mengaduk-aduk pikiran ku. Menciptakan halusinasi yang meremangkan bulu kudukku. Perlahan ku paksa badanku bangkit tuk bersiap menyerang. Kutabuh gendering perang walau jumlah begitu tak tak imbang. Ku ayunkan tongkat kayu, membabi buta memukuli mereka. Semua mental. Hatiku kecut. Nyaliku menciut. Kutindas tangan telanjangku untuk berani menjamah tubuh-tubuh pembawa mimpi buruk itu. Hatiku makin bergidik.

Benda serupa nasi itu begitu kenyal. Kenapa? Apa mungkin karena mereka terlalu banyak mencecap intisari jasad manusia? Ku sangka ujung telunjukku akan membuat kawanan itu binasa. Memburai isi tubuh kecil mereka dengan sekali tekan. Tidak bisa! Aku heran. Rasa geli menyaksikan bentuk makluk itu, membuatku terserang ngeri seketika. Duh gusti! Aku merinding membayangkan sekujur tubuhku digerayangi tubuh-tubuh tak berkaki itu.

Panik.  Sekaleng minyak bumi kutumpahkan kejajaran pasukan bawah tanah yang telah berani menginvasi ruang tempatku bertahta. Tangguh, kulihat barisan itu terus beringsut, menyebar ke semua penjuru. Geram, kulontarkan api dari pemantik yang ikut gemetar oleh amarah yang bersetubuh dengan resah di dadaku. Keras kepala, tak surut mereka melawan untuk kemudian terpanggang dan menggelepar. Titik-titik putih bersalut jelaga bertebaran di seantero rumahku. Nafas memburu hingga pegah pembuluh darah di jantungku. Pundakku melemah, lelah oleh pertempuran yang belum lagi punya nama di kepalaku,  karena sungguh pengertian belum lagi bisa kuhampirkan untuk menjelaskan pa sesungguhnya semua ini. Frustasi kupandangi tubuh-tubuh kecil mengkilat yang hanya mengerut sedikit dari ukuran semula.

Aku menikmati sensasi kemenangan. Sesaat. Untuk seterusnya aku merasa terus kalah. Menginjak lantai rumah kewaspadaanku terus terjaga. Sebutir nasi di lantai kulihat bagai serangan berpuluh tentara kaveleri. Seringkali kakiku harus berjingkat dan bulu kudukku berubah menjadi sensor yang selalu saja meremang. Kini, ruang-ruang hidupku selalu berputar gelisah.

Aku terus waspada. Setiap kolong, celah tak pernah luput aku longok dengan seksama. Tak sebutir debu atau sarang laba-laba boleh ada. Tak ada lagi nasi di meja makan. Tak ada sarapan, makan siang atau santap malam tanpa kecurigaan. Mataku selalu nyalang menyelidik tiap orang.

Aku tak merasa aneh kala tiap malam selalu terjaga. Merangkak-rangkak di kolong tempat tidur, membongkar kasur, mengacak-acak isi lemari, menyapu bersih loteng dan gudang. Sampai satu persatu orang yang kukenal selalu menatapku ngeri dan insut menjauhi. Telpon dari kantorku entah kapan terakhir kali menghubungi.

Sampai suatu pagi aku melihat seraut wajah asing membayang di tolet kamarku. Mata merah itu terus menatapku.  Kewaspadaan ku pada level siaga satu. Wajahnya dekil. Pipinya cekung. Rambutnya meriap panjang dan kumal. Siapa orang asing ini? Bagaimana mungkin dia bisa menyusup ke kamarku? Saat aku menengok ke belakang dia menghilang. Aku terus mencarinya, berlari mengelilingi rumah memanggil-manggil dirinya. Aku hanya mendengar gema langkah-langkah kaki yang saling berkejaran. Nihil! Kemana dia pergi?

Aku kembali menemukannya ditiap cermin yang kulewati. Apa dia bersembunyi di dalam cermin? Saat aku di ruang tengah cermin besar itu memunculkan keseluruhan badannya. Hii! Tubuh orang itu penuh dengan belatung. Apa dia yang membawa belatung ke rumah ini? Atau barangkali belatung itu datang setelah mencium bau kematian dari tubuh ringkih itu?

Tanganku bergerak ingin menyentuh wajah orang di dalam kaca itu. Aku bersusah payah mencoba menyungging senyum padanya. Dia membalas senyumku dengan seringai yang miris dan menegakkan bulu roma. Aku jatuh kasihan oleh pikir bahwa ajalnya akan segera menjelang. Saat tak sengaja kuusap pipiku, aku tersentak surut ke belakang. Wajah itu juga menyentuh pipinya. Kucoba menyentuh kepalaku, bayangan di cermin itu juga melakukan hal yang sama. Gemetaran kususuri badan dengan jemariku dengan tatap tak lepas sedetikpun dari memandang cermin di depanku. Dari dalam saku bajuku tertarik keluar sulur-sulur putih pekat. Aku menyeringai tak percaya. Tidak. Tidak mungkin! Tidak….! Kembali rumah besar itu dipenuhi gema langkah-langkah kaki yang berlarian. Ya, langkah seperti puluhan orang sedang berkejaran.  Tapi kini sering ditimpali teriakan. Tidak! Dia bukan aku. Tidak…! Sesekali tawa melengking berganti isak tangis dan jeritan silih berganti. (Friday, 1/12/2007)

Pemahamanku

Hatiku masygul. Orang-orang bicara seakan merekalah yang memakaikan kulit di dagingku, menyusun sulbi di ragaku. Seonggok tubuhku bagaikan kotak kaca yang leluasa mereka pandang. Mereka lontarkan omongan, pendapat dan petunjuk jalan dari peta pemikiran mereka, untukku. Terdengar suara lantang kalau aku tengah kehilangan pegangan. Hidupku dalam fase rawan. Seolah-olah aku hanya sekerat tabung bambu dengan sekepal otak yang mengering di ujungnya. Mereka berpikir lebih tahu aku dibanding diriku dan Sang empunya hidupku. Mereka mendiktekan apa yang harus aku pikirkan, aku rasakan, suara yang ku perdengarkan, arah yang harus kutentukan, dan tak ketinggalan cara aku mencintai Tuhan.

Hati-hati menjaga imanmu dari mereka yang ingin merenggutmu dari jalan kebenaran. Begitu katanya. Mereka berusaha memagariku bahkan dari diriku sendiri. Sungguh keterlaluan. Apa sedemikian nyata rapuh keyakinanku di hadapan manusia? Sedangkan dalam dialog panjangku dengan Dia, aku tak pernah sekalipun tahu apa pendapat-Nya tentang diriku. Saat terlepas mengingat Dia hanya aku yang tahu makna jeda dan nglangut di relung hatiku. Kerinduan nir ketakutan, kesunyian tanpa kehampaan, kesejukan tanpa gigil kepongahan. Apa aku juga diwajibkan merangkai segala rasa ini dalam seraup padatnya kata dan mengungkapkannya pada kalian? Aku tak bisa. Hatiku telah penuh hanya itu yang kutahu.

Aku sering bertanya, jikakah segala apa yang kumunajatkan sebagai ibadah telah sampai kepada-Nya? Aku ragu. Bisa jadi semua yang dikatakan syarat syah dan ketentuan yang berlaku untuk amalan menuju haribaan Mu jauh dari sempurna aku tunaikan. Tapi, kenapa aku harus berburuk sangka, apalagi kepada Mu. Sedangkan Kau maha tahu gerak hatiku. Lebih indah bagiku menghidupi keyakinan dengan mengingat curahan rahmat yang tak henti dianugerahkan padaku. Aku tak mau menghidupi keyakinan ku dengan ketakutan, yang meyakini keberadaan-Nya tak lebih sebagai Sang penghukum dan Sang kejam. Melihatnya begitu sigap menghakimi kesalahan dari pada selalu menuntun kita dengan penuh kasih sayang kembali ke jalan kebenaran yang kita tinggalkan. Kenapa mudah sekali kedangkalan kita yang merasai kehadiranNya daripada kedalaman nurani.

Mereka tak jemu berguman di belakang telingaku. Tentang nama, darma atau entah lagi apa. Hatiku mencicit. Pikirku bersimbah peluh penuh dengan gagasan yang ingin kutumpahkan kepada mereka. Bagiku, keimanan tak lebih dari apa yang kupahami tentang sebuah pengajaran. Sebuah pencarian yang tak kenal kata berhenti dan menyelami bahkan pada apa yang kuyakini sendiri. Apa dengan berkata begini keyakinanku diragukan? Keimananku sedang dipertanyakan? Harusnya aku tak perduli. Ini dinamikaku. Karena aku menyadari tak pernah berhenti tumbuh. Termasuk aku menolak untuk menerima alur batin dan pikirku sebagai sesuatu yang jumud, tidak hidup. Bagiku tak ada hal yang begitu saja. Segala hal punya makna dalam setiap gerak perputarannya. Bukan laku tubuh saja yang hidup dalam keseharianku, pikiranku terlebih lagi adalah api yang selalu menyala. Batinku senantiasa bergemericik mengeluarkan suara dan berdenyut penuh irama. Jiwaku senantiasa penuh gejolak meronta pada semua batas makna yang mengkungkung dalam julukan keharusan. Karena bagiku makna selalu akan bisa ditemukan oleh gerak kita dalam menghidupi kehidupan. Bukan pada saat kita diam. Kita turut mengukir langkah, dicelup warna perjalanan, tapi kita tak boleh membiarkan kehendak yang tak bernalar mengukir kita dengan semena-mena, apalagi tanpa persetujuan nurani kita. Terlebih jika itu menkrangkeng kemampuan kita untuk bertanya. Karenanya aku tak mau henti memasuki diriku, menari bersama ruhku, berdansa dengan rasaku dan bercengkrama dengan pikiranku. Sampai aku bisa merasai jeda dengan mendudukkan mereka semua, sesaat saja, dalam tafakur sebelum kembali bergerak.

Aku tak kuasa melindungi imanku jika itu yang kalian minta. Sebaliknya keyakinan di dadakulah pelindung setia ku. Menjaga ku dari kejatuhan, membuat jaga kesadaranku untuk berupaya tak melanggar etika. Inilah yang membuatku punya sudut pandang dalam menyikapi segala persoalan, sudut pandangku. Bagaimana itu memberi daya untuk turut meninggikan harkat manusiaku, membebaskan diri sendiri dan mereka yang tertindas. Janganlah mudah digulung gundah bahwa keimanan yang bersemayam dalam hati kita mudah sirna hanya oleh onak kecil kehidupan. Dia tumbuh bersama kita, dihidupi kusyuknya ibadah dan disyukuri sebagai nikmat terindah tak akan mudah sirna. Biarlah keyakinan itu berdinamika dan bisa menjadi pijakan karena kita menghidupinya sebagai pilihan kesadaran bukan sekedar keharusan. Biarlah nyalanya berpijar dalam langkah kita meniti hari. Jangan biarkan sempit pemahaman, membuat kita bersikap tertutup dan bersyakwasangka. Ujian yang membuat iman kita kuat, atau kekuatan iman yang membuat kita bisa melalui segala ujian?

Aku juga tak mampu menjadi pelindung Tuhan apalagi mendiktekan keinginanku kepada-Nya. Dirikulah yang selalu menghiba agar jangan pernah ditinggalkan meskipun sekejap. Akulah yang memerlukan perlindungan. Dialah tempatku bersandar, penjagaku dan pembimbingku. Sebab itu aku tak akan pernah mau sembrono mengambil nama-Nya dan mengatas namakan diri-Nya untuk menyakiti siapapun, siapapun. Karena semua itu tak pernah kupelajari dari diri-Nya. Aku hanya percaya adanya aku pasti untuk sebuah tujuan.

Siapalah kita yang seakan punya kuasa lebih untuk mendiktekan kehendak kepada-Nya. Kita semua berproses, berdialog, tidak hanya dengan kehidupan tapi juga pemberi kehidupan. Dari sanalah kita bisa menangkap kasih sayang-Nya yang tiada batas untuk kemudian menghidupkannya dalam hati kita, dalam kehidupan kita dan untuk kita bagi kepada sesama dan makluk Dia lainnya.

Diriku, biarlah diri-Mu saja yang tahu. Ditiap ku bersimpuh biarlah kututup keluh dan pintaku dengan memohon ampunan-Mu, Tuhan janganlah aku sampai celaka karena dosa dan doaku. Luaskanlah hatiku untuk senantiasa ridlo akan jalan ketentuan Mu karena ketidaktahuanku hanya mampu dicerahkan oleh ilmu Mu. Untuk mereka, terbitkanlah pengertian dan luaskanlah hatiku meskipun aku tetap tak akan pernah mengikuti gemerincing gelang kaki yang mereka hentakkan untuk membuatku menari.
(Fri, 3/7/09)

Aku Memillih


Janggal kueja dua nama bernuansa feminim dalam serangkaian surat yang baru kutemukan. Salam pembuka penuh sayang dan kata penutup yang indah, penuh cinta. Ungkapan dua insan yang sepertinya sedang berayun dibuai kebersamaan. Ima dan Diwasty. ImaDw. Kuseret pandangku menyelusuri kotak masuk dan kotak keluar di email suamiku. Berentet bundal pesan dari pengirim yang sama, Diwasty. Siapa Ima?

Kerongkonganku kerontang mengeja nama dan baris-baris surat mesra dari Ima buat Diwasty dan sebaliknya. Derai kata-kata mereka selalu diakhiri dengan akronim nama keduanya, ImaDw. Puisi kerinduan dihaturkan untuk mengantarkan sang kekasih kekuncup malam disertai harapan mimpi indah, dan perjumpaan esok hari. Manis sekali. Di kotak keduapuluh lima terselip juga puisi religi. Mengaduk nurani dengan rima sajak yang bisa berarti sangat ambigu, antara untuk dia atau tertuju bagi-Nya. Hope and Faith diforward rapi, dengan komentar balasan manis, ”puisi yang indaaaaahhhh sekaleee…” tulis Diwasty.

Hope is word/ that every/ hurting heart understands// Hope shines/ brighter than/ the brightest star/ on the dark night// Faith is bigger than the highest mountain// And God is greater than any obstacle in your path/ Anything can be accomplished by those who fully/ put their hearts into it// The time to start is now/ the place to start is here// May hope cast its special/ light upon your path and God/ bless everything you touch in the/ hours, day, and moments/ still to come//

Sekarang ini pasti aku berada persis seperti wanita yang diselingkuhi suaminya. Menggenggam setumpuk bukti dan ditangkap kelu yang perlahan menjalarkan api kesegala penjuru urat nadi. Dibelenggu tegun yang melecut kejut untuk menentukan pilihan antara segera membuka mata atau tetap setia dalam penyangkalan. Ini pasti mimpi buruk sekali. Sebaliknya, hatiku justru digelitik geli saat teka-teki nama itu kupecahkan. Oh may God, nama sarat makna suamiku, ayah dari anak-anaku, Mafiqul Hafen diganti Ima. Cinta yang baru ditemukannya pasti menghujani kepalanya dengan banyak sekali pecahan bintang-bintang hingga membuatnya rela kekonyolan ini disematkan kepadanya. Aku mengulum senyum dengan naifnya. Ii Em Aa. Tak bisakah menjumput atribut lain yang tak terkesan anggun? Yah, tentunya mereka tak berharap percikan hati mereka bakal kutemukan. Seorang istri pastilah diletakkan di luar koridor saat perselingkuhan terjadi. Jadi dilarang protes. Walaupun sebenarnya permainan terlarang ini otomatis telah menyeretku kedalam lingkaran sebab ikatan yang masih menyatukanku dengan suamiku. Meski terasa lucu, jujur menyisakan getir di ulu hatiku.

Aku tak mengerutkan keningku begitu rapat untuk merenungi berapa lama mereka bermain di belakangku. Surat berbalas yang diarsip rapi kemajuan teknologi telah memberi perhitungan pasti. Hampir dua belas purnama hatinya telah mendua. Tangan yang memelukku adalah tangan yang sama untuk dia membelai lainnya. Kafe Plaza Senayan, Kinokuniya atau QB World telah menjadi saksi saling tatap mesra dan tenunan benang-benang rasa yang coba mereka pintal disela janji perjumpaan entah sekerap apa.

Pagi ini dia pastilah sangat terburu-buru hingga membuatnya lupa sign out dan meninggalkan agendanya. Biasanya aku tak pernah mau menggrayangi ranah privasinya. Tapi kini instingku seperti bergerak sendiri. Agenda Pro-Deluxe hitam kubuka perlahan, catatan lengkap tentang rencana kerjanya sampai Agustus nanti rapi terpampang, tak ada yang ’istimewa’. Masih banyak lembaran agenda yang kosong. Aku hampir saja menyangka agenda itu bisu sama sekali tentang kisah romansa si empunya, sampai ketika sampul akan kukatupkan aku menangkap sebuah diagram di halaman paling belakang. Lebih tepatnya rangkaian jalur pikiran Mafiq yang sedang digulung bimbang. Sangat sederhana hanya berisi inisial, tanda anak panah dan simbol.

Dimulai dengan inisial ’end’, entah berarti terakhir, berakhir atau singkatan namaku. Tiga huruf itu berada tepat di sudut empat puluh lima derajat. Tapi aku yakin ’end’ itu untuk penanda namaku. Karena anak panah yang ditarik kemudian ke sebelah kanan menunjuk kata ’Married’ dengan huruf bergelung di ujung ’d’nya. Kata itu dilingkari dengan tidak sempurna. Tepat di bawahnya menggantung anak panah dengan mata panah menunjuk tepat di tengah kedua huruf ’rr’ pada ’married’, di batang anak panah itu tergores kata yang tak jelas terbaca antara ’step’ atau ’skip’. Kembali ke sudut siku-siku, di bawah namaku ada anak panah yang memanjang dengan mata panah tepat menyentuh ’e’ pada ’end’, tapi ujungnya yang membelakangi ’nama’-ku bersentuhan dengan letter ”D”. Ujung batang anak panah di mulai dari ”D” mata panahnya beradu dengan hidung mata panah satunya yang di kakinya terdapat inisial ”MH”. Dua mata panah yang tepat beradu itu dibingkai dengan lukisan daun waru, ’love’. Sempurna. Garis keduanya ditebali berulang-ulang entah sebagai penegasan hasrat, ataukah besarnya keraguan. Tepat di kaki inisial ’MH’, lurus mengarah ke bawah sepotong garis dicoretkan tebal-tebal dengan mata panah menyebut ’GOAL’. Diagram itu tergambar seperti segitiga siku-siku yang tak tuntas digambar karena lupa menarik garis diagonal disisinya. Skema tak bertanggal tapi telah menanggalkan hatiku dengan sempurna, karena ternyata aku hanya sebuah pilihan.

Kulihat bayanganku di cermin kamar sedang menyembunyikan senyum di pundak kanan. Aku tak mengerti, terlebih dengan satir yang sedang berpentas di hatiku. Ini sebuah tragedi bukan? Ketulusan cinta dan kesucian ikrar dipermainkan? Karena apapun wujudnya perselingkuhan adalah bentuk ketidakhormatan terhadap sakralitas ikatan dan penistaan terhadap pasangan. Entah kenapa di hatiku terbit kelapangan bahkan menangkap kelucuan yang sangat menggelikan. Bukannya aku harusnya dibakar api cemburu? Tangan mengepal, atau lari menelungkupkan diri di atas bantal atau juga meredakan diri dengan mengguyur sekujur badan di bawah pancuran air kamar mandi?

Tenang ku seret kakiku ke beranda. Sesaat duduk mematung menangkap angin yang perlahan menyusup ke dalam hatiku. Seakan kabut menyingkir begitu saja dari dalam hatiku. Syaraf-syaraf otakku berlarian tanpa kendali. Segala fakta dan keganjilan terjelaskan sudah sekarang. Semua semak-semak yang menutupi pandanganku baru saja tersibak. Tuhan.

Aku bisa saja menunggu Mafiq pulang dengan setumpuk rencana dan strategi. Menjebaknya dengan segenap bukti yang ada di tanganku. Atau mengaduk-aduk majalah mencari referensi tip-tip bagaimana menangkap basah perselingkuhan dan menditeksi kebohongan suami. Pikiranku dipenuhi tumpukan majalah-majalah wanita yang aku baca tiap hari.

Harusnya aku melangkah ke ruang baca sehabis beranjak dari beranda. Tapi kakiku membawaku ke dapur. Pelan seperti menghitung mundur, aku ambil cangkir, ku suap sesendok gula dan kuletakkan di dalamnya sebuah teh celup. Kunikmati kabut aroma yang melenggok meninggalkan bibir cangkir oleh guyuran air panas. Ku hirup dalam-dalam jasmine tea sepanjang jalan menuju sofa di ruang tengah. Uap panasnya mengembun di kaca mataku. Santai dan pasti kuraih gagang telpon.

”Aku baru saja menemukan surat-surat cintamu…. ”

Tenang dan dalam aku bicara langsung dengan Mafiq. Aku tak sempat membayangkan ekspresi keterkejutannya. Barangkali aku tak berminat sama sekali.

”Aku seperti merasa selalu kau tuduh……?!!“

Suara Mafiq terdengar gamang sesaat sebelum meninggi. Defensif pasti! Dituduh?! Serentet argumentasi dan pembelaan diri dalam selimut kemarahan sudah dimulai. ”Klek!“ telpon ku taruh dengan tenang. Kuayunkan kakiku ke ruang baca meninggalkan telpon yang mulai terus-menerus berdering. Bunyinya meraung-raung tanpa henti. Aku tak perduli.

Buku diary ”Pass Time Exclusive Series“ warna coklat berbunga-bunga dengan pena yang terselip di sisinya lah yang aku butuhkan saat ini.

“Dear diary, apa aku harus merasa sakit saat ini? Apa kehadiran perempuan lain harus selalu menjadi pisau yang merejam dan merajah hati seorang istri? Haruskah aku juga begitu? Tapi aku tak kuasa menjadi tirani untuk hatiku sendiri. Bagaimana jika dia, perempuan itu, adalah tangan Tuhan yang membawakan kunci untukku? Kunci pembuka untuk kemerdekaanku. Tidakkah dia harapan? Diwasty akan menggantikanku disini. Menghiasi kereta biru suamiku yang telah lama tak lagi pernah dipanaskan baranya. Menjadi boneka cantik yang setia mengangguk-ngangguk membenarkan tiap kebohongannya. Menjadi utik abu yang tiggal dijentikkan jari sang tuan guna melayani segala keperluannya, bahkan hingga libido prestise dan pemompa ambisinya. Sasaran amukan tangan, keluh kesah juga sumpah serapah dikala hatinya sedang meninggalkan kuil jiwanya. Diwasty akan terus diperas hingga tuntas segala emosi, jati diri, dan kesadarannya oleh dengus hasrat manipulatif, sampai dititik akhir Diwasty hanya mampu selalu mengangguk, “ya”.

Diwasty akan menjadi jalan kebebasanku. Dialah rahim kelahiranku untuk menyusut lelah setelah bertahun tak lagi mampu mengenali keberadaan diri sendiri. Keutuhan eksistensiku terserap pada sesosok, nama, peran dan jati diri yang bukan tubuhku yang bernama suami. Yang menjadikanku bukan apa-apa tanpa atribut itu membungkus ketat tubuh dan lubang nafasku di dunia ini. Barangkali saat ini kewarasan benar bersayap hingga dia tak hinggap di hatiku lagi. Perselingkuhan mereka begitu syahdu mengayunkan pengharapanku kembali. Toh ini bukan pertama kali.

Atau haruskah aku jatuh kasihan pada perempuan ini? Aneh, kenapa aku harus resah akan nasib dirinya. Bukannya dia telah dengan sukarela meminang kehidupannya sendiri dengan mencintai lelaki beristri? Ya, rupanya Mafiq sempat ingin mengakiri segalanya, dan Diwasty tentunya tak dengan begitu saja rela melepas manis yang tengah direguknya.

”Dear Imaku… terimakasih atas perhatianmu yang begitu spesial padaku. Aku akan tetap berharap Ima mendapatkan kedamaian yang diharapkan. Apa yang aku rasakan, biar aku simpan sebagai suvenir terindah dalam hidupku… salam sayang, Diwasty”.

Surat itu baru sebulan yang lalu dilayangkan di email suamiku.

Keengganan untuk memutuskan jalinan tentunya telah membuat mereka berkubang pada ya dan tidak. Saling mengucapkan sayang masih terus berbalas sampai surat Mafiq mencoba lebih maju memberi pagar pada keraguan. Janji tuk tak saling menyapa lewat kata terikrar diantara mereka. Ah, pasti hati mereka sedang digigit rasa sakit saat harus kembali dihadapkan pada pilihan. Berlanjut atas nama cinta atau menjejak realita akan cinta terlarang yang mereka semai di kebun belakang pasangan masing-masing.

”Dearest Ima,
My heart, my self are tired. Its been years of tirement. No one really knows what I have felt. No one. Not my family, my friends or boy friends. Its really hard to let you go … inside my heart wants you come back to me. But I don’t have a power to hold you back. Always I don’t have a power to realize what I want. I just want to enjoy this feeling, I can’t hate you. But I am disappointed, I can’t deny it. I also was disappointed with my old relation… a long one. I hope you made the best decision for you and me. You think we should be apart? I wish you the best anyway. Love DW”.

Kubaca sekali lagi surat di tanganku. Kututup diaryku seperti mengkatupkan pintu hatiku untuk tak pernah akan kubuka lagi. Perlahan kubangkit, seperti orang buta kususuri setiap lekuk ruang-ruang rumahku dengan menyapukan perlahan kelima jariku ke dinding yang seketika menjadi terasa dingin. Ruang waktu kembali menelanku dalam rupa kepingan-kepingan yang terpantul dari hati dan samar ingatanku. Lapis demi lapis kebisuan di balik benteng kelam hatiku seakan kembali menemukan jalan pulang.

Seluruh rumah ini tiba-tiba saja menjadi lorong panjang yang dingin dan menggidikkan bulu roma. Nafasku mendadak sesak, kurasakan dua jempol menekan keras kerongkongan atas leherku. Reflek kuraba cekungan di tengah leherku perlahan, untuk meyakinkan bahwa tak ada yang merembes keluar dari ceruknya selain sepotong ingatan yang kini satu persatu, bak pecahan kaca, siap menyayatku untuk kali kedua. Jemari menuntunku kesebuah ruangan yang sangat pribadi. Ruang tidur utama. Dindingnya terasa begitu lembab. Disenja yang memantulkan cahaya dan membiaskan kabut tipis udara berdebu tak kuasa mengusir pengab yang menyerbu.

Kamar ini menjadi negeri asing di lubuk jiwaku. Tanganku kembali membilur biru. Dari celah dikeningku merembes cairan kental yang termaktub perih tiada terkira dari rasa yang luka. Serat kayu pintu kamar mandi pasti akan terlukis megah disana selamanya. Sudut mataku menangkap kilap ujung sepatu pacalolo yg terselip di bawah meja. Mengintip sedikit saja dari celahnya. Kelebat kecil itu telah membabat segala sekat dari masa lalu, seperti engsel pintu yang lepas dan menghempaskan daun jendela keras-keras ke tanah dari ketinggian lantai lima. Ingatan bergulung-gulung menyeretku ke pusaran waktu. Kakiku layuh. Pelan kuelus kulit halus nan wangi yang dengan sempurna menutupi memar motif batik sol sepatu yang terukir di balik gaunku. Semua terbangun lagi tanpa perlu bibirku melantunkan kata-kata.

Sayup suara-suara yang diterbangkan angin menyusup lewat lubang angin dan teralis jendela. Awalnya samar seperti mantra dan puja yang didaraskan para pertapa untuk memuji semesta. Saat desirnya menggapai ujung daun telingaku suara itu baru nyata membentuk siluet utuh sepotong pesan. Aku bersumpah tak mau mendengar lafal pesan itu sepanjang sisa hidupku.’Mereka milikku. Aku akan mengusirmu. Mereka hakku. Kau tak akan pernah bisa menyentuh mereka. Matamu tak akan lagi bisa memandangnya. Ya, mereka. Tanpa mereka kau akan merasakan apa itu menderita. Tanpa mereka akan ku buat kering air matamu. Kau dengar aku! Mereka miliku!” Perutku terasa diaduk-aduk.

Di sudut kamar paling gelap aku melihat penggalan adegan yang membuatku ingin muntah karena muak. Sekepal sosok teronggok menggengam ujung kelambu dengan lemah. Tubuhnya menggelung sempurna. Raga itu menyusut oleh kata-kata tajam tentang ’mereka’. Kata ’mereka’ seperti kunci yang diletakkan di punggung sebuah boneka untuk membuat sang empunya leluasa memutarnya jika ia ingin memainkannya. Aku seperti terseret untuk memasuki tubuh itu. Semua terasa sempurna kumasuki. Aku tersentak merasai denyut jantungnya, desah nafasnya dan gemuruh lintasan pemikirannya. Ketakutan mengerubutiku seperti selaksa semut merah yang mencubiti tiap pori keberanianku. Jiwa dan ragaku seperti dihempaskan ke sumur tak berdasar dengan kedua tanganku terus menggapai dan hanya merasai angin ditelapaknya. Aku tak suka tubuh itu. Cangkang kulit ari yang ditipiskan oleh dialog tak berbudi, cercaan tiada henti, dan kepatuhan yang diraih dengan menggunakan tangan besi dan tirani diatas tubuh itu. Kini aku tahu, aku telah kembali memasuki tubuhku sendiri.

Aku tergeragap. Ah, mereka tak pernah benar-benar pergi. Aku hanya menumpukan ingatan lain di atasnya. Kepingan-kepingan itu seperti puzzle yang menyusun tubuhku sendiri. Membuatku bisa mengutuhkan bentuk diriku tapi gurat kepingannya selalu tak terhapuskan sebagai elemen tersendiri. Haruskah aku masih merasa bersalah? Terus dipagut gelisah? Tidak. Lunas sudah semua itu kutunaikan.

”End, buka…!!!” terdengar pintu digedor dari luar.

Kupeluk diriku sendiri seperti seorang ibu yang melindungi bayinya agar tak siapapun boleh merenggutnya. Tubuhku seperti melayang. Ringan. Kurasai angin semilir yang akan segera digantikan topan badai yang sedang membentuk pusaran di balik pintu itu. Aku merasakannya. Aku telah mendapatkan pilihanku, setelah segala pintu kulalui kesadaranku telah meraja kembali. Aku tak mau lari lagi. Oleh dia atau karena lainnya tak akan kubiarkan digdaya menghujamkan pedih dijantungku. Karena aku memilih untuk mengakiri diriku bukan sebagai sekedar pilihan. (Mon, 9/2/09)

Dialog Kau dan Dia

Adakah yang sanggup mengingat perjanjian seorang anak Adam dengan Tuhannya sesaat sebelum kelahiran?

Apakah kita pernah memilih untuk dilahirkan? Seringnya, kita merasa tidak diberi pilihan untuk dilahirkan sebagai manusia. Kau, sayangku, kini sedang bertanya tentang hal itu. Aku tak tahu bagaimana harus merengkuh kegundahanmu, karena itu aku persaksikan dialog imajiner antara Tuhan dengan dirimu. Demi membasuh resahku yang tak berani menyentuh pergulatanmu.

Aku disana sayangku, menjadi saksi ketika dialog antara kau dan Tuhan terjadi. Kau mengenakan jubah hijau lembut nan agung, warna perutusanmu. Kudengar Tuhan berkata padamu, Fulan, Aku akan menurunkanmu ke bumi, kau ingin sebagai malaikat, iblis atau manusia?

Dalam tunduk takjub dan tawadu’ kau lirih berbisik untuk memilih terlahir sebagai manusia biasa. Waktu itu kau berkata, janganlah aku dilahirkan sebagai malaikat ya Tuhanku, karena aku tidak memiliki segala kesempurnaan itu. Dan janganlah aku dijadikan iblis wahai Kekasihku karena pasti aku tak sanggub menanggung beban kesalahan yang selalu dihujatkan manusia padaku. Cukuplah aku menjadi manusia yang kesempurnaannya ada pada kelemahannya, sehingga aku akan setia mendamba rahmat Mu semata. Manusia yang putih qolbunya bisa membawanya ke maqam malaikat-Mu dan kehanifannya bisa setia menjaganya pada fitrah dan memadamkan naluri iblis dalam dirinya. Semua hal bisa ada karena kuasa Mu.

Sayangku, bilakah kau ingat semua itu? Karena seharusnya segala tanya tentang apa dan siapa dirimu telah selesai kau lalui. Biarpun untuk terus memaknai adalah proses yang tidak akan pernah selesai, karena kedewasaan bukanlah suatu bentuk mati melainkan perjalanan meniti dan menyikapi kehidupan itu sendiri.

Aku mendamba diri ini menjadi saksi dialog kejadianmu. Sehingga saat kau dirambah gelisah, seperti sekarang, oleh tanya jati dirimu, apa makna serta tujuan hidup sedang menggelayuti hari-harimu, aku akan bisa kembali mengingatkan mu. Aku akan menyimpan memori itu untukmu, kekasihku, karena disana aku juga merindukan kau sebut namaku. Sebuah nama yang kau pinta untuk menggenapkan jiwamu, belahan jiwa, seperti Adam mencari hawa saat kakinya menapaki mayapada. Nama yang meruang dihatimu untuk cintaku akan berbaring abadi disana. Sedihnya, aku tidak disana saat kau bercakap dengan Dia. Yang kutahu, kini, kau mengatupkan hatimu untuk cinta, karena bagimu itu akan membawamu lebih dekat dengan-Nya. Sampai-sampai aku meyakini pasti telah melewatkan penggalan terakhir dialog kejadianmu, atau barangkali kau memang lupa untuk meminta menyebutkan satu nama dalam jajaran permohonanmu.

Antara kau dan Dia

Tuhan pasti tersenyum dengan pilihanmu saat itu. Lalu Dia bertanya, kau ingin jadi manusia seperti apa hai Fulan? Kau tertegun sebelum akhirnya mengulum senyum tulus. ”Biarlah aku menjadikan diriku penyampai pesan-Mu. Akan kutegakkan kakiku di dunia sebagai khalifah pengemban amanah Mu. Menatap dunia dengan mata penuh kasih Mu. Berkarya di bumi untuk membangun surga rahmat Mu. Menuturkan kalam ditiap dzikirku dan selalu menyeru kepada manusia Mu. Menjadi insan kaffah untuk mendayakan daging, darah, keringat dan nafasku untuk menapaki jalan Mu. Karena Kau adalah awal sekaligus akhirku. Kaulah Sang asal dan tempat kembaliku. Aku akan berlaku sebagai kafilah yang teguh dalam kebaikan biarpun hujatan dan tantangan menghadang. Aku tak akan mentertawai dan menghina manusia karena ketidaktahuan mereka. Karena bagiku dunia ini hanyalah persinggahan. Dunia dan isinya tidak akan melenakanku dari memperjuangkan tujuan perutusanku. Aku akan berdiri pada keyakinanku biarpun itu berarti aku harus sendirian menghidupi imanku”.

Bumi pasti terdiam saat itu. Langit segera mengalungkan mendung karena murung demi mendengar puji mu. Seorang makluk lemah telah sombong meminta mengemban amanah yang gunung-gunung dan langit tak sanggup menggenggamnya. Bahkan malaikat meratap ketakutan saat Tuhan meminta mereka memakmurkan bumiNya. Betapa manusia telah bermahkota kesombongan dari sananya.

Akan tetapi Tuhan begitu kasih sehingga diberikan apa yang menjadi pilihan sang manusia, menjadi khalifah di bumi. Lihatlah, Dia dalam kemaha agungannya, Tuhan yang tak perlu penolong untuk menjalankan seluruh jagad raya. Kuasa meletakkan bintang pada manzilah dan tak butuh siapapun untuk membantu menegakkan pilar langit-Nya. Sang pemilik arsy rela mengangsurkan sekelumit takdir pilihan ke tangan sang papa. Titah yang diangsurkan seumpama gulir bulir tasbih yang tak pernah sepi dari tuntunan-Nya.

Bagaimana kau pandang dunia dari tempat mu berdiri sekarang, kekasihku? Tidakkah kau ingat dialog itu, atau nuranimu tak lagi mampu menuntunmu? Sayangnya aku juga alpa mendampingimu dalam imajiku. Duh…
(Sunday, 17/5/2009)

Kangen

Apa itu jauh? Saat selendang waktu dibentangkan dan jarak membentang? Apa itu dekat? Ketika sang hidup hendak dicabut dalam prosesi sakratul maut? Saat kita menaruh seseorang begitu dekat dengan hati kita, memikirkannya tiap saat maka orang itu begitu dalam memasuki kita. Begitu dekat dengan kehidupan kita, denyut jantung kita. Bagaimana mungkin hal itu disebut jauh?

Apa berarti kerinduan ini tak mengharapkan perjumpaan? Tidak seperti itu. Merindukan pertemuan pasti, tapi tak lantas membuat kita tak bisa pegang kendali atas keinginan-keinginan kita. Perjumpaan fisik bukannya merendahkan arti cinta, tidak sama sekali. Tapi terkadang kita perlu berjarak untuk menyelami kedalaman makna mencintai. Agar tidak mereduksi hakikat mencintai dalam bentuk ekspresi formalitas belaka. Melepaskan apa yang begitu ingin kita miliki secara naluriah bisa menjadi bentuk ekspresi meninggikan makna cinta melampaui segala bentuk ekspresi yang kita pandang sebagai sebuah keharusan.

Aku tak merasa mencintai dan merindu sebagai beban yang harus kutangisi. Itu adalah nafas kehidupan yang ditiupkan Tuhan untuk aku bisa menghidupi hari-hariku dengan nuansa yang penuh getar keindahan. Tak tergambarkan getar yang menghidupi jiwaku saat membayangkannya atau menyebut lirih namanya. Rajutan rasa begitu penuh warna yang tak terkatakan.

Begitu sulitkah untuk mengerti bahwa kuasa untuk memiliki apa yang kita cintai bukanlah cinta itu sendiri. Itu adalah nafsu dan egoisme pribadi yang tak sanggup mengikhlaskan cinta untuk tumbuh dengan sendirinya.

Menghidupi cinta adalah merasakan tiap keajaiban yang bermekaran karena keagungannya. Jika kedua jiwa bisa mereguknya bersama dalam ketulusan itulah anugrah yang tiada tara. Tapi jika jiwa-jiwa itu harus menghidupi cintanya sendiri tak sedikitpun itu mengurangi keagungan mencintai.

Kenapa harus selalu memaksakan diri? Mengartikan mencintai sebagai harus saling memiliki. Jika ada rasa yang membentuk ikatan hati antara manusia maka akan selalu ada ruang dimana keduanya untuk selalu bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Ruang hati ”kita” . jadi bagaimana kalau aku bilang tak pernah jauh darimu? Dan ruang dan waktu tak penting bagi cintaku. Karena bisa jadi aku selalu menemukan penawar rindu dengan memasuki ruang hatiku yang dipenuhi rasa mencintai mu. (11/5/2009)

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.