Pengalaman Ramadhan Pertama di USA
18 May 2011 Leave a Comment
in Short Story
Inilah pengalaman pertama saya berpuasa Ramadan di negeri orang. Tak ada keriuhan Ramadan seperti selamatan, ziarah, ataupun pawai kentongan seperti yang saya kenal sejak kecil. Sebaliknya saya berpuasa sendirian di negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim.
Bagian I: Gagal Salat Tarawih Pertama Gara-gara Tak Tahu Awal Puasa
Sejak dua bulan lalu saya menuntut ilmu di Amerika Serikat. Sayatinggal di Kota Waltham, sekitar 16 km dari Boston di Negara bagian Massachusetts. Tidak seperti di Indonesia, warga muslim di Waltham harus aktif mencari informasi dari masjid terdekat atau mengandalkan internet untuk mengetahui jadwal puasa. Tak jarang kami saling menukar informasi melalui milis komunitas muslim.
Tahun ini saya gagal mengikuti salat tarawih pertama karena ragu akan kepastian awal puasa. Dan ini dialami banyak brothers dan sisters, sebutan untuk muslim dan muslimah di AS. Pusat kegiatan muslim di Waltham adalah di sebuah rumah bercat putih dan berlantai dua di 16 Park Place. Rumah yang berhadapan dengan sebuah gereja inilah satu-satunya masjid di Waltham. Tak ada kubah, pengeras suara, atau identitas khas sebuah masjid pada rumah ini. Rumah ini merupakan hibah dari seorang warga muslim Amerika yang ingin umat muslim Waltham memiliki rumah ibadah. Saat ini mereka berupaya membangun tempat ibadah yang lebih permanen. Untuk itu diperlukan dana sekitar 500.000 dolar AS (Rp 4,5 miliar). Menurut seorang pengurus masjid, dana yang terkumpul baru 272.818 dolar AS (Rp 2,4 miliar) yang merupakan hasil swadaya warga muslim Waltham.
Yang sangat terasa ketika berpuasa di AS adalah panjangnya rentang waktu dari subuh hingga magrib. Fajar merekah pada pukul 04.30 dan tenggelam pada 19.30 malam. Karena itu sangat berat bagi saya bila tidak makan sahur. Biasanya saya menyiasatinya dengan makan sahur sebelum tidur. Atau memasak dulu sebelum tidur lalu memanaskannya dengan microwave saat hendak sahur. Saya dan teman-teman biasa memasak sendiri untuk makan sahur. Sebab, berbeda dengan di Indonesia, tidak ada rumah makan yang buka hingga waktu sahur. Bila malas memasak, andalan saya hanya mi instan. Mikir juga kalau sering membeli makan di restoran. Sudah harganya mahal, kami harus memberi tip dan membayar pajak untuk tiap makanan dan pelayanan yang diberikan. Meski puasa tahun ini harus saya lalui di tengah suasana berbeda dan kadang terasa aneh, saya yang tak akan mudah menghapusnya dari ingatan. Surya, 9/6/2010, Monday
Bagian II: Nada Dering Sahur dan Bertukar Menu Buka Puasa
Jauh dari keluarga dan mengingat Lebaran yang sudah di depan mata membuat saya dan beberapa sesama mahasiswa muslim perantauan di kampus Brandeis University di Waltham berusaha menghadirkan suasana Ramadan seperti di kampung halaman. Dengan begitu, setidaknya kerinduan kami sedikit terobati.
“SAHUR, sahur! Tek, tek, tek! Sahur, sahur!” Seruan itu bukan dari rombongan patrol keliling kampung untuk membangunkan warga agar tidak terlambat mempersiapkan sahur. Bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas bulan Ramadan di sebagian besar wilayah Indonesia itu terdengar di pada pukul 16.30 waktu Waltham. Suara itu sontak membuyarkan konsentrasi sekitar 50 mahasiswa internasional yang sedang serius mengikuti perkuliahan Gender and Development oleh Prof Kristina Espinosa. Gelak tawa memenuhi ruang kelas yang mirip auditorium itu. Ternyata itu nada dering alarm ponsel yang diatur oleh seorang teman asal Indonesia untuk mengingatkan waktu sahur bagi keluarganya di Jogjakarta. Kami tertawa bukan karena nada dering patrol itu, melainkan lebih karena melihat si pemilik ponsel yang panik karena gagal mematikan suara ponselnya.
Kami memiliki cara masingmasing untuk mengatasi rasa rindu keluarga di bulan Ramadan. Bagi rekan dari Mesir bulan Ramadan berarti masa tanpa kerja, tanpa belajar, makan makanan enak dan belanja. Di Mesir, Ramadan merupakan masa beranjangsana ke rumah saudara dan teman. Jadi sulit baginya menghapus budaya itu saat di Amerika. Saya sendiri tak sempat berpikir untuk menciptakan romansa Ramadan untuk diri sendiri. Sebab saya harus berjibaku dengan Bahasa Inggris dan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, sebisa mungkin saya mencari kesempatan menambah wawasan agama. Itu pun lebih banyak melalui internet dan bukannya dari forum pengajian. Tausiah, pengajian, dan juga berbagi cerita berpuasa di negeri asing sampai bertukar menu buka puasa kebanyakan kami lakukan secara online.
Saya mendapat cerita dari Indar dan Sasi yang berada di Belanda. Mereka bingung dengan salat tarawih yang berbeda yaitu adanya tambahan salat tiga rakaat tanpa ruku’ di antara dua salat tarawih. Sementara Saiful Rapi, teman yang kuliah di Hawaii, harus menjadi ustad dadakan karena memberi penjelasan lengkap dengan dalil untuk menjawab kebingungan anggota ‘jemaah online’. Atau cerita teman-teman di Inggris yang tiap kali harus menjelaskan soal jam makan mereka yang ‘aneh’ saat menghadiri pesta atau undangan makan dari universitas dan teman-teman mereka. Surya, 9/7/2010, Tuesday
Bagian III: Sebar Makna Ramadan di Milis Kampus
Menjadi muslim di Amerika Serikat seharusnya terasa berat. Nyatanya, warga Amerika menganggap kehidupan spiritual adalah urusan pribadi. Kami bebas beribadah, bahkan di kampus.Brandeis University merupakan universitas Yahudi. Didirikan pada 1948, perguruan tinggi itu memproklamasikan sebagai lembaga nonsektarian. Brandeis memberi kesempatan setiap mahasiswa dari semua keyakinan untuk beraktualisasi. Bagi kami, mahasiswa pendatang dan muslim, perguruan tinggi ini memberi manfaat besar. Jika penganut Yahudi memiliki tiga tempat ibadah di kampus, mahasiswa muslim memiliki sekretariat yang menjadi pusat kegiatan Muslim Student Association (MSA). Tempatnya cukup representatif. Di situ kami menjalankan ibadah salat lima waktu, salat Jumat dan Tarawih.
Jangan membayangkan para pengurus MSAitu berjilbab panjang, atau berjenggot bagi bagi yang cowok. Walaupun berasal dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Afghanistan, Irak, Iran, dan Mesir, gaya berbusana mereka tak ubahnya anak muda Amerika lainnya. Saat menjalankan salat, mereka mengenakan celana jins dan jumper (jaket bertudung). Yang perempuan pun tidak mengenal mukena. Di berbagai kesempatan resmi, baik di forum atau situs universitas, komunitas muslim diperkenankan menyampaikan hal-hal terkait Ramadan.
Pada pekan orientasi penerimaan mahasiswa pascasarjana seorang mahasiswa diberi kesempatan menjelaskan makna puasa dan menjabarkannya lewat milis bisa diakses semua civitas akademika. Maka, yang saya alami berpuasa bukan lagi seperti ritual ‘aneh’ di lingkungan kampus Brandeis. Sebaliknya saya merasa malu kalau tidak berpuasa. Jadi sungkan kalau makan dan minum seenaknya. Hampir setiap orang di kampus memiliki pemahaman soal bulan spesial umat muslim ini. Atmosfer pemahaman itu kian mudah diciptakan karena saya berada di program internasional yang mahasiswanya berasal dari berbagai negara dengan latar belakang berbeda. Seorang teman dari Ghana, namanya Jerry Yakubu Yahya, punya cerita soal Ramadan tahun ini. Penganut Kristen Ortodoks ini menahan lapar dengan tetap minum untuk menghormati teman-teman muslimnya. Kegagapan, keterasingan dan kesepian menjalani jauh dari keluarga telah memberi saya ruang untuk melihat diri dan keberadaan dari sudut pandang berbeda. Surya, 9/8/2010, Wednesday
Ambigu
11 May 2011 Leave a Comment
in Inisiasi
Pikir dan hati terasa terbelah. Kenyataan mengungkung seakan selalu setia berjarak dengan rasaku. Kaki kerap berpijak di tanah yang salah. Keberadaan menjadi semu. Dimana keberadaan mesti ditancapkan dan identitas ingin dikukuhkan dalam rasa yang berjarak? Tatapku mendamba hadirmu di tiap lekuk liku kisah yang menantiku. Meski bibirku mengatup angkuh abai rengkuhan tanganmu. Ragaku hanyalah tiang lemah yang disangga mimpi-mimpi perjumpaan denganmu. Kulitku menyisakan lapis tipis peka rasa oleh kehidupan yang selalu hadir atas kemurahanmu. Aku lepas hanya dalam kesendirian. Menari menghidupi keberadaanmu. Gagu dan kembali membisu saat kau lemparkan derai tawa dan renyah suara lainnya.
Kembali. Topanglah ragaku. Ruas-ruas tulangku telah lolos dikikis keropos jiwaku. Jangan. Terpikir oleh mu untuk melepaskan erat pelukmu. Aku akan meronta. Mengukir pedih di dinding hatimu dengan tatapan sembiluku. Menghujanimu dengan kata agar menjauhiku. Merajah jiwamu dengan penolakan tak terkira. Jangan. Seinci pun kau insutkan kaki merentang jarak dariku. Karena urat diseluruh nadiku telah membiru menguncup harap akan bersanding denganmu.
Setialah. Mengecup keningku. Mengalirkan kehidupan untukku. Kubuat kau disibukkan oleh ketidak mengertian. Mengeja tiap gerak lakuku yang kini menjadi asing di matamu. Mencoba memasukiku dan merasakan tiap galau yang barangkali luput dari denyut pemahamanmu. Teruslah mereka angka, kata atau lenggang pesan yang mungkin saja pernah kusampaikan. Biarkan kulihat masai rasamu. Tetaplah bertahan. Bersabar sesaat lagi. Agar tak kau kenali nafasku yang tanggal satu per satu di pendek waktuku.
Berdua kita berjuang. Melepaskan mimpi yang pernah kita kukuhkan bersama. Melupakan apa yang tak akan terengkuh disatu kehidupan. Tak mampu lagi kuingat. Saat kekosongan menabiri keberadaan. Mengkotakkan kita kembali menjadi aku dan kamu. Setia aku mendambamu dalam bisu.
Bacalah. Saat paripurna aku terlepas. Sepucuk surat yang kutinggalkan untukmu. Lihatlah betapa mata-mata pena telah meretaskan jalanku untuk kembali menggapaimu. Tinta-tinta itu seperti aliran sungai yang membawaku melintasi lorong waktu. Tuk tak melepas kesadaranku mengada untukmu. Secarik kertas adalah papyrus dimana ku penjarakan pikiran-pikiran yang berlarian di kepalaku. Kuciptakan kodex untuk kau baca sepeninggalku. Sebuah dokumentasi pemikiran menuju ketiadaan. Jangan. Kau palingkan wajahmu saat membacanya. Biarkan sedih melatari saat kau mengejanya. Kenalilah makna dibalik kaku symbol yang tercipta dari perjalanan yang terlupa. Karena makna dibaliknyalah yang akan membuatmu bisa melihat rona merah wajahku yang memudar saat kau selesai membacanya. MA, 5/11/11, Wednesday
Facebook: Eksistensi yang Abstrak?
04 May 2011 Leave a Comment
in Article
Begitu banyak kepala, begitu banyak pendapat (Quot capit, tot sensus)(Horace)
Facebook sebagai fenomena sosial, salah satu jejaring sosial di era digital. Fenomena ini seharusnya juga menuntut kemajuan para pemikir sosial (social scientists) untuk mengkontekskan keilmuan di masa kekinian. Mempelajari ilmu sosial sudah saatnya berhenti melakukan sekedar studi pemikiran tetapi lebih jauh adalah mempelajari persoalan manusia. Dan facebook menjadi suatu lompatan kemanusiaan, yaitu kembalinya, belum terputusnya, manusia modern yang individualitis dari kodrat inherennya sebagai makluk sosial.
Seperti juga kehidupan akan menemukan jalannya, libido sosial juga menemukan aktualisasinya. Sangat menarik melihat sahabat lama yang telah menjalani hidupnya sendiri-sendiri bertemu dan kembali mengikatkan keakraban seperti dulu, seakan waktu dan jarak hilang begitu saja. Bagaimana manusia saling bertemu di kampung virtual mengingatkan kita pada film futuristik yang di bintangi oleh Keanu Reeve, Matrix. Ségala pernik kehidupan hanyalah simulasi di film yang berlanjut sampai tiga sekuel itu.
Facebook, semua aktifitas ‘sosial’ bisa dilakukan oleh fesbuker, julukan bagi mereka yang aktif dijejaring sosial facebook. Membangun pertemanan, bentuk baru interaksi antar manusia sampai model baru perselingkuhan. Penggalangan dukungan, sampai penyebaran pemikiran dan pandangan terhadap kejadian di dunia. Tidak perlu menjadi aktivis untuk bisa aktif dalam sebuah gerakan isu-isu sosial. Semuanya begitu cair. Satu-satunya hal yang tampak jelas adalah bagaimana beraktualisasi?
Ukuran kedekatan personal di facebook juga sangat menarik. Semua bermain dalam simbol. Baik untuk ekspresi personal sampai untuk menunjukkan derajat kedekatan. Seperti saling mengirim bingkisan ulang tahun, ataupun ucapan-ucapan bentuk perhatian dan persahabatan, ataupun saling berkunjung dan membantu (social bounding) lewat bentuk-bentuk permainan dunia maya semisal, Farmville, dan Pet Society. Tak terkecuali memploklamirkan kedekatan ikatan emosional dalam status seperti, in relationship, in open relationship, complicated, dan lain sebagainya. Disini ada sebuah eksistensi jati diri manusia yang dibentuk sangat intens.
Tidakkah ini justru meneguhkan terpecahnya kepribadian manusia (split personality) di era komputer ini ? Mereka hidup di dua dunia, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Bahkan mungkin dengan dua identitas dan dua kepribadian sekaligus.
Pertanyaannya, eksistensi diri di Facebook tidakkah ada yang menyadari suatu yang hanya abstraksi. Menurut Kamus Filsafat Lorens Bagus abstrak secara harfiah berarti ”terlepas dari ”, ”ditarik dari”. Pemahaman bersifat abstrak kalau tidak ada kaitan dengan intuisi indrawi atau kalau penyajian-penyajian pemahaman itu menggambarkan obyeknya tanpa ciri-ciri individual (hal.6) Astraksi, pengertian umum, merupakan sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang bersifat universal. Proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai obyek individual yang bersifat spasio-temporal (ruang dan waktu). Pikiran melepaskan sifat individual dari obyek dan membentuk konsep universal (hal.7). Suatu yang dianggap interaksi sosial sebenarnya sangat minus relasi yang penuh dengan sentuhan kemanusiaan. Sebentar lagi tak mengherankan jika facebook akan menjadi virus adiktif yang mencandu dan merusak banyak sendi kehidupan sosial pelakunya. Tak mengherankan jika mulai muncul berbagai kecemasan disebabkan oleh situs jejaring sosial ini seperti, sweeping facebook di perusahaan karena turunnya produktivitas karyawan, retaknya relasi atau sebuah hubungan karena virtual affair pasangan di facebook.
Dengan menginjakkan kaki di kampung virtual facebook semua memang terasa penuh warna. Bagaimana semua orang di dunia seolah menyambut kita. Kita bisa menjadi siapa atau apa saja, realitas bentukan yang sangat menggiurkan karena kita bisa tinggal memdesainnya. Walaupun terkadang segalanya bisa mereduksi standar dan penilaian sosial, tapi bahwa facebook benar-benar telah menjadi dunia khayalan yang menyihir dan membabukkan berbagai kalangan tanpa memandang status sosial, umur, ataupun jenis kelamin.
Harapannya sebagai hasil kemajuan, facebook tidak menjadi pisau bermata ganda. Situs pertemanan facebook tak hanya menjadi candu yang melenakan tapi bisa membuat pelakunya tetap berpijak pada realita. Yaitu tak hanya menghabiskan kualitas terbaik hidupnya (time management) dan produktivitas mereka dengan hanya getol bersosialisasi di dunia maya, tapi juga bisa menjadi arena aktualisasi eksistensi seperti mengasah kemampuan untuk mengartikulasikan gagasan lewat tulisan, atau memperluas wawasan lewat berbagai group-group ‘serius’. Seperti group penulis, pecinta buku, dan lain sebagainya yang tak hanya menyajikan pembahasan kajian bidang tertentu juga dapat melibatkan keikutsertaan facebooker untuk aktif kerlibat dalam pengayaan pemikiran lewat forum-forum diskusi terbuka. Part 1. (Jkt/MA, 12/2/2009)
Suicide
04 May 2011 1 Comment
in Inisiasi
Tak akan kujejakan kakiku di ranah moral. Ini bukanlah perdebatan. Cacian tak akan menyentuh apalagi memberikan pengharapan bagi mereka. Menggurui tak akan banyak berguna. Karena barangkali sakit yang mereka derita berakar pada kedalaman jiwa yang tak pernah terkata. Luka yang sering membuat mereka membisu karena pedih yang tak terkira. Pahit yang menghimpit hingga menciutkan parit-parit jiwa mereka.
Mereka ingin perpaling padamu. Di sayu tatap mereka ada sesuatu yang sarat ingin mereka curahkan. Mereka berharap pertolongan. Berharap diselamatkan dari mencintai kematian. Mereka ingin menggapaimu agar sesaat saja terbebaskan dari kungkungan dera kepenatan yang melumpuhkan pijar harapan.
Mereka urung mengulurkan tangan. Kembali menyurukkan kepalanya di bawah bantal. Mengubur isak tangis yang sekian waktu tertahan demi melihat kejinya tatapan kalian. Barangkali kita harus mengadili diri kita sendiri atas keputusan mereka menyegarakan menjemput kematian. Karena lidah kita lebih pandai mencerca daripada menyejukkan jiwa. Kita lebih pandai menghancurkan daripada membangun harapan.
Percakapan kalian terekam dalam lantang kepongahan. Seakan kalian bisa menyelam jauh ke ulu hati dan merasai tiap detik pergulatan hidup mereka.
Kata Tini, “”hidup ini membosankan, aku tak berdaya, dunia ini menyesakkan, tak ada yg sayang dan peduli sama aku, Tuhan tdk adil, semua sia-sia, semua jalan buntu…” begitulah kira-kira yang ada dalam benak para pelaku bunuh diri. Para pelaku bunuh diri pastilah beranggapan dengan mempercepat kematian maka semua persoalan terselesaikan”.
Angle menimpali, “Bisa jadi kalau saja pelaku bunuh diri itu benar-benar ingin merasakan surga Tuhan pastilah mereka urung melakukannya. Hidup benar-benar memuakkan sampai tiada lagi ruang rasional dalam diri sang pelaku. Perasalahan kehidupan terselesaikan bagi dirinya sendiri. Saat masuk kedunia tempat tinggal abadi, problem baru sudah menanti”.
Tini berpendapat sedikit filosopis bahwa dunia atau hidup ini masalah atau bukan tergantung bagaimana cara memandangnya. Referensi seseorang dalam memahami diri alam dan tuhannya sangat mempengaruhi seseorg dalam memaknai hidupnya.
Tami tak mau ketinggalan menyampaikan pendapatnya bahwa, “kadang ada term dimana masa-masa itu sangat menyesakkan. Jika kepedulian sedikit saja datang terlambat. Bisa-bisa mereka sudah akan menjatuhkan diri dari lantai kesekian, menggantung diri, atau menyayat pergelangan tangan mereka. Ada jeda,kekosongan, dalam hidup. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian mereka-mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan para pelaku. Karena “kesunyian” memungkinkan orang menentukan pilihan itu…
Tini mengomentari pendapat Tami dengan mengatakan fenomena bunuh diri terjadi pada individu yg justru cenderung egois. Mereka hanya suka memikirkan dirinya sendiri. Egosentris. Menganggap diri mereka sebagai pusat segala-galanya. Segala sesuatu dipandang dari sudut kepentingan mereka belaka. Hal itu membuat mereka terjebak frustasi. Terapinya mudah , ajak orang-orang kesepian itu memikirkan sekeliling. Banyak persoalan yang lebih berat dari pada persoalan diri sendiri”.
Tami coba berargumentasi. Katanya, “Egosentris dan pikiran yang ada di kepala mereka adalah sumbernya. Apapun, besar atau kecil tetaplah masalah yang harus dicari solusinya. Terapinya bagus, orang-orang tersebut perlu dituntun untuk mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut”.
Alam pun ikut menyumbangkan pikiran, “Kenyataanya, pil tidur tak lagi mampu menyelesaikan masalah bagi para pengidap depresi. Jadi bawa saja mereka ke Antartika untuk menyaksikan Gletser mencair. Siapa tahu mereka bisa memetik hikmah kehidupan dari situ”.
Tini mengamini, “Betul sekali! Dari dunia mikro individu yang sempit menuju dunia makro kesemestaan yg luas membentang. Dunia tak selebar daun jambu.
Hari ini mereka bercakap tentang orang yang “melampaui” batas. Mereka yang memutuskan untuk menetak nadi, menggantung diri, menenggelamkan diri. Mereka yang memilih untuk membunuh dirinya sendiri.
Apa yang kita tahu tentang “pilihan” mereka? Barangkali tak seorangpun ada atau sanggup menawarkan bantuan ketika mereka membutuhkan. Saat mereka bergumul dengan kepedihan, kepahitan, kehilangan atau ketakberdayaan yang merenggut batas kesanggupan individual mereka sebagai makluk.
Kita tak ada disana saat mereka berusaha berlari dari kejaran rasa ingin menikam atau menguliti diri sendiri. Memalingkan muka dengan isak dan sesak oleh ketakutan terhadap pikiran-pikiran rayuan kematian. Menepis suara-suara yang datang dari sudut kegelapan yang barangkali juga mereka berjuang untuk mengeyahkannya. Atau saat mereka mengais-ngais kekuatan diri yang tersisa dengan berlari pada teori, merunut referensi, mencari jawab di kitab suci hanya untuk berusaha mengobati diri sendiri. Kita juga tidak tahu pergulatan fisik, kegalaun jiwa antara berdosa dan tak kuasa yang meredupkan api harapan yang dengan sekuat tenaga ingin dihidupkan. Ironi. Paradoks. Kesakitan yang tak seorangpun di luar sana turut menghidupinya.
Bagaimana kalau keputusan mereka itu bukan lahir dari keputusasaan? Bagaimana kalau itu adalah sebuah bentuk “keberanian”? Karena bisa jadi mereka yang pada akhirnya merenggut nyawanya sendiri telah melampaui berpuluh atau mungkin ribuan kali diantara pilihan. Jatuh bangun menjaga kewarasan dan mengantang keinginan untuk merenggut esensi diri sendiri. Pergulatan yang barangkali menguras segala daya kehidupan yang mereka punyai. Ketakutan akan pengadilan moral, sosial, dan keterikatan pada mereka yang dicintai. Kompleksitas perang batin yang tak bisa dikatakan mudah.
Hingga pada akhirnya mereka sampai pada keputusan memutus segala pertentangan. Mengakiri pergulatan panjang yang melelahkan. Kepenatan yang mengantarkan mereka melihat satu pilihan.
Kenyataannya, setiap persoalan hidup adalah relatif. Bukan hanya dalam kadar kuantitatif dan kualitatifnya tapi juga bagi diri yang dihadapkan pada pernik masing-masing hidup mereka. Lali mengapa kita menggunakan subyektifitas kita untuk menilai persolan hidup orang lain? Penilaian yang seringkali hanya bersandarkan pada kisah hidup kita sendiri sebagai referensi dan satu-satunya ukuran untuk mengkuantifikasi persoalan orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengeneralisasi dunia dengan subyektifitas kita?
Penilaian secara subjektif tidak hanya akan bias tapi juga jatuh pada simplifikasi dan menafikkan kompleksita factor dalam peristiwa bunuh diri. Membuat kita enggan melihat aspek sosial, pendidikan, akses informasi (pertolongan), psikologi, atau barangkali sejarah. Banyak hal yang miskin dari kacamata keakuan yang sering mewarnai sudut pandang kita dalam memandang tiap persoalan.
Coretan ini bukanlah pembelaan terhadap mereka yang memilih untuk mengakiri hidupnya sendiri, hanya sekedar pengingat agar kita tak mudah untuk menghakimi. (MA,January 6, 2011)
Luruh
09 Aug 2010 Leave a Comment
in Inisiasi
Bara itu melumer tak seiring dentang waktu melaju. Gumpalan masa lalu luruh keangkuhannya bukan seperti ombak yang setia mengikis karang. Senja, petangku menghilang sesaat setelah kau menjelang. Kilatan hadirmu mengusap segala pekat dan mengembalikan fajar dimuram takdirku.
Apakah kebetulan saat senja itu kita kembali dipertemukan? Dunia fantasi tiba-tiba menjelma kenyataan ketika tak sengaja tatap dipertautkan. Momen sekejap yang menyihir titian ketidakpastian menjadi pemandu penuh keajaiban menuju muara pencarian.
Akankah kembali dipertemukan jika mega beriring tak berseberangan dengan mendung? Anak-anak hujan, kilat, dan halilintar bersiap untuk dilahirkan. Akankah bersua puncak pengharapan dikala kemudahan ditiadakan. Kau bilang tak akan menghiba pada sang waktu. Biarpun rindumu buncah ditelan waktu yang menyusut segala ceriamu. Kau bilang tak akan menyerah pada kepongahan takdir yang akan merenggutku darimu. Sumpahmu tak akan luruh oleh pendar bintang-bintang ataupun pekat yang merundung. Hatimu akan sepeturut asa yang digembalakan oleh cinta.
Sementara itu, aku mengukirmu dalam ragu. Dilingkaran luar penjara masa lalu hati-hati kusematkan kau dilapis terluar. Memberimu jarak cukup jauh dari pergesekan roda waktu yang masih mengungkungku. Memberimu ruang untuk tak terlalu dekat agar terjaga dari luka yang membuatmu membiru. Akan tetapi pusaran itu tak kuasa kujauhkan darimu. Hatiku membatu. Kulihat senyum merekah saat kau terseret keurat cerita yang ingin kutepis tanpa sisa. Kau merengkuh segalanya dengan kedua tangan terbuka. Hatiku kembali menghangat bukan oleh cinta tapi penerimaan yang tiada purbasangka.
Tak mampu kujanjikan keabadian dalam tiap untaian rasaku. Tak berani kupatrikan ketulusan dalam derap langkah yang kuukir bersamamu. Hanya sebuah kesadaran bahwa hatiku kembali menemukan arah pulang. Aku diam. (MA, 9/8/10)
Perceraian dan Otonomi Perempuan
16 Jul 2010 1 Comment
in Article
Saat prosesi pernikahan dilangsungkan tak satu pasanganpun yang merencanakan perceraian. Bersatu sampai till dead do us part adalah impian mereka. Bunga-bunga cinta diharapkanakan terus bersemi dan bermekaran. Realitanya dalam perjalanan onak duri dan ombak badai kehidupan perkawinan menciptakan jurang perbedaan yang tak terjembatani. Perbedaan yang dulu tidak nampak kian memperburuk keadaan sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.
Tingginya angka perceraian, dikalangan selebritis contohnya, pertanda telah runtuhnya norma tabu dalam masyarakat. Kalangan menengah atas tak lagi memandang perceraian sebagai hal yang dapat memporak-porandakan citra atau imej dirinya. Sakralitas nilai lembaga keluarga perlahan luntur. Grafik melonjaknya angka perceraian seperti bukan lagi hal yang patut diresahkan. Bahkan berbagai media memasukkan perceraian dalam acara yang bertajuk infotainment. Pemberitaan hancurnya ikatan perkawinan bukan lagi menjadi berita yang menerbitkan keprihatinan, sebaliknya menjadi info ringan yang disebut hiburan.
Hal menarik dari maraknya perceraian dikalangan selebritis adalah pihak istri yang mengajukan gugatan cerai. Berbagai alasan mengemuka sebagai sebab perceraian diantaranya, kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) yang dilakukan suami kepada pihak istri baik secara fisik, ekonomi, maupun psikologis, adanya perselingkuhan (infidelity), dan lain sebagainya.
Kemandirian finansial istri agaknya tak bisa dipungkiri sebagai factor utama kepercayaan diri dan keberanian istri berinisiatif terlebih dulu mengajukan gugatan cerai kepada suami. Stabilitas ekonomi secara signifikan meningkatkan kepercayaan diri (self esteem) dan otonomi perempuan untuk dapat melanjutkan hidup tanpa tunjangan suami setelah putusnya ikatan perkawinan.
Bagaimanapun rumah tangga adalah institusi yang tak berdimensi tunggal. Pernikahan tak hanya sebatas ikatan hukum antara sepasang manusia dewasa yang terdiri dari suami dan istri, akan tetapi ada anak-anak di dalamnya. Jika biduk rumah tangga terpaksa harus diakhiri, dalam konteks ini atas inisiatif si perempuan, maka sebab-musababnya haruslah yang secara substansial bisa diterima selain merupakan hak perempuan sebagai otonomous person, individu yang merdeka dan rasional, untuk memutuskan keluar dari relasi yang tidak sehat dengan pasangannya. dan bukan sebagai bentuk individualistis atau egoism yang kebablasan sehingga bisa mempengaruhi terjadinya pembusukan dalam lembaga masyarakat.
Otonomi perempuan
Bangkitnya otonomi perempuan ditandai dengan tumbuhnya kesadaran pada diri mereka sebagai makluk yang rasional. Analisis feminis liberal menemukan relevansi dalam hal ini bahwa sifat dasariah manusia yang unik adalah kemampuan rasionalnya. Menurut Allison Jaggar, salah satu tokoh feminis liberal, bila akal didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengerti prinsip-prinsip rasionalitas moralitas dengan demikian nilai otonomi individual tidak dapat dielakkan. Dan bila akal didefinisikan sebagai kemampuan untuk memilih cara yang terbaik guna mendapatkan hasil yang diinginkan, maka pemenuhan diri (self fulfillment) ditekankan (Jurnal Perempuan, Edisi 05, November-Januari 1998).
Karena itu salah satu tujuan feminis liberal adalah menuntut dibukanya kesempatan yang adil, yakni terciptanya masyarakat yang memungkinkan individu untuk mempraktekkan otonomi dirinya dan mengisi serta memenuhi dirinya. Feminis liberal salah satunya menginginkan adanya kesetaraan distribusi kekayaan. Karena kesejahteraan dan kiprah perempuan dalam memperjuangkan kemandirian ekonomi bisa menjadi pintu pembebas bagi perempuan dari ketertindasan. Otonomi ekonomi bisa membawa perempuan menuju pribadi yang berdaya. Personal rasional yang membebaskan diri dari norma-norma yang menghadirkan peranan gender opresif dan bersifat misoginis.
Selama ini, lembaga perkawinan disebut sebagai pelanggeng nilai-nilai bentukan (nurture) yang tegas dalam memandang perbedaan gender. Hal ini bisa ditunjukkan dengan pembagian peran secara konvensional yaitu perempuan sebagai ibu rumah tangga (house keeper) dan laki-laki sebagai pencari nafkah (bread winner). Posisi ini membuat perempuan mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi secara ekonomis, psikologis, dan sosial kepada laki-laki (suami).
Selanjutnya kenapa keberanian untuk menggugat cerai banyak timbul dikalangan perempuan yang mandiri secara ekonomi? Rupanya telah terjadi pergeseran pemaknaan perkawinan dan cara mereka memposisikan diri dalam pernikahan yang dijalaninya. Jika dulu mereka menjadi “konco wingking” pendamping suami, dan menerima peran yang dibedakan secara diametral antara suami-istri, sekarang tidak lagi. Kerigitan garis peran itu perlahan menghilang saat perempuan ikut menyumbang pendapatan keluarga. Kaum perempuan selangkah demi selangkah maju ke depan, dan mulai ikut menentukan jalannya roda perkawinan. Mereka tak mau lagi ditempatkan sebagai manusia kedua dalam rumah tangganya sendiri. Perlahan tapi pasti, perempuan mulai memiliki jati diri. Perempuan mulai bertindak secara otonom dan menjadi manusia matang. Perempuan dengan kemampuan rasionalnya tidak lagi sebagai the second creature, mereka juga adalah ‘hasil akhir’ penciptaan itu sendiri, seorang agen rasional yang mempunyai kemampuan dan kehendak sendiri.
Jika perkawinan tak berjalan sebagaimana yang diharapkan, seperti tidak bahagia atau terjadi ketidakcocokan yang tak lagi bisa didamaikan maka, mereka menjadi lebih berani untuk meminta talak. Perempuan tak lagi bersedia hidup dalam kemunafikan falsafah lama agar supaya selalu ‘jogo projo’ (menjaga ‘kerajaan’) yaitu, meredam persoalan dengan diam demi tetap utuhnya bangunan rumah tangga walaupun itu hanya sekedar kepura-puraan.
Kematangan jatidiri perempuan mapan membuat mereka, kelihatannya, seminimal mungkin memasukkan faktor penimbang, seperti keberadaan anak dalam urusan perceraian. Mereka lebih terfokus pada kepuasan dirinya terlebih dulu. atau, mereka berpendapat tuntutan cerai yang mereka upayakan adalah demi kebaikan semua orang yang mereka cintai, termasuk anak-anak hasil dari perkawinan tersebut. Jadi mencintai pihak lain tanpa lepas dari mencintai dan memperhatikan keutamaan diri pribadi perempuan itu sendiri. Mereka seakan bertanya, “Bagaimana bisa memberi kebahagiaan, jika diri mereka sendiri tak bahagia?”
Perjanjian Pranikah
Tuntutan kesetaraan dalam perkawinan juga telah coba diwujudkan sebelum ikrar sumpah pernikahan dilangsungkan yaitu dengan ditandatanganinya surat perjanjian pranikah. Tak jarang perjanjian pranikah ini dilakukan secara legal formal dan mengandung konsekuensi hukum yang mengikat kedua belah pihak. Perjanjian pranikah ini membuktikan tuntutan kedudukan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Meski perjanjian pranikah dalam budaya Indonesia belum begitu lazim akan tetapi saat ini tak sedikit pasangan muda yang melakukannya. Awalnya ini lebih banyak untuk melindungi kepentingan pihak perempuan, hal itu karena perempuan sering menerima perlakuan diskriminatif dan sewenang-wenang dalam rumah tangganya sendiri. Sekarang kedua belah pihak berpikir lebih rasional dalam membentuk ikatan rumah tangga dan menganggap perjanjian pranikah adalah hal yang perlu. Perkawinan yang tadinya bersifat emotif (based love) telah bergeser menjadi ikatan rasional material –tak melepaskan kalkulasi untung rugi dan antipasti segala resiko-. Apa sebenarnya yang terjadi dalam cara pandang masyarakat tentang lembaga perkawinan di era sekarang ini?
Paradigma perkawinan harus diakui telah mengalami pergeseran. Rupanya perkembangan dunia juga telah berimbas pada institusi sosial inti yang bernama perkawinan. Jika dulunya definisi perkawinan sebagai ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dengan tujuan melanjutkan keturunan, sekarang perkawinan bisa jadi adalah sebuah ikatan bisnis yang bertujuan untuk mencari keuntungan. Termasuk juga perhitungan jeli menyangkut soal anak. Kesepakatan untuk memiliki anak atau tidak, siapa yang akan memberi tunjangan hidup atau biaya pendidikan bisa dibuat perjanjiannya secara hitam putih dari dini.
Perjanjian pranikah ini bisa menjamin otonomi perempuan untuk tetap terjaga hak-haknya bila terjadi perceraian. Keniscayaan perceraian menjadi hal yang memang telah diantisipasi dan tidak dihindari sebagai konsekuensi yang sangat mungkin akan dialami dimasa depan. Ini adalah contoh ekstrim dari perencanaan, sekaligus penanda rentannya, pernikahan di jaman sekarang. Persoalan yang sangat ditabukan untuk ucapkan dan dipikirkan oleh pasangan tempoe doeloe.
Perceraian: Pembusukan Moral?
Otonomi perempuan seyogyanya bisa membuka pola hubungan yang lebih sejajar dan berkeadilan untuk menciptakan bangunan rumah tangga yang kokoh dan ideal. Oleh karena otonomi diri tentunya tak pernah dimaksudkan untuk memberi kuasa sewenang-wenang pada setiap individu untuk memutuskan sebuah ikatan, terlebih ikatan perkawinan yang multi dimensi.
Harus disadari bahwa kehancuran sebuah rumah tangga berarti runtuhnya elemen dasar penyusun masyarakat. Keruntuhan itu tak hanya akan dipetik dampaknya seketika palu perceraian diketukkan. Tidak hanya kedua belah pihak yang memilih kembali menjalani hidupnya sendiri-sendiri yang memerlukan waktu ‘menyembuhkan diri’ untuk beradaptasi dengan kehidupan mereka yang baru. Terlebih anak-anak yang berada di tengah badai dan keretakan memerlukan masa yang jauh lebih lama untuk memahami apa yang terjadi diantara keduanya orang tuanya sebelum mereka mampu atau tidak nantinya menerima keadaan.
Anak yang tak bisa cepat pulih dari trauma akan tumbuh sebagai orang muda dengan kepribadian yang retak. Manusia dewasa yang labil hingga mudah terjerumus dan berperilaku yang menyimpang. Menjadikan dekandensi sebagai pelarian dari kepahitan yang mereka jalani. Kecanduan obat-obat terlarang, akrab dengan kekerasan, dan perilaku yang melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat lainnya bisa jadi akan menjadi pilihan untuk mereka mencari ‘jati diri’. Mereka menjadi pemuda yang biasa dilekatkan julukan anak-anak bermasalah yang gemar melanggar pranata social (juvenile delequentcy).
Sebenarnya satu yang sering tidak disadari ketika sebuah perceraian terjadi, adalah bukan hanya hancurnya fungsi yang harus dijalani oleh sebuah lembaga keluarga, seperti pewarisan nilai (education), afeksi (affection), edukasi (education), dan sosialisasi (socialization). Tapi juga lenyapnya fondasi jaringan sosial mendasar yang ada dalam sebuah masyarakat. Hingga bisa dikatakan perceraian -sebagai hal yang tidak pernah diimpikan- bisa menyumbang terjadinya kebusukan moral (moral decay) yang serius dalam masyarakat.
Lalu, apakah keluarga yang tidak bercerai tapi dengan kehidupan yang jauh dari harmonis lebih baik daripada perceraian itu sendiri? Atau bagaimana dampak serius kehancuran masyarakat bisa diminimalisir andaikata sebuah perceraian terpaksanya terjadi sebagai kenyataan yang tak terhindarkan? (5/9/09)
Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan: Reafirmasi Deklarasi Rio de Janeiro
16 Jul 2010 Leave a Comment
in Article
“There will be no sustainable development without women empowerment”
Pada 3-14 Juni 1992 yang lalu diselenggarakan konfrensi tingkat tinggi di Rio de Janeiro oleh The United Nations Conference on Environment and Development sebagai tindak lanjut dari the Declaration of the United Nations Conference on the Human Environment di Stockholm pada 16 Juni duluh tahun sebelumnya. Konferensi ini bertujuan membangun bentuk baru kerjasama Negara-negara di dunia untuk perlindungan lingkungan global melalui paradigma pembangunan yang berspektif lingkungan. Pertemuan itu berupaya menggalang kesepakatan internasional untuk melindungi secara menyeluruh alam lingkungan dunia dan system pembangunan yang berkelanjutan seperti halnya tertuang dalam kedua puluh tujuh pasalnya.
Konferensi itu pada dasarnya adalah wujud meluasnya kesadaran dunia akan menurunnya daya dukung lingkungan akibat pembangunan. Menilik catatan sejarah telah banyak terjadi tragedi sepanjang rentang upaya membangun kesadaran bahwa alam tidak hanya berposisi sebagai kapital tapi juga aset dalam pembangunan. Ini seharusnya membawa pada perubahan paradigma dalam memposisikan sumber daya alam dan ekses pembangunan, dalam hal ini kerusakan alam, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Dimana ada upaya mengelola ekses pembangunan dan mereposisikan alam bukan hanya sebagai obyek untuk dieksploitasi melainkan harus dijaga dan dikembangkan demi kelangsungan tujuan pembangunan itu sendiri.
Hikmah sejarah dan kondisi alam lingkungan global yang mengalami perubahan secara ekstrim dalam lima puluh tahun belakangan ini seperti, fenomena global warnming, climate change, seharusnya membuat kita semakin terpacu untuk mencari terobosan pemikiran tentang pembangunan yang berkelanjutan. Mundur kebelakang selama kurun waktu kurang lebih tiga puluh tahun setelah penandatanganan Deklarasi Stockholm kita justru dihadapkan pada realita mengerikan tragedi demi tragedi yang diakibatkan oleh salah urus pembangunan. Orang pasti akan bergidik ngeri jika disebutkan kata Chernobyl. Kebocoran reaktor nuklir nomer empat di Ukraina pada tanggal 26 April 1986 mengakibatkan puluhan orang meninggal, dan ribuan lainnya terpapar radiasi tinggi, yang berpuluh kali lipat dari radiasi bom atom Hiroshima-Nagasaki, sehingga terpaksa harus dievakuasi. Bhopal, salah satu kota industri di India, pada tanggal 2-3 Desember 1984 perusahaan Union Carbide (UCIL) salah satu reaktor pestisida perusahaan kimia yang dibangun di tengah pemukiman padat penduduk melepaskan gas methyl isocyanate pada tengah malam. Menurut laporan pemerintah korban diperkirakan mencapai lebih dari 15.000 orang. Tragedi ini begitu memilukan karena ditemukan korban anak-anak, laki-laki dan perempuan dengan kondisi yang sangat mengerikan seperti, kebutaan total, kulit tubuh yang terbakar, paru-paru terbakar, dan lain sebagainya. Bahkan hingga hari ini saat kita melihat foto-foto korban di situs-situs internet niscaya akan membuat kita memalingkan muka karena kengeriannya. Di Negara adi daya seperti Amerika pada tahun 1978 juga mencatat bencana Love Canal sebagai tragedi ‘pembangunan’ terburuk sepanjang sejarah. Love Canal adalah pemukiman penduduk menengah bawah yang dibangun di atas tempat pembuangan limbah perusahaan pabrik kimia Hooker Chemical Company. Tak seindah namanya, Love Canal, bencana akibat rembesan bahan beracun berbahaya menimbulkan pencemaran udara, tanah dan sumber mata air sehingga mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti, kanker, keguguran, anak lahir cacat, kelainan syaraf, dan masih banyak lagi.
Lebih memprihatinkan, sering tidak diinsyafi, bahwa dunia tidak hanya akan menghadapi beratnya masalah sosial ekonomi akibat perubahan iklim tapi juga dampak ikutan bencana akibat salah urus pembangunan. Dampak ketiga tragedi di atas, misalnya, yang sering tidak dipublikasikan secara luas karena adanya upaya-upaya mengaburkan sejarah oleh mereka-mereka yang ingin lepas tangan atas dosa pembangunan yang mengabaikan kemanusiaan. Menurut penelitian dampak kesehatan akibat paparan radiasi dan zat kimia, kususnya bagi perempuan dan anak-anak, masih terus berlanjut hingga sekarang. Mengutip beberapa di antaranya, laporan Greenpeace, Netherlands 2006 berjudul The Chernobyl Catastrophe Consequences on Human health mencatat kesehatan penduduk perempuan dan anak-anak korban serta keturunannya menyebutkan bahwa hidup mereka dirongrong berbagai penyakit mematikan seperti, kanker ovarium, kelainan genetik dan kromosom, kekacauan siklus menstruasi, air susu ibu yang terkontaminasi, komplikasi kehamilan, meningkatnya hormon laki-laki (testoteron) dalam tubuh perempuan akibat akumulasi radiasi, menurunnya tingkat kesuburan (infertility), menurunnya kecerdasan anak, dan masih banyak lagi. Penduduk Bhopal dan Love Canal, menurut salah satu laporan radio-web www.nrp.org, mengalami hal yang kurang lebih sama dikarenakan paparan bahan beracun berbahaya dengan kadar yang tak tertanggungkan.
Begitu masifnya akibat salah urus pembangunan (masculine bias) dan kerusakan lingkungan kususnya terhadap perempuan dan anak-anak maka sudah selayaknya jika perempuan secara serius mulai terlibat dalam pembangunan. Sebenarnya hal itu telah secara eksplisit dinyatakan dalam pasal kedua puluh Deklarasi Rio de Janeiro bahwa peran perempuan sangat penting untuk menyukseskan agenda penyelamatan linkungan global dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, women have a vital role in environmental management and development. Their full participation is therefore essential to achieve sustainable development. Merujuk pasal tersebut maka ada beberapa poin krusial untuk dibahas yaitu, peran perempuan dalam manajement lingkungan dan pembangunan untuk menggapai pembangunan yang berkelanjutan.
Endanger Vs Gendered
Perempuan selama ini lebih sering sebagai korban daripada menikmati hasil pembangunan. Menengok kembali perjalanan perempuan di kancah pembangunan selama dua puluh tahun belakangan ini dapat dilihat dari dua paradigma yang berkembang cukup sukses dalam melihat peran perempuan dalam pembangunan yaitu, Women in Development (WID) dan Gender and Development (GAD). Keduanya mengupayakan perempuan sebagai aset pembangunan (engendered) biarpun dengan titik tekan keikutsertaan yang berbeda.
WID adalah pendekatan pembangunan yang menekankan peran produktif perempuan kususnya di bidang ekonomi. Dimana dalam asumsi masyarakat patriarkhi peran produktif perempuan dalam pembangunan sering tidak terakui. Meskipun perspektif ini telah meletakkan perempuan secara mapan dalam pembangunan dan mengenali (menerima) struktur sosial masyarakat yang bias akan tetapi telah telah gagal mengidentifikasi akar ketidakadilan gender dalam masyarakat. Sedangkan GAD, berkembang pada kurun delapan puluhan, mengusahakan keadilan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dan berusaha mengintegrasikan perempuan dalam segala aspek pembangunan (gender equality).
Upaya ini harus diakui masih sebatas isu mengingat demikian banyaknya kenyataan perempuan yang masih mendapatkan perlakuan diskriminatif di hampir setiap sector kehidupannya. Oleh karena itu usaha-usaha pembangunan yang ada selama ini lebih bersifat membahayakan (endanger) terhadap relasi interpersonal maupun hubungan manusia dengan alam. Sifat pembangunan demikian tidak hanya tidak akan bisa berkelanjutan (sustainable) tapi terlebih lagi hanya akan melahirkan banyak persoalan baru. Seperti ditekankan dalam laporan pembangunan manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1995 bahwa tanpa pengarusutamaan gender maka pembangunan akan menjadi suatu yang membahayakan (endangered).
Perempuan dan Managemen Lingkungan
Uraian di atas bisa memberi gambaran betapa kebijakan pembangunan selama ini sangat bersifat maskulin. Banyak penelitian membuktikan jika terjadi kerusakan lingkungan, baik disebabkan oleh alam atau salah urus pembangunan, perempuan dan anak-anaklah yang akan terpapar akibat terburuknya pertama kali. Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa perempuan memiliki interdependensi istimewa terhadap alam.
Walaupun secara harfiah baik laki-laki maupun perempuan dilihat relasinya dengan alam adalah sama-sama consumer, eksploiter, dan manager. Akan tetapi dikarenakan adanya pembagian kerja (division of labor) dalam struktur sosial masyarakat akhirnya melahirkan hubungan lebih intens antara perempuan dengan alam. Hubungan itu bersifat interdependensi dengan derajat yang tinggi karena perempuan berperan menjamin ketersediaan kebutuhan rumah tangga sehari-hari (livelihood) seperti, mengusahakan air bersih, pengobatan herbal, bahan bakar, dan lain sebagainya. Bahkan perempuan secara umum seringkali terlibat dalam memikul tanggungjawab mengelola dan melestarikan sumber daya alam untuk kepentingan kolektif komunitasnya. Jadi peran perempuan dalam menjamin subsistensi keluarga maupun komunitasnya membuat mereka mempunyai pengetahuan dan kearifan lokal mendalam tentang alam dan strategi pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan.
Peran vital perempuan terhadap lingkungan terkendala oleh banyak faktor. Perempuan pada umumnya tidak mempunyai akses dan control terhadap sumber daya alam yang selama ini mereka kelola demi subsistensi keluarga. Hak formal ‘pengelolaan’ biasanya justru berada di tangan kekuasaan laki-laki. Hal ini sangat menyulitkan dan membuat beban kerja perempuan menjadi berlipat ganda saat akses ke tanah, hutan, dan sumber daya alam mereka dihalangi. Kondisi tersebut memperkecil kesempatan perempuan (termasuk anak gadis) di bidang ekonomi dan pendidikan. Jalan keluar untuk persoalan itu adalah meretas akses perempuan pada perumusan dan pembuatan keputusan mengenai sumber daya alam, lingkungan dan program rehabilitasi lingkungan. Pemberian hak pada tingkat ‘politis’ ini akan memberikan keleluasaan pada perempuan untuk mengelola sumber daya alam komunitas mereka bebas dari segala struktur sosial kemasyarakatan yang sangat diskriminatif.
Reaffirmasi Deklarasi Rio
Bulan Juni telah menjadi saksi dua peristiwa penting untuk membangkitkan kesadaran akan pembangunan yang tak mengabaikan lingkungan. Sudah sewajarnya jika momentum ini kembali kita gunakan untuk mereafirmasi nilai-nilai luhur di dalam piagam Stockholm maupun Rio de Janeiro. Karena walau bagaimanapun carter tersebut mempunyai nilai yang sangat strategis. Hal yang perlu diupayakan dengan sangat serius adalah agar piagam-piagam itu tidak berhenti menjadi macan kertas belaka. Sudah saatnya segala usaha membangun yang kita lakukan tak mengabaikan prinsip keberlanjutan yaitu, bagaimana mencukupi kebutuhan hidup sekarang dengan tetap menjamin keterpenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang.
Disinilah peran penting perempuan dalam pengelolaan dan manajemen lingkungan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan tak boleh lagi diabaikan. Jika tokoh Grameen Bank M. Yunus mengatakan bahwa untuk menciptakan lapangan kerja hendaknya kita belajar kepada ibu kita masing-masing. Maka untuk pembangunan yang berspektif lingkungan (sustainable development) sangat tidak salah jika kita juga belajar dari para perempuan di pedesaan, yang hidup di hutan ataupun perempuan ‘indegeneous’ lainnya tentang membangun yang berkearifan. Karena pembangunan yang mengabaikan pertimbangan kemanusian dan keberlanjutan sebenarnya merupakan symbol ketidakpedulian terhadap nasib generasi mendatang. (28/5/10)
Perahu Kertas
16 May 2010 1 Comment
in Short Story
Ah, hidup biasa tanpa hujanpun sudah terasa susah bernafas apalagi sekarang musim hujan di Jakarta. Curahan air tak henti-hentinya turun dari langit pekat Jakarta. Huh, tanpa sinar matahari lagi pagi ini. Seminggu ini udara begitu lembab, pengab dan sangat tidak bersahabat.
“Aaa…!!!”
Teriakan histeris Ning, tante tukang pijit tunanetra sebelah kosku, memecah pagi subuh jam setengah enam pagiku. Rupanya kakinya langsung disapa dingin air banjir saat turun dari dipan tempat tidurnya. Penasaran aku, bagaimana ekspresi wajahnya ya hiks hiks…
Yach, hancur dech. Pasti bakalan ada sahutan susul menyusul dari tetangga-tetangga penghuni rumah kaleng sebelahku. Tuch benar saja kan: “alat las listriknya terendam air, angkat-angkat ke tumpukan kayu…” Yasrin panik mengkomando kanan- kiri untuk menyelamatkan bengkel las peleg mobilnya. ”Waduh Yus, kotoorrr… naik ke jalan depan sana!“. Yus anak tiga SD itu nyengir kuda saja, saat ketahuan ibunya bermain air selokan berwarna hitam dan berbau anyir, dan masih terus digrojog aliran pembuangan kamar mandi dari lantai dua rumah sebelah. Dia girang bukan kepalang karena hujan semalam pasti membuatnya akan terbebas dari rutinitas alias pergi ke sekolah. Karena pasti haqul yaqin SD 03 Pagi sekolahnya kelelep air ujan.
”Wah, gue ngapain ya…?“ Minum kopi ala tradisi orang gedongan sambil sok puitis menikmati gemerisik rintik hujan pagi hari ditemeni roti untuk sarapan. Puiih..! Nggaklah! Ini bukan jaman baheula saat pagi kudu menanti tukang koran nganterin berita, apalagi ujan-ujan begini. Basi kalee… Buka laptop tat tut tat tut ketik wwwwwwwwww….. seabrek windows tumplek blek dengan berita-berita up to date yang membanjirin kepala tapi lewat begitu saja. Kirim komen sana-sini, nimbrung pojok-pojok diskusi sok punya empati and nggak pengin dianggap basi dan selalu menyimak berita terkini. Eit.. Morning… tak lupa cas cis cus disambungan ”telpon ketik“ alias chat dengan rekan-rekan yang entah bagaimana sok kenal begitu saja hai-hai ngalor ngidul tak tahu juntrungnya. Ah dunia serasa dilipat. Makin dekat dengan siapa saja, tapi serasa berjarak dengan apa saja.
”Pagi Ndri….“ Sapa Mr. Gery
“Pa kbr Pak, kena banjir nggak?”
“Belum sih. Bertahun-tahun Nusa Indah, Padamara ke selatan daerah Ciputat terhindar banjir. Tapi tidak tahu tahun ini”
“Y… Jakarta oh Jakarta. Kalau nggak riweh nggak seru ^ _ ^! Y kan Pak”
“Hey Bunda …. “ (eh anak siapa nih pagi-pagi udah cari emaknya )
He he he rupanya si Dicka anak heavy metal, sekolah di JIBES kerja ntah dimana….
“ Eit, Dick statusnya kok “batal manggung karena kecapekaan”….”
”Iya neh…!!!“
Bla bla bla bla bla
”Aoooo….!“ eh yang ini bukan dari temen chat di FB (fes buk) tapi Mr. Kasto yang melolong dijambak (eh bener ditarik rambutnya, bukan dijewer telingannya kayak di sitkom Suami-suami takut istri) karena mencuri kesempatan dalam kesempitan mojok sama selinya (selingkuhannya) dengan sok romantis menikmati banjir pagi hari berdua di pojok belakang rumah. Pak Kasto rela kakinya terendam air sambil semes-semes alias sms, sambil sekali-kali mencuri pandang Eny yang mengamati dari lantai dua sambil berbalas senyum, dan berbalas pantun lewat sms.Dunia edan. Ah, gue terpaksa ngulum senyum.
Aku sarjana sosial tapi merasa mati akal dan kepekaan sosialnya. Tak ada lagi tema sosial yang menarik dan cukup punya daya diam atau ketetapan peristiwa untuk diteliti. Semua berlalu, melaju, run away begitu cepatnya. Segala bentuk hubungan telah berubah. Aku gamang. Tapi aku juga penikmat sejati. Masuk ke retorika-retorika humanisme, perdamaian, lesbianisme, sampai penggalangan simpatisan partai. Semua teman, semua lawan, semua menjadi perih tak terperikan. Karena kadang aku ingin diam merasakan gelora perasaanku yang ingin diam, gejolak semangatku yang membuatku geming mencari arti.
Rumah-rumah kaleng, rumah tak layak huni beratap seng berserakan di bawah sana. Petak-petak beralas tanah, tanpa ubin tile italia, kaca patri atau pendingin udara. Jamban-jamban tak tertata hanya berbatas tutup ala kadarnya untuk sekedar berkata, eh ada orang buang hajat yang sedikit ingin menikmati privasi kelegaan membuang kotoran. Itu saja. Gunungan sampah di pojok-pojok jengkal tanah sangat dekat dengan lubang nafas orang-orang yang menyempatkan diri bersendawa atau tertawa.
Lihatlah, kerepotan Tante Ning yang harus merayapi temboknya untuk kembali menemukan peralatan dapurnya yang mengambang entah kemana. Yus yang begitu girangnya meninggalkan bangku belajarnya untuk menikmati permainan tahunan mampirnya air ke rumahnya. Kasto dengan otak cabulnya, tak peduli berapa kali istrinya melabrak selingkuhannya. Ada lagi Sony yang katanya sutradara aktris ternama, budhe warti yang suaminya entah kemana. Semua sudah hidup saat sebelum azan subuh terdengar, tentu saja saat aku baru terlelap tidur karena asyik bersosialisasi dengan orang-orang hebat yang berseliweran di laptopku.
”Duar, jglaarrrr !!! ” aduh apalagi ya. Tidak tahu aku sedang membaca reportase Times Magazine. Jazirah arab sedang membara, perseteruan Israel-Palestina yang telah merenggut korban 1000 nyawa perempuan, anak-anak, penduduk sipil dan mungkin juga tentara. Buyar semua! Susah-susah membangun empati, dan lagi berusaha keras menggertakkan gigi menghujat sana-sini alias ngedumel sendiri berlagak sebagai pejuang Ham yang telah didzolimi.
”Ambil keset, basahin lalu tutup di atasnya”, suara Sony memburu sambil terdengar buru-buru menaiki tangga. ”Gimana nih, ndak mau mati dia. Tambah besar. Awas! Jangan sampai merambat ke dinding. Ambil air di ember saja. Siramin terus atasnya”, suara anak-anak kos bersahut-sahutan disela kepanikan. Kompor minyaknya Upi meledak. Huh! Kalau tidak mencium bau hangus malas rasanya aku beranjak meninggalkan komputerku. Padahal pintu kamar Upi Cuma terpaut satu pintu dari ku. Kalau tadi api membesar, kebakaran…. Hah aku akan jadi dendeng dengan posisi yang sangat menakjubkan. Bakalan seperti fosil hitam yang sedang duduk takzim mengawasi layar seakan melihat dunia ajaib keluar dari situ. Hih! Wus-wus aku langsung meniup kobaran bayanganku yang sudah ngelantur. Untung kosan semi triplek ini ndak jadi dilalap api biru. Bukannya memanjatkan syukur, malah komat-kamit jengkel nggak keruan.
”Yus…. Yussy Sulistyowati Bin Ahmadun keluar dari air nggak! Dengar mama nggak!“ Suara petir Ibu Karmo makin membuat suram pagiku. Aku terpaksa melongok dari balkon apa yang terjadi sampai nama Yus perlu dieja kayak penghulu mau ngucapin ijab kabul. Dengan tenangnya Yus sedang melepaskan perahu kertas putihnya berlayar di air keruh yang entah berbaur dengan berjuta basil apa saja. Dengan berjongkok takzim dia awasi perahu kertasnya yang tegak perkasa perlahan berjalan diseret arus kecil aliran air selokan yang tak lancar mengalir disumbat sampah. Ujung rok merahnya ikut tercelup air. Dia membuang nafas kesal saat perahu kertasnya terantuk-antuk plastik-plastik sampah yang mengambang. Perahu kertasnya maju mundur, untuk kemudian lemas digerus air hingga menjadi lumer. ”Ao!!! Sakit Mama!“ Pasti fantasi Yus buyar seketika saat tangan Mamanya dengan sekuat tenaga memukul pantatnya. ”Rumah kebanjiran, bukannya bantuin nawu biar cepat kering malah mainan tidak karuan“. Nah lho mainan air tidak boleh sekarang malah disuruh membuang air dari dalam rumah. Aneh!
Kulihat perahu kertas Yus sudah tidak lagi berbentuk. Hanya segumpal kertas putih yang telah berubah kehitaman dilalap air selokan. Perahu kertas jadi bubur kertas. Bukan seni instalasi tentunya, yang dilekatkan di antara seni sampah yang berserakan di sana sini. Atau aku baru melihat parodi negeri ini. Negeri yang katanya merdeka tak lebih hanya fantasi buta warna yang tak tahu lagi arah tujuannya.
Hmmm… seperti realitas lainnya yang ngloyor begitu saja akupun pergi dari balkon hanya dengan menggidikkan bahu dan menggelengkan kepala. Mengibaskan segala kegilaan idealisme yang mulai ancang-ancang untuk menyerangku tanpa ampun. Oh tidak! Kopi pahitku tentu sudah dingin karena kutinggal nonton teater perahu kertas Yus tadi.
Perahu kertas bangsaku, orang-orang negeriku, jalur gaza, buruh merdeka, cinta mati buku, kutu buku, kutu busuk, tikus-tikus kamarku, hujan dan banjir kosku semua terasa megah sesaat untuk kemudian hanyut dan luluh. Seperti kotoran yang hilang digelontor air waktu kita kejambanan. Benar-benar logika perah kertas atau mungkin tempe mendoan. Secangkir kopi pahitku makin terasa getir melewati kerongkonganku pagi ini. (15/1/2009)
Singgahan
16 May 2010 Leave a Comment
in Short Story
Her, aku kembali. Menapakkan kaki di rumput taman perlimaan Singgahan. Kau ingat satu dasawarsa lalu, saat bulan terang tanggal sepuluhan kita duduk disana, di bawah bogenvil yang bermekaran sambil bercakap pelan. Terkadang kita saling memandang sambil terus mengalirkan angan-angan yang kita titipkan pada rembulan.
“Aku tak boleh gagal masuk kekedokteran tahun ini”. Suaramu yang halus menusuk malam yang mulai berembun. Aku memandang ke hitam matamu untuk kemudian menghembuskan resah dengan pura-pura mengeja tebaran bintang. Itu berarti kita akan segera berpisah.
Tanpa tahu hatiku yang mulai berdesir terluka kau memintaku untuk bernyanyi. Kau tak memintaku menembangkan kidung sutasoma kan Her? Selembar daun hatiku robek makin lebar. Lihatlah kaki kita berjajar direrumputan dalam persandingan yang tenang. Sampai kapan? Untuk sebentar kan melangkah, mengayun ke masa depan pilihan.
Her, aku kembali. Merasai desir angin yang turun dari kota Malang di atas langit Singgahan. Kau ingat aroma jagung bakar yang di panggang di atas arang cangkok (batok kelapa) oleh para pedagang di sepanjang jalan depan taman Garuda? Asapnya membubung laiknya siluet penari yang membuat bayangan sang pedagang menjelma menjadi lukisan surealis. Seperti potret diri dari Amang Rahman katamu. Bagiku pendapatmu begitu konyol waktu itu, karena menyamakan lukisan yang lahir dari tangan-tangan empu pelukis kau samakan dengan tafsir jelaga para pedagang jalanan.
Jemariku menyentuh dinding menara seperti sedang menyingkap debu dari ruang hatiku. Disini, kau bertanya tentang rasaku. Andai kau disini, kau pasti bisa bercerita tentang diriku saat itu. Apa pipiku bersemu merah? Atau anak rambutku juga lunglai laiknya hatiku yang layuh. Satu yang kuingat untuk waktu yang lama tak berani kutentang rembulan yang membulat menaungi pucuk cemara itu. Siluetmu menjadi terasa indah di kaca hatiku. bayangmu berlarian di sudut-sudut jantungku yang tak henti berdegup gugup.
Jalanan mulai lengang. Teman-teman beriringan pulang. Diammu merejam malam tanpa ampun disisi hatiku. “Ayo pulang….” Kuabaikan tanyamu. Matamu diselimuti tatap keraguan berharap bibirku menghadiahi mu sebuah jawaban. Pelan kau ayunkan langkahmu mengikutiku pulang. Malam kian gigil. Dalam senandung kediamanmu aku telah tahu bahwa pada akhirnya kita memutuskan untuk mengubur rasa kita dalam kenaifan untuk selamanya.
“Tidak Her, ….” Gema suara jawabku yang berpantulan di hatiku selama satu dasawarsa ini kembali berlompatan di tempat dia dilahirkan. Suatu hari kita akan kembali kesini. Menebar hati dengan bukan kita yang sekarang, menyaksikan alam tidak dari mata kita saat ini. Kita akan bertemu lagi. Tidak tidak saat ini meski kediamanku membuatmu menjadi benci pada cintamu, dan mengurung dalam rindu abadi. Apa jadinya jika cintaku ku katakana padamu saat itu. Aku tak tahu. Tapi disinilah aku sekarang Her, disimpang lima Singgahan tempat rasa yang indah pernah singgah di hati kita. Andai kau disini.(9/7/09)
Terbang
16 May 2010 Leave a Comment
in Short Story
Haruskah ku larung kembar mayang, rangkaian melati, mawar dan anggrek bulan serta burung dari daun nyiur, ke lautan yang telah memelukmu. Sebab lautanlah pada akhirnya yang kau pilih sebagai mempelai mu. Camar-camar tak henti mengabadikan percintaanmu dalam tarian dan lagu riang ditiap kepakan sayap mereka ketika pulang. Buih-buih lautan kau lahirkan dalam lembut damai pelukmu, sementara seribu senja kulalui dalam gamang, rindu dan cemburu pada lautmu.
Seulas senyum kau lepaskan sebagai tanda mata bagiku. Tak sedetikpun kulewatkan tanpa bertanya apa maknanya? Senyum bahagiakah itu yang tersungging ditipis kelopak bibirmu? Sepasang mulut indah yang tak pernah henti merekah ditiap langkah kau ayunkan. Ataukah itu getir yang tak sekalipun mampu kau suarakan? Bilakah itu resah yang setiap saat ingin kau kurung dalam dadamu? Satu-satunya jawaban yang kutemui adalah kebingunganku saat menyaksikan punggungmu menjulang di ujung bukit dengan dua tangan terentang meresapi angin yang mencandai gaun putihmu. Kau menoleh dengan senyummu, yang itu, ketika panggilanku sesaat membawa kembali kesadaranmu. Kutarik nafas lega setelah lelah kudaki bukit dengan mengarungi pikiran yang pernah kau ‘candakan’ padaku, itulah peta untukku menemukan dirimu.
Suatu hari kau berkata padaku. “Aku bermimpi tanganku menjadi sepasang sayap yang indah. Membentang membawaku terbang untuk melihat bumi dari singgasana para peri yang berada di para-para mega yang bergantung di langit sana. Aku ingin mengarungi lautan. Berkejaran dengan camar dan bermain dengan gelombang. Kan kukunjungi bola bulat merah saga dan ingin kulongokkan kepalaku untuk mencari malaikat bersayap yang telah ditakdirkan membawa beban dan memutari dunia untuk menciptakan siang-malam. Benarkah cerita yang kudengar saat kecilku itu nyata?” Sesekali ku hanya melontarkan senyum dan memiringkan kepala sedikit agar kau mengira aku mendengarkan tiap tuturmu. Kau hanya melontar seulas senyum sambil memandangku. Membuatku langsung tahu bahwa kau mengerti aku tak sepenuh hati ingin menanggapi dongengmu. Kini kutahu apa yang kusangka sisa imaji masa kecilmu adalah pertitur musik terindah yang ingin kau bagikan padaku.
Fragmen kau terbang membuatku seperti selalu terangkat ke ruang hampa. Tercekik. Kau rentangkan kedua tanganmu dengan mata menekuri gelombang yang memukul-mukul bibir lautan di bawahmu. Aku memanggil namamu. Perlahan tanganmu kau turunkan, Takzim kau membalikkan badan menghadapku. Hatiku melonjak girang. Lihatlah cintaku begitu erat mengikatmu, kau tak akan memilih kehidupan lainnya biarpun itu mimpimu sekalipun. Kurentangkan tanganku untuk mengundangmu ke pelukanku. Sorot matamu lembut menatapku. Kembali kau rentangkan kedua tanganmu. Bibirmu menyungging sebuah senyum. Ya, kau pasti akan datang padaku. Apalagi yang kau inginkan, cintaku begitu berlimpah untukmu? Aku membalas senyum yang kukira ditujukan padaku. Perlahan kau pejamkan mata. Seperti segenggam kapas kau lepaskan badanmu melayang menembus deru angin yang mengantarkanmu kepelukan gelombang di kaki bukit yang memang telah menjadi tujuanmu sebelum kedatangankuku.
Kakiku terpaku di tempatnya. Seperti mimpi yang samar hadir dalam ingatan saat kita terjaga, sampai saat ini aku tak pernah mampu menghayati bahwa itu nyata adanya. Sejak itu punggungku disarati beban yang tak mampu kulepaskan walau sekejap. Membuat nafasku tercekat, dan kata-kata tak lagi bisa lagi digetarkan pita-pita suaraku.
Seulas senyummu tak mampu memberiku petunjuk di dunia mana kau ingin dan telah merengkuh bahagia sejatimu. Saat bersamaku kupikir kau pasti menerima arti bahagia yang kudefinisikan untukmu dan bagi kita. Kau memilikiku, menjalani hidup seperti yang digariskan seperti ‘mereka’ lainnya. Mengatakan padamu seperti ini dan seperti itulah harusnya seorang wanita menjalani keberadaannya. Sekarang baru kuingat aku tak mengajakmu untuk membangun dunia “kita”. Aku mengundangmu untuk melengkapi dunia yang kubangun atas kemauanku. Kini kudengar kembali gema suara-suara di duniaku. Ternyata duniaku sepi dari celoteh kata-kata mu. Apakah kau akan memberikan jawaban seandainya ombak mengembalikan kau sesaat dalam hidupku. Ternyata karena sibuknya aku berkata-kata aku jadi lupa untuk bertanya tentang apa yang kau inginkan dari pikiranmu sendiri. Alun dan angin lautan lebih mampu mendengarkan debar hasratmu untuk mencari keberadaan sejatimu. (1/2/10)