Pengalaman Ramadhan Pertama di USA

Inilah pengalaman pertama saya berpuasa Ramadan di negeri orang. Tak ada keriuhan Ramadan seperti selamatan, ziarah, ataupun pawai kentongan seperti yang saya kenal sejak kecil. Sebaliknya saya berpuasa sendirian di negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim.

Bagian I: Gagal Salat Tarawih Pertama Gara-gara Tak Tahu Awal Puasa

Sejak dua bulan lalu saya menuntut ilmu di Amerika Serikat. Sayatinggal di Kota Waltham, sekitar 16 km dari Boston di Negara bagian Massachusetts. Tidak seperti di Indonesia, warga muslim di Waltham harus aktif mencari informasi dari masjid terdekat atau mengandalkan internet untuk mengetahui jadwal puasa. Tak jarang kami saling menukar informasi melalui milis komunitas muslim.

Tahun ini saya gagal mengikuti salat tarawih pertama karena ragu akan kepastian awal puasa. Dan ini dialami banyak brothers dan sisters, sebutan untuk muslim dan muslimah di AS. Pusat kegiatan muslim di Waltham adalah di sebuah rumah bercat putih dan berlantai dua di 16 Park Place. Rumah yang berhadapan dengan sebuah gereja inilah satu-satunya masjid di Waltham. Tak ada kubah, pengeras suara, atau identitas khas sebuah masjid pada rumah ini. Rumah ini merupakan hibah dari seorang warga muslim Amerika yang ingin umat muslim Waltham memiliki rumah ibadah. Saat ini mereka berupaya membangun tempat ibadah yang lebih permanen. Untuk itu diperlukan dana sekitar 500.000 dolar AS (Rp 4,5 miliar). Menurut seorang pengurus masjid, dana yang terkumpul baru 272.818 dolar AS (Rp 2,4 miliar) yang merupakan hasil swadaya warga muslim Waltham.

Yang sangat terasa ketika berpuasa di AS adalah panjangnya rentang waktu dari subuh hingga magrib. Fajar merekah pada pukul 04.30 dan tenggelam pada 19.30 malam. Karena itu sangat berat bagi saya bila tidak makan sahur. Biasanya saya menyiasatinya dengan makan sahur sebelum tidur. Atau memasak dulu sebelum tidur lalu memanaskannya dengan microwave saat hendak sahur. Saya dan teman-teman biasa memasak sendiri untuk makan sahur. Sebab, berbeda dengan di Indonesia, tidak ada rumah makan yang buka hingga waktu sahur. Bila malas memasak, andalan saya hanya mi instan. Mikir juga kalau sering membeli makan di restoran. Sudah harganya mahal, kami harus memberi tip dan membayar pajak untuk tiap makanan dan pelayanan yang diberikan. Meski puasa tahun ini harus saya lalui di tengah suasana berbeda dan kadang terasa aneh, saya yang tak akan mudah menghapusnya dari ingatan. Surya, 9/6/2010, Monday

Bagian II: Nada Dering Sahur dan Bertukar Menu Buka Puasa

Jauh dari keluarga dan mengingat Lebaran yang sudah di depan mata membuat saya dan beberapa sesama mahasiswa muslim perantauan di kampus Brandeis University di Waltham berusaha menghadirkan suasana Ramadan seperti di kampung halaman. Dengan begitu, setidaknya kerinduan kami sedikit terobati.

SAHUR, sahur! Tek, tek, tek! Sahur, sahur! Seruan itu bukan dari rombongan patrol keliling kampung untuk membangunkan warga agar tidak terlambat mempersiapkan sahur. Bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas bulan Ramadan di sebagian besar wilayah Indonesia itu terdengar di pada pukul 16.30 waktu Waltham. Suara itu sontak membuyarkan konsentrasi sekitar 50 mahasiswa internasional yang sedang serius mengikuti perkuliahan Gender and Development oleh Prof Kristina Espinosa. Gelak tawa memenuhi ruang kelas yang mirip auditorium itu. Ternyata itu nada dering alarm ponsel yang diatur oleh seorang teman asal Indonesia untuk mengingatkan waktu sahur bagi keluarganya di Jogjakarta. Kami tertawa bukan karena nada dering patrol itu, melainkan lebih karena melihat si pemilik ponsel yang panik karena gagal mematikan suara ponselnya.

Kami memiliki cara masingmasing untuk mengatasi rasa rindu keluarga di bulan Ramadan. Bagi rekan dari Mesir bulan Ramadan berarti masa tanpa kerja, tanpa belajar, makan makanan enak dan belanja. Di Mesir, Ramadan merupakan masa beranjangsana ke rumah saudara dan teman. Jadi sulit baginya menghapus budaya itu saat di Amerika. Saya sendiri tak sempat berpikir untuk menciptakan romansa Ramadan untuk diri sendiri. Sebab saya harus berjibaku dengan Bahasa Inggris dan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, sebisa mungkin saya mencari kesempatan menambah wawasan agama. Itu pun lebih banyak melalui internet dan bukannya dari forum pengajian. Tausiah, pengajian, dan juga berbagi cerita berpuasa di negeri asing sampai bertukar menu buka puasa kebanyakan kami lakukan secara online.

Saya mendapat cerita dari Indar dan Sasi yang berada di Belanda. Mereka bingung dengan salat tarawih yang berbeda yaitu adanya tambahan salat tiga rakaat tanpa ruku’ di antara dua salat tarawih. Sementara Saiful Rapi, teman yang kuliah di Hawaii, harus menjadi ustad dadakan karena memberi penjelasan lengkap dengan dalil untuk menjawab kebingungan anggota ‘jemaah online’. Atau cerita teman-teman di Inggris yang tiap kali harus menjelaskan soal jam makan mereka yang ‘aneh’ saat menghadiri pesta atau undangan makan dari universitas dan teman-teman mereka. Surya, 9/7/2010, Tuesday

Bagian III: Sebar Makna Ramadan di Milis Kampus

Menjadi muslim di Amerika Serikat seharusnya terasa berat. Nyatanya, warga Amerika mengang­gap kehidupan spiritual adalah urusan pribadi. Kami bebas beribadah, bahkan di kampus.Brandeis University merupakan universitas Yahudi. Didirikan pada 1948, perguruan tinggi itu memproklamasikan sebagai lembaga nonsektarian.  Brandeis memberi kesem­patan setiap mahasiswa dari semua keyakinan untuk beraktualisasi. Bagi kami, mahasiswa pendatang dan muslim, perguruan tinggi ini memberi manfaat besar.  Jika penganut Yahudi memiliki tiga tempat ibadah di kampus, mahasiswa muslim memiliki sekretariat yang menjadi pusat kegiatan Muslim Student Association (MSA). Tempatnya cukup represen­tatif. Di situ kami menjalankan ibadah salat lima waktu, salat Jumat dan Tarawih.

Jangan membayangkan para pengurus MSAitu berjilbab panjang, atau berjenggot bagi bagi yang cowok. Walaupun berasal dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Afghanistan, Irak, Iran, dan Mesir, gaya berbusa­na mereka tak ubahnya anak muda Amerika lainnya. Saat menjalankan salat, mereka mengenakan celana jins dan jumper (jaket bertudung). Yang perempuan pun tidak mengenal mukena.  Di berbagai kesempatan  resmi, baik di forum atau situs universitas, komunitas muslim diperkenankan menyampaikan hal-hal terkait Ramadan.

Pada pekan orientasi pene­rimaan mahasiswa pascasar­jana seorang mahasiswa diberi kesempatan menjelaskan mak­na puasa dan menjabarkannya lewat milis bisa diakses semua civitas akademika.  Maka, yang saya alami berpuasa bukan lagi seperti ritual ‘aneh’ di lingkungan kampus Brandeis. Sebaliknya saya merasa malu kalau tidak berpuasa. Jadi sungkan kalau makan dan minum seenaknya.  Hampir setiap orang di kam­pus memiliki pemahaman soal bulan spesial umat muslim ini. Atmosfer pemahaman itu kian mudah diciptakan karena saya berada di program internasional yang mahasiswanya berasal dari berbagai negara dengan latar  belakang berbeda. Seorang teman dari Ghana, namanya Jerry Yakubu Yahya, punya cerita soal Ramadan tahun ini. Penganut Kristen Ortodoks ini menahan lapar dengan tetap minum untuk menghormati teman-teman muslimnya. Kegagapan, keterasingan dan kesepian menjalani jauh dari keluarga telah memberi saya ruang untuk melihat diri dan keberadaan dari sudut pandang berbeda. Surya, 9/8/2010, Wednesday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.