Facebook: Eksistensi yang Abstrak?

Begitu banyak kepala, begitu banyak pendapat (Quot capit, tot sensus)(Horace)

Facebook sebagai fenomena sosial, salah satu jejaring sosial di era digital. Fenomena ini seharusnya juga menuntut kemajuan para pemikir sosial (social scientists) untuk mengkontekskan keilmuan di masa kekinian. Mempelajari ilmu sosial sudah saatnya berhenti melakukan sekedar studi pemikiran tetapi lebih jauh adalah mempelajari persoalan manusia. Dan facebook menjadi suatu lompatan kemanusiaan, yaitu kembalinya, belum terputusnya, manusia modern yang individualitis dari kodrat inherennya sebagai makluk sosial.

Seperti juga kehidupan akan menemukan jalannya, libido sosial juga menemukan aktualisasinya. Sangat menarik melihat sahabat lama yang telah menjalani hidupnya sendiri-sendiri bertemu dan kembali mengikatkan keakraban seperti dulu, seakan waktu dan jarak hilang begitu saja. Bagaimana manusia saling bertemu di kampung virtual mengingatkan kita pada film futuristik yang di bintangi oleh Keanu Reeve, Matrix. Ségala pernik kehidupan hanyalah simulasi di film yang berlanjut sampai tiga sekuel itu.

Facebook, semua aktifitas ‘sosial’ bisa dilakukan oleh fesbuker, julukan bagi mereka yang aktif dijejaring sosial facebook. Membangun pertemanan, bentuk baru interaksi antar manusia sampai model baru perselingkuhan. Penggalangan dukungan, sampai penyebaran pemikiran dan pandangan terhadap kejadian di dunia. Tidak perlu menjadi aktivis untuk bisa aktif dalam sebuah gerakan isu-isu sosial. Semuanya begitu cair. Satu-satunya hal yang tampak jelas adalah bagaimana beraktualisasi?

Ukuran kedekatan personal di facebook juga sangat menarik. Semua bermain dalam simbol. Baik untuk ekspresi personal sampai untuk menunjukkan derajat kedekatan. Seperti saling mengirim bingkisan ulang tahun, ataupun ucapan-ucapan bentuk perhatian dan persahabatan, ataupun saling berkunjung dan membantu (social bounding) lewat bentuk-bentuk permainan dunia maya semisal, Farmville, dan Pet Society.  Tak terkecuali memploklamirkan kedekatan ikatan emosional dalam status seperti, in relationship, in open relationship, complicated, dan lain sebagainya. Disini ada sebuah eksistensi jati diri manusia yang dibentuk sangat intens.

Tidakkah ini justru meneguhkan terpecahnya kepribadian manusia (split personality) di era komputer ini ? Mereka hidup di dua dunia, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Bahkan mungkin dengan dua identitas dan dua kepribadian sekaligus.

Pertanyaannya, eksistensi diri di Facebook tidakkah ada yang menyadari suatu yang hanya abstraksi. Menurut Kamus Filsafat Lorens Bagus abstrak secara harfiah berarti ”terlepas dari ”, ”ditarik dari”. Pemahaman bersifat abstrak kalau tidak ada kaitan dengan intuisi indrawi atau kalau penyajian-penyajian pemahaman itu menggambarkan obyeknya tanpa ciri-ciri individual (hal.6) Astraksi, pengertian umum, merupakan sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang bersifat universal. Proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai obyek individual yang bersifat spasio-temporal (ruang dan waktu). Pikiran melepaskan sifat individual dari obyek dan membentuk konsep universal (hal.7).  Suatu yang dianggap interaksi sosial sebenarnya sangat minus relasi yang penuh dengan sentuhan kemanusiaan. Sebentar lagi tak mengherankan jika facebook akan menjadi virus adiktif yang mencandu dan merusak banyak sendi kehidupan sosial pelakunya. Tak mengherankan jika mulai muncul berbagai kecemasan disebabkan oleh situs jejaring sosial ini seperti, sweeping facebook di perusahaan karena turunnya produktivitas karyawan, retaknya  relasi atau sebuah hubungan karena virtual affair pasangan di facebook.

Dengan menginjakkan kaki di kampung virtual facebook semua memang terasa penuh warna. Bagaimana semua orang di dunia seolah menyambut kita. Kita bisa menjadi siapa atau apa saja, realitas bentukan yang sangat menggiurkan karena kita bisa tinggal memdesainnya. Walaupun terkadang segalanya bisa mereduksi standar dan penilaian sosial, tapi bahwa facebook benar-benar telah menjadi dunia khayalan yang menyihir dan membabukkan berbagai kalangan tanpa memandang status sosial, umur, ataupun jenis kelamin.

Harapannya sebagai hasil kemajuan, facebook tidak menjadi pisau bermata ganda. Situs pertemanan facebook tak hanya menjadi candu yang melenakan tapi bisa membuat pelakunya tetap berpijak pada realita. Yaitu tak hanya menghabiskan kualitas terbaik hidupnya (time management) dan produktivitas mereka dengan hanya getol bersosialisasi di dunia maya, tapi juga bisa menjadi arena aktualisasi eksistensi seperti mengasah kemampuan untuk mengartikulasikan gagasan lewat tulisan, atau memperluas wawasan lewat berbagai group-group ‘serius’. Seperti group penulis, pecinta buku, dan lain sebagainya yang tak hanya menyajikan pembahasan kajian bidang tertentu juga dapat melibatkan keikutsertaan facebooker untuk aktif kerlibat dalam pengayaan pemikiran lewat forum-forum diskusi terbuka. Part 1. (Jkt/MA, 12/2/2009)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.