Suicide
04 May 2011 1 Comment
in Inisiasi
Tak akan kujejakan kakiku di ranah moral. Ini bukanlah perdebatan. Cacian tak akan menyentuh apalagi memberikan pengharapan bagi mereka. Menggurui tak akan banyak berguna. Karena barangkali sakit yang mereka derita berakar pada kedalaman jiwa yang tak pernah terkata. Luka yang sering membuat mereka membisu karena pedih yang tak terkira. Pahit yang menghimpit hingga menciutkan parit-parit jiwa mereka.
Mereka ingin perpaling padamu. Di sayu tatap mereka ada sesuatu yang sarat ingin mereka curahkan. Mereka berharap pertolongan. Berharap diselamatkan dari mencintai kematian. Mereka ingin menggapaimu agar sesaat saja terbebaskan dari kungkungan dera kepenatan yang melumpuhkan pijar harapan.
Mereka urung mengulurkan tangan. Kembali menyurukkan kepalanya di bawah bantal. Mengubur isak tangis yang sekian waktu tertahan demi melihat kejinya tatapan kalian. Barangkali kita harus mengadili diri kita sendiri atas keputusan mereka menyegarakan menjemput kematian. Karena lidah kita lebih pandai mencerca daripada menyejukkan jiwa. Kita lebih pandai menghancurkan daripada membangun harapan.
Percakapan kalian terekam dalam lantang kepongahan. Seakan kalian bisa menyelam jauh ke ulu hati dan merasai tiap detik pergulatan hidup mereka.
Kata Tini, “”hidup ini membosankan, aku tak berdaya, dunia ini menyesakkan, tak ada yg sayang dan peduli sama aku, Tuhan tdk adil, semua sia-sia, semua jalan buntu…” begitulah kira-kira yang ada dalam benak para pelaku bunuh diri. Para pelaku bunuh diri pastilah beranggapan dengan mempercepat kematian maka semua persoalan terselesaikan”.
Angle menimpali, “Bisa jadi kalau saja pelaku bunuh diri itu benar-benar ingin merasakan surga Tuhan pastilah mereka urung melakukannya. Hidup benar-benar memuakkan sampai tiada lagi ruang rasional dalam diri sang pelaku. Perasalahan kehidupan terselesaikan bagi dirinya sendiri. Saat masuk kedunia tempat tinggal abadi, problem baru sudah menanti”.
Tini berpendapat sedikit filosopis bahwa dunia atau hidup ini masalah atau bukan tergantung bagaimana cara memandangnya. Referensi seseorang dalam memahami diri alam dan tuhannya sangat mempengaruhi seseorg dalam memaknai hidupnya.
Tami tak mau ketinggalan menyampaikan pendapatnya bahwa, “kadang ada term dimana masa-masa itu sangat menyesakkan. Jika kepedulian sedikit saja datang terlambat. Bisa-bisa mereka sudah akan menjatuhkan diri dari lantai kesekian, menggantung diri, atau menyayat pergelangan tangan mereka. Ada jeda,kekosongan, dalam hidup. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian mereka-mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan para pelaku. Karena “kesunyian” memungkinkan orang menentukan pilihan itu…
Tini mengomentari pendapat Tami dengan mengatakan fenomena bunuh diri terjadi pada individu yg justru cenderung egois. Mereka hanya suka memikirkan dirinya sendiri. Egosentris. Menganggap diri mereka sebagai pusat segala-galanya. Segala sesuatu dipandang dari sudut kepentingan mereka belaka. Hal itu membuat mereka terjebak frustasi. Terapinya mudah , ajak orang-orang kesepian itu memikirkan sekeliling. Banyak persoalan yang lebih berat dari pada persoalan diri sendiri”.
Tami coba berargumentasi. Katanya, “Egosentris dan pikiran yang ada di kepala mereka adalah sumbernya. Apapun, besar atau kecil tetaplah masalah yang harus dicari solusinya. Terapinya bagus, orang-orang tersebut perlu dituntun untuk mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut”.
Alam pun ikut menyumbangkan pikiran, “Kenyataanya, pil tidur tak lagi mampu menyelesaikan masalah bagi para pengidap depresi. Jadi bawa saja mereka ke Antartika untuk menyaksikan Gletser mencair. Siapa tahu mereka bisa memetik hikmah kehidupan dari situ”.
Tini mengamini, “Betul sekali! Dari dunia mikro individu yang sempit menuju dunia makro kesemestaan yg luas membentang. Dunia tak selebar daun jambu.
Hari ini mereka bercakap tentang orang yang “melampaui” batas. Mereka yang memutuskan untuk menetak nadi, menggantung diri, menenggelamkan diri. Mereka yang memilih untuk membunuh dirinya sendiri.
Apa yang kita tahu tentang “pilihan” mereka? Barangkali tak seorangpun ada atau sanggup menawarkan bantuan ketika mereka membutuhkan. Saat mereka bergumul dengan kepedihan, kepahitan, kehilangan atau ketakberdayaan yang merenggut batas kesanggupan individual mereka sebagai makluk.
Kita tak ada disana saat mereka berusaha berlari dari kejaran rasa ingin menikam atau menguliti diri sendiri. Memalingkan muka dengan isak dan sesak oleh ketakutan terhadap pikiran-pikiran rayuan kematian. Menepis suara-suara yang datang dari sudut kegelapan yang barangkali juga mereka berjuang untuk mengeyahkannya. Atau saat mereka mengais-ngais kekuatan diri yang tersisa dengan berlari pada teori, merunut referensi, mencari jawab di kitab suci hanya untuk berusaha mengobati diri sendiri. Kita juga tidak tahu pergulatan fisik, kegalaun jiwa antara berdosa dan tak kuasa yang meredupkan api harapan yang dengan sekuat tenaga ingin dihidupkan. Ironi. Paradoks. Kesakitan yang tak seorangpun di luar sana turut menghidupinya.
Bagaimana kalau keputusan mereka itu bukan lahir dari keputusasaan? Bagaimana kalau itu adalah sebuah bentuk “keberanian”? Karena bisa jadi mereka yang pada akhirnya merenggut nyawanya sendiri telah melampaui berpuluh atau mungkin ribuan kali diantara pilihan. Jatuh bangun menjaga kewarasan dan mengantang keinginan untuk merenggut esensi diri sendiri. Pergulatan yang barangkali menguras segala daya kehidupan yang mereka punyai. Ketakutan akan pengadilan moral, sosial, dan keterikatan pada mereka yang dicintai. Kompleksitas perang batin yang tak bisa dikatakan mudah.
Hingga pada akhirnya mereka sampai pada keputusan memutus segala pertentangan. Mengakiri pergulatan panjang yang melelahkan. Kepenatan yang mengantarkan mereka melihat satu pilihan.
Kenyataannya, setiap persoalan hidup adalah relatif. Bukan hanya dalam kadar kuantitatif dan kualitatifnya tapi juga bagi diri yang dihadapkan pada pernik masing-masing hidup mereka. Lali mengapa kita menggunakan subyektifitas kita untuk menilai persolan hidup orang lain? Penilaian yang seringkali hanya bersandarkan pada kisah hidup kita sendiri sebagai referensi dan satu-satunya ukuran untuk mengkuantifikasi persoalan orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengeneralisasi dunia dengan subyektifitas kita?
Penilaian secara subjektif tidak hanya akan bias tapi juga jatuh pada simplifikasi dan menafikkan kompleksita factor dalam peristiwa bunuh diri. Membuat kita enggan melihat aspek sosial, pendidikan, akses informasi (pertolongan), psikologi, atau barangkali sejarah. Banyak hal yang miskin dari kacamata keakuan yang sering mewarnai sudut pandang kita dalam memandang tiap persoalan.
Coretan ini bukanlah pembelaan terhadap mereka yang memilih untuk mengakiri hidupnya sendiri, hanya sekedar pengingat agar kita tak mudah untuk menghakimi. (MA,January 6, 2011)
May 08, 2011 @ 15:14:23
Senang lihat kamu kembali… Sehingga tak berhenti di Luruh dan Luruh lagi..