Pengalaman Ramadhan Pertama di USA
18 May 2011 Leave a Comment
in Short Story
Inilah pengalaman pertama saya berpuasa Ramadan di negeri orang. Tak ada keriuhan Ramadan seperti selamatan, ziarah, ataupun pawai kentongan seperti yang saya kenal sejak kecil. Sebaliknya saya berpuasa sendirian di negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim.
Bagian I: Gagal Salat Tarawih Pertama Gara-gara Tak Tahu Awal Puasa
Sejak dua bulan lalu saya menuntut ilmu di Amerika Serikat. Sayatinggal di Kota Waltham, sekitar 16 km dari Boston di Negara bagian Massachusetts. Tidak seperti di Indonesia, warga muslim di Waltham harus aktif mencari informasi dari masjid terdekat atau mengandalkan internet untuk mengetahui jadwal puasa. Tak jarang kami saling menukar informasi melalui milis komunitas muslim.
Tahun ini saya gagal mengikuti salat tarawih pertama karena ragu akan kepastian awal puasa. Dan ini dialami banyak brothers dan sisters, sebutan untuk muslim dan muslimah di AS. Pusat kegiatan muslim di Waltham adalah di sebuah rumah bercat putih dan berlantai dua di 16 Park Place. Rumah yang berhadapan dengan sebuah gereja inilah satu-satunya masjid di Waltham. Tak ada kubah, pengeras suara, atau identitas khas sebuah masjid pada rumah ini. Rumah ini merupakan hibah dari seorang warga muslim Amerika yang ingin umat muslim Waltham memiliki rumah ibadah. Saat ini mereka berupaya membangun tempat ibadah yang lebih permanen. Untuk itu diperlukan dana sekitar 500.000 dolar AS (Rp 4,5 miliar). Menurut seorang pengurus masjid, dana yang terkumpul baru 272.818 dolar AS (Rp 2,4 miliar) yang merupakan hasil swadaya warga muslim Waltham.
Yang sangat terasa ketika berpuasa di AS adalah panjangnya rentang waktu dari subuh hingga magrib. Fajar merekah pada pukul 04.30 dan tenggelam pada 19.30 malam. Karena itu sangat berat bagi saya bila tidak makan sahur. Biasanya saya menyiasatinya dengan makan sahur sebelum tidur. Atau memasak dulu sebelum tidur lalu memanaskannya dengan microwave saat hendak sahur. Saya dan teman-teman biasa memasak sendiri untuk makan sahur. Sebab, berbeda dengan di Indonesia, tidak ada rumah makan yang buka hingga waktu sahur. Bila malas memasak, andalan saya hanya mi instan. Mikir juga kalau sering membeli makan di restoran. Sudah harganya mahal, kami harus memberi tip dan membayar pajak untuk tiap makanan dan pelayanan yang diberikan. Meski puasa tahun ini harus saya lalui di tengah suasana berbeda dan kadang terasa aneh, saya yang tak akan mudah menghapusnya dari ingatan. Surya, 9/6/2010, Monday
Bagian II: Nada Dering Sahur dan Bertukar Menu Buka Puasa
Jauh dari keluarga dan mengingat Lebaran yang sudah di depan mata membuat saya dan beberapa sesama mahasiswa muslim perantauan di kampus Brandeis University di Waltham berusaha menghadirkan suasana Ramadan seperti di kampung halaman. Dengan begitu, setidaknya kerinduan kami sedikit terobati.
“SAHUR, sahur! Tek, tek, tek! Sahur, sahur!” Seruan itu bukan dari rombongan patrol keliling kampung untuk membangunkan warga agar tidak terlambat mempersiapkan sahur. Bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas bulan Ramadan di sebagian besar wilayah Indonesia itu terdengar di pada pukul 16.30 waktu Waltham. Suara itu sontak membuyarkan konsentrasi sekitar 50 mahasiswa internasional yang sedang serius mengikuti perkuliahan Gender and Development oleh Prof Kristina Espinosa. Gelak tawa memenuhi ruang kelas yang mirip auditorium itu. Ternyata itu nada dering alarm ponsel yang diatur oleh seorang teman asal Indonesia untuk mengingatkan waktu sahur bagi keluarganya di Jogjakarta. Kami tertawa bukan karena nada dering patrol itu, melainkan lebih karena melihat si pemilik ponsel yang panik karena gagal mematikan suara ponselnya.
Kami memiliki cara masingmasing untuk mengatasi rasa rindu keluarga di bulan Ramadan. Bagi rekan dari Mesir bulan Ramadan berarti masa tanpa kerja, tanpa belajar, makan makanan enak dan belanja. Di Mesir, Ramadan merupakan masa beranjangsana ke rumah saudara dan teman. Jadi sulit baginya menghapus budaya itu saat di Amerika. Saya sendiri tak sempat berpikir untuk menciptakan romansa Ramadan untuk diri sendiri. Sebab saya harus berjibaku dengan Bahasa Inggris dan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, sebisa mungkin saya mencari kesempatan menambah wawasan agama. Itu pun lebih banyak melalui internet dan bukannya dari forum pengajian. Tausiah, pengajian, dan juga berbagi cerita berpuasa di negeri asing sampai bertukar menu buka puasa kebanyakan kami lakukan secara online.
Saya mendapat cerita dari Indar dan Sasi yang berada di Belanda. Mereka bingung dengan salat tarawih yang berbeda yaitu adanya tambahan salat tiga rakaat tanpa ruku’ di antara dua salat tarawih. Sementara Saiful Rapi, teman yang kuliah di Hawaii, harus menjadi ustad dadakan karena memberi penjelasan lengkap dengan dalil untuk menjawab kebingungan anggota ‘jemaah online’. Atau cerita teman-teman di Inggris yang tiap kali harus menjelaskan soal jam makan mereka yang ‘aneh’ saat menghadiri pesta atau undangan makan dari universitas dan teman-teman mereka. Surya, 9/7/2010, Tuesday
Bagian III: Sebar Makna Ramadan di Milis Kampus
Menjadi muslim di Amerika Serikat seharusnya terasa berat. Nyatanya, warga Amerika menganggap kehidupan spiritual adalah urusan pribadi. Kami bebas beribadah, bahkan di kampus.Brandeis University merupakan universitas Yahudi. Didirikan pada 1948, perguruan tinggi itu memproklamasikan sebagai lembaga nonsektarian. Brandeis memberi kesempatan setiap mahasiswa dari semua keyakinan untuk beraktualisasi. Bagi kami, mahasiswa pendatang dan muslim, perguruan tinggi ini memberi manfaat besar. Jika penganut Yahudi memiliki tiga tempat ibadah di kampus, mahasiswa muslim memiliki sekretariat yang menjadi pusat kegiatan Muslim Student Association (MSA). Tempatnya cukup representatif. Di situ kami menjalankan ibadah salat lima waktu, salat Jumat dan Tarawih.
Jangan membayangkan para pengurus MSAitu berjilbab panjang, atau berjenggot bagi bagi yang cowok. Walaupun berasal dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Afghanistan, Irak, Iran, dan Mesir, gaya berbusana mereka tak ubahnya anak muda Amerika lainnya. Saat menjalankan salat, mereka mengenakan celana jins dan jumper (jaket bertudung). Yang perempuan pun tidak mengenal mukena. Di berbagai kesempatan resmi, baik di forum atau situs universitas, komunitas muslim diperkenankan menyampaikan hal-hal terkait Ramadan.
Pada pekan orientasi penerimaan mahasiswa pascasarjana seorang mahasiswa diberi kesempatan menjelaskan makna puasa dan menjabarkannya lewat milis bisa diakses semua civitas akademika. Maka, yang saya alami berpuasa bukan lagi seperti ritual ‘aneh’ di lingkungan kampus Brandeis. Sebaliknya saya merasa malu kalau tidak berpuasa. Jadi sungkan kalau makan dan minum seenaknya. Hampir setiap orang di kampus memiliki pemahaman soal bulan spesial umat muslim ini. Atmosfer pemahaman itu kian mudah diciptakan karena saya berada di program internasional yang mahasiswanya berasal dari berbagai negara dengan latar belakang berbeda. Seorang teman dari Ghana, namanya Jerry Yakubu Yahya, punya cerita soal Ramadan tahun ini. Penganut Kristen Ortodoks ini menahan lapar dengan tetap minum untuk menghormati teman-teman muslimnya. Kegagapan, keterasingan dan kesepian menjalani jauh dari keluarga telah memberi saya ruang untuk melihat diri dan keberadaan dari sudut pandang berbeda. Surya, 9/8/2010, Wednesday
Ambigu
11 May 2011 Leave a Comment
in Inisiasi
Pikir dan hati terasa terbelah. Kenyataan mengungkung seakan selalu setia berjarak dengan rasaku. Kaki kerap berpijak di tanah yang salah. Keberadaan menjadi semu. Dimana keberadaan mesti ditancapkan dan identitas ingin dikukuhkan dalam rasa yang berjarak? Tatapku mendamba hadirmu di tiap lekuk liku kisah yang menantiku. Meski bibirku mengatup angkuh abai rengkuhan tanganmu. Ragaku hanyalah tiang lemah yang disangga mimpi-mimpi perjumpaan denganmu. Kulitku menyisakan lapis tipis peka rasa oleh kehidupan yang selalu hadir atas kemurahanmu. Aku lepas hanya dalam kesendirian. Menari menghidupi keberadaanmu. Gagu dan kembali membisu saat kau lemparkan derai tawa dan renyah suara lainnya.
Kembali. Topanglah ragaku. Ruas-ruas tulangku telah lolos dikikis keropos jiwaku. Jangan. Terpikir oleh mu untuk melepaskan erat pelukmu. Aku akan meronta. Mengukir pedih di dinding hatimu dengan tatapan sembiluku. Menghujanimu dengan kata agar menjauhiku. Merajah jiwamu dengan penolakan tak terkira. Jangan. Seinci pun kau insutkan kaki merentang jarak dariku. Karena urat diseluruh nadiku telah membiru menguncup harap akan bersanding denganmu.
Setialah. Mengecup keningku. Mengalirkan kehidupan untukku. Kubuat kau disibukkan oleh ketidak mengertian. Mengeja tiap gerak lakuku yang kini menjadi asing di matamu. Mencoba memasukiku dan merasakan tiap galau yang barangkali luput dari denyut pemahamanmu. Teruslah mereka angka, kata atau lenggang pesan yang mungkin saja pernah kusampaikan. Biarkan kulihat masai rasamu. Tetaplah bertahan. Bersabar sesaat lagi. Agar tak kau kenali nafasku yang tanggal satu per satu di pendek waktuku.
Berdua kita berjuang. Melepaskan mimpi yang pernah kita kukuhkan bersama. Melupakan apa yang tak akan terengkuh disatu kehidupan. Tak mampu lagi kuingat. Saat kekosongan menabiri keberadaan. Mengkotakkan kita kembali menjadi aku dan kamu. Setia aku mendambamu dalam bisu.
Bacalah. Saat paripurna aku terlepas. Sepucuk surat yang kutinggalkan untukmu. Lihatlah betapa mata-mata pena telah meretaskan jalanku untuk kembali menggapaimu. Tinta-tinta itu seperti aliran sungai yang membawaku melintasi lorong waktu. Tuk tak melepas kesadaranku mengada untukmu. Secarik kertas adalah papyrus dimana ku penjarakan pikiran-pikiran yang berlarian di kepalaku. Kuciptakan kodex untuk kau baca sepeninggalku. Sebuah dokumentasi pemikiran menuju ketiadaan. Jangan. Kau palingkan wajahmu saat membacanya. Biarkan sedih melatari saat kau mengejanya. Kenalilah makna dibalik kaku symbol yang tercipta dari perjalanan yang terlupa. Karena makna dibaliknyalah yang akan membuatmu bisa melihat rona merah wajahku yang memudar saat kau selesai membacanya. MA, 5/11/11, Wednesday
Facebook: Eksistensi yang Abstrak?
04 May 2011 Leave a Comment
in Article
Begitu banyak kepala, begitu banyak pendapat (Quot capit, tot sensus)(Horace)
Facebook sebagai fenomena sosial, salah satu jejaring sosial di era digital. Fenomena ini seharusnya juga menuntut kemajuan para pemikir sosial (social scientists) untuk mengkontekskan keilmuan di masa kekinian. Mempelajari ilmu sosial sudah saatnya berhenti melakukan sekedar studi pemikiran tetapi lebih jauh adalah mempelajari persoalan manusia. Dan facebook menjadi suatu lompatan kemanusiaan, yaitu kembalinya, belum terputusnya, manusia modern yang individualitis dari kodrat inherennya sebagai makluk sosial.
Seperti juga kehidupan akan menemukan jalannya, libido sosial juga menemukan aktualisasinya. Sangat menarik melihat sahabat lama yang telah menjalani hidupnya sendiri-sendiri bertemu dan kembali mengikatkan keakraban seperti dulu, seakan waktu dan jarak hilang begitu saja. Bagaimana manusia saling bertemu di kampung virtual mengingatkan kita pada film futuristik yang di bintangi oleh Keanu Reeve, Matrix. Ségala pernik kehidupan hanyalah simulasi di film yang berlanjut sampai tiga sekuel itu.
Facebook, semua aktifitas ‘sosial’ bisa dilakukan oleh fesbuker, julukan bagi mereka yang aktif dijejaring sosial facebook. Membangun pertemanan, bentuk baru interaksi antar manusia sampai model baru perselingkuhan. Penggalangan dukungan, sampai penyebaran pemikiran dan pandangan terhadap kejadian di dunia. Tidak perlu menjadi aktivis untuk bisa aktif dalam sebuah gerakan isu-isu sosial. Semuanya begitu cair. Satu-satunya hal yang tampak jelas adalah bagaimana beraktualisasi?
Ukuran kedekatan personal di facebook juga sangat menarik. Semua bermain dalam simbol. Baik untuk ekspresi personal sampai untuk menunjukkan derajat kedekatan. Seperti saling mengirim bingkisan ulang tahun, ataupun ucapan-ucapan bentuk perhatian dan persahabatan, ataupun saling berkunjung dan membantu (social bounding) lewat bentuk-bentuk permainan dunia maya semisal, Farmville, dan Pet Society. Tak terkecuali memploklamirkan kedekatan ikatan emosional dalam status seperti, in relationship, in open relationship, complicated, dan lain sebagainya. Disini ada sebuah eksistensi jati diri manusia yang dibentuk sangat intens.
Tidakkah ini justru meneguhkan terpecahnya kepribadian manusia (split personality) di era komputer ini ? Mereka hidup di dua dunia, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Bahkan mungkin dengan dua identitas dan dua kepribadian sekaligus.
Pertanyaannya, eksistensi diri di Facebook tidakkah ada yang menyadari suatu yang hanya abstraksi. Menurut Kamus Filsafat Lorens Bagus abstrak secara harfiah berarti ”terlepas dari ”, ”ditarik dari”. Pemahaman bersifat abstrak kalau tidak ada kaitan dengan intuisi indrawi atau kalau penyajian-penyajian pemahaman itu menggambarkan obyeknya tanpa ciri-ciri individual (hal.6) Astraksi, pengertian umum, merupakan sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang bersifat universal. Proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai obyek individual yang bersifat spasio-temporal (ruang dan waktu). Pikiran melepaskan sifat individual dari obyek dan membentuk konsep universal (hal.7). Suatu yang dianggap interaksi sosial sebenarnya sangat minus relasi yang penuh dengan sentuhan kemanusiaan. Sebentar lagi tak mengherankan jika facebook akan menjadi virus adiktif yang mencandu dan merusak banyak sendi kehidupan sosial pelakunya. Tak mengherankan jika mulai muncul berbagai kecemasan disebabkan oleh situs jejaring sosial ini seperti, sweeping facebook di perusahaan karena turunnya produktivitas karyawan, retaknya relasi atau sebuah hubungan karena virtual affair pasangan di facebook.
Dengan menginjakkan kaki di kampung virtual facebook semua memang terasa penuh warna. Bagaimana semua orang di dunia seolah menyambut kita. Kita bisa menjadi siapa atau apa saja, realitas bentukan yang sangat menggiurkan karena kita bisa tinggal memdesainnya. Walaupun terkadang segalanya bisa mereduksi standar dan penilaian sosial, tapi bahwa facebook benar-benar telah menjadi dunia khayalan yang menyihir dan membabukkan berbagai kalangan tanpa memandang status sosial, umur, ataupun jenis kelamin.
Harapannya sebagai hasil kemajuan, facebook tidak menjadi pisau bermata ganda. Situs pertemanan facebook tak hanya menjadi candu yang melenakan tapi bisa membuat pelakunya tetap berpijak pada realita. Yaitu tak hanya menghabiskan kualitas terbaik hidupnya (time management) dan produktivitas mereka dengan hanya getol bersosialisasi di dunia maya, tapi juga bisa menjadi arena aktualisasi eksistensi seperti mengasah kemampuan untuk mengartikulasikan gagasan lewat tulisan, atau memperluas wawasan lewat berbagai group-group ‘serius’. Seperti group penulis, pecinta buku, dan lain sebagainya yang tak hanya menyajikan pembahasan kajian bidang tertentu juga dapat melibatkan keikutsertaan facebooker untuk aktif kerlibat dalam pengayaan pemikiran lewat forum-forum diskusi terbuka. Part 1. (Jkt/MA, 12/2/2009)
Suicide
04 May 2011 1 Comment
in Inisiasi
Tak akan kujejakan kakiku di ranah moral. Ini bukanlah perdebatan. Cacian tak akan menyentuh apalagi memberikan pengharapan bagi mereka. Menggurui tak akan banyak berguna. Karena barangkali sakit yang mereka derita berakar pada kedalaman jiwa yang tak pernah terkata. Luka yang sering membuat mereka membisu karena pedih yang tak terkira. Pahit yang menghimpit hingga menciutkan parit-parit jiwa mereka.
Mereka ingin perpaling padamu. Di sayu tatap mereka ada sesuatu yang sarat ingin mereka curahkan. Mereka berharap pertolongan. Berharap diselamatkan dari mencintai kematian. Mereka ingin menggapaimu agar sesaat saja terbebaskan dari kungkungan dera kepenatan yang melumpuhkan pijar harapan.
Mereka urung mengulurkan tangan. Kembali menyurukkan kepalanya di bawah bantal. Mengubur isak tangis yang sekian waktu tertahan demi melihat kejinya tatapan kalian. Barangkali kita harus mengadili diri kita sendiri atas keputusan mereka menyegarakan menjemput kematian. Karena lidah kita lebih pandai mencerca daripada menyejukkan jiwa. Kita lebih pandai menghancurkan daripada membangun harapan.
Percakapan kalian terekam dalam lantang kepongahan. Seakan kalian bisa menyelam jauh ke ulu hati dan merasai tiap detik pergulatan hidup mereka.
Kata Tini, “”hidup ini membosankan, aku tak berdaya, dunia ini menyesakkan, tak ada yg sayang dan peduli sama aku, Tuhan tdk adil, semua sia-sia, semua jalan buntu…” begitulah kira-kira yang ada dalam benak para pelaku bunuh diri. Para pelaku bunuh diri pastilah beranggapan dengan mempercepat kematian maka semua persoalan terselesaikan”.
Angle menimpali, “Bisa jadi kalau saja pelaku bunuh diri itu benar-benar ingin merasakan surga Tuhan pastilah mereka urung melakukannya. Hidup benar-benar memuakkan sampai tiada lagi ruang rasional dalam diri sang pelaku. Perasalahan kehidupan terselesaikan bagi dirinya sendiri. Saat masuk kedunia tempat tinggal abadi, problem baru sudah menanti”.
Tini berpendapat sedikit filosopis bahwa dunia atau hidup ini masalah atau bukan tergantung bagaimana cara memandangnya. Referensi seseorang dalam memahami diri alam dan tuhannya sangat mempengaruhi seseorg dalam memaknai hidupnya.
Tami tak mau ketinggalan menyampaikan pendapatnya bahwa, “kadang ada term dimana masa-masa itu sangat menyesakkan. Jika kepedulian sedikit saja datang terlambat. Bisa-bisa mereka sudah akan menjatuhkan diri dari lantai kesekian, menggantung diri, atau menyayat pergelangan tangan mereka. Ada jeda,kekosongan, dalam hidup. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian mereka-mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan para pelaku. Karena “kesunyian” memungkinkan orang menentukan pilihan itu…
Tini mengomentari pendapat Tami dengan mengatakan fenomena bunuh diri terjadi pada individu yg justru cenderung egois. Mereka hanya suka memikirkan dirinya sendiri. Egosentris. Menganggap diri mereka sebagai pusat segala-galanya. Segala sesuatu dipandang dari sudut kepentingan mereka belaka. Hal itu membuat mereka terjebak frustasi. Terapinya mudah , ajak orang-orang kesepian itu memikirkan sekeliling. Banyak persoalan yang lebih berat dari pada persoalan diri sendiri”.
Tami coba berargumentasi. Katanya, “Egosentris dan pikiran yang ada di kepala mereka adalah sumbernya. Apapun, besar atau kecil tetaplah masalah yang harus dicari solusinya. Terapinya bagus, orang-orang tersebut perlu dituntun untuk mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut”.
Alam pun ikut menyumbangkan pikiran, “Kenyataanya, pil tidur tak lagi mampu menyelesaikan masalah bagi para pengidap depresi. Jadi bawa saja mereka ke Antartika untuk menyaksikan Gletser mencair. Siapa tahu mereka bisa memetik hikmah kehidupan dari situ”.
Tini mengamini, “Betul sekali! Dari dunia mikro individu yang sempit menuju dunia makro kesemestaan yg luas membentang. Dunia tak selebar daun jambu.
Hari ini mereka bercakap tentang orang yang “melampaui” batas. Mereka yang memutuskan untuk menetak nadi, menggantung diri, menenggelamkan diri. Mereka yang memilih untuk membunuh dirinya sendiri.
Apa yang kita tahu tentang “pilihan” mereka? Barangkali tak seorangpun ada atau sanggup menawarkan bantuan ketika mereka membutuhkan. Saat mereka bergumul dengan kepedihan, kepahitan, kehilangan atau ketakberdayaan yang merenggut batas kesanggupan individual mereka sebagai makluk.
Kita tak ada disana saat mereka berusaha berlari dari kejaran rasa ingin menikam atau menguliti diri sendiri. Memalingkan muka dengan isak dan sesak oleh ketakutan terhadap pikiran-pikiran rayuan kematian. Menepis suara-suara yang datang dari sudut kegelapan yang barangkali juga mereka berjuang untuk mengeyahkannya. Atau saat mereka mengais-ngais kekuatan diri yang tersisa dengan berlari pada teori, merunut referensi, mencari jawab di kitab suci hanya untuk berusaha mengobati diri sendiri. Kita juga tidak tahu pergulatan fisik, kegalaun jiwa antara berdosa dan tak kuasa yang meredupkan api harapan yang dengan sekuat tenaga ingin dihidupkan. Ironi. Paradoks. Kesakitan yang tak seorangpun di luar sana turut menghidupinya.
Bagaimana kalau keputusan mereka itu bukan lahir dari keputusasaan? Bagaimana kalau itu adalah sebuah bentuk “keberanian”? Karena bisa jadi mereka yang pada akhirnya merenggut nyawanya sendiri telah melampaui berpuluh atau mungkin ribuan kali diantara pilihan. Jatuh bangun menjaga kewarasan dan mengantang keinginan untuk merenggut esensi diri sendiri. Pergulatan yang barangkali menguras segala daya kehidupan yang mereka punyai. Ketakutan akan pengadilan moral, sosial, dan keterikatan pada mereka yang dicintai. Kompleksitas perang batin yang tak bisa dikatakan mudah.
Hingga pada akhirnya mereka sampai pada keputusan memutus segala pertentangan. Mengakiri pergulatan panjang yang melelahkan. Kepenatan yang mengantarkan mereka melihat satu pilihan.
Kenyataannya, setiap persoalan hidup adalah relatif. Bukan hanya dalam kadar kuantitatif dan kualitatifnya tapi juga bagi diri yang dihadapkan pada pernik masing-masing hidup mereka. Lali mengapa kita menggunakan subyektifitas kita untuk menilai persolan hidup orang lain? Penilaian yang seringkali hanya bersandarkan pada kisah hidup kita sendiri sebagai referensi dan satu-satunya ukuran untuk mengkuantifikasi persoalan orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengeneralisasi dunia dengan subyektifitas kita?
Penilaian secara subjektif tidak hanya akan bias tapi juga jatuh pada simplifikasi dan menafikkan kompleksita factor dalam peristiwa bunuh diri. Membuat kita enggan melihat aspek sosial, pendidikan, akses informasi (pertolongan), psikologi, atau barangkali sejarah. Banyak hal yang miskin dari kacamata keakuan yang sering mewarnai sudut pandang kita dalam memandang tiap persoalan.
Coretan ini bukanlah pembelaan terhadap mereka yang memilih untuk mengakiri hidupnya sendiri, hanya sekedar pengingat agar kita tak mudah untuk menghakimi. (MA,January 6, 2011)