Singgahan
16 May 2010 Leave a Comment
in Short Story
Her, aku kembali. Menapakkan kaki di rumput taman perlimaan Singgahan. Kau ingat satu dasawarsa lalu, saat bulan terang tanggal sepuluhan kita duduk disana, di bawah bogenvil yang bermekaran sambil bercakap pelan. Terkadang kita saling memandang sambil terus mengalirkan angan-angan yang kita titipkan pada rembulan.
“Aku tak boleh gagal masuk kekedokteran tahun ini”. Suaramu yang halus menusuk malam yang mulai berembun. Aku memandang ke hitam matamu untuk kemudian menghembuskan resah dengan pura-pura mengeja tebaran bintang. Itu berarti kita akan segera berpisah.
Tanpa tahu hatiku yang mulai berdesir terluka kau memintaku untuk bernyanyi. Kau tak memintaku menembangkan kidung sutasoma kan Her? Selembar daun hatiku robek makin lebar. Lihatlah kaki kita berjajar direrumputan dalam persandingan yang tenang. Sampai kapan? Untuk sebentar kan melangkah, mengayun ke masa depan pilihan.
Her, aku kembali. Merasai desir angin yang turun dari kota Malang di atas langit Singgahan. Kau ingat aroma jagung bakar yang di panggang di atas arang cangkok (batok kelapa) oleh para pedagang di sepanjang jalan depan taman Garuda? Asapnya membubung laiknya siluet penari yang membuat bayangan sang pedagang menjelma menjadi lukisan surealis. Seperti potret diri dari Amang Rahman katamu. Bagiku pendapatmu begitu konyol waktu itu, karena menyamakan lukisan yang lahir dari tangan-tangan empu pelukis kau samakan dengan tafsir jelaga para pedagang jalanan.
Jemariku menyentuh dinding menara seperti sedang menyingkap debu dari ruang hatiku. Disini, kau bertanya tentang rasaku. Andai kau disini, kau pasti bisa bercerita tentang diriku saat itu. Apa pipiku bersemu merah? Atau anak rambutku juga lunglai laiknya hatiku yang layuh. Satu yang kuingat untuk waktu yang lama tak berani kutentang rembulan yang membulat menaungi pucuk cemara itu. Siluetmu menjadi terasa indah di kaca hatiku. bayangmu berlarian di sudut-sudut jantungku yang tak henti berdegup gugup.
Jalanan mulai lengang. Teman-teman beriringan pulang. Diammu merejam malam tanpa ampun disisi hatiku. “Ayo pulang….” Kuabaikan tanyamu. Matamu diselimuti tatap keraguan berharap bibirku menghadiahi mu sebuah jawaban. Pelan kau ayunkan langkahmu mengikutiku pulang. Malam kian gigil. Dalam senandung kediamanmu aku telah tahu bahwa pada akhirnya kita memutuskan untuk mengubur rasa kita dalam kenaifan untuk selamanya.
“Tidak Her, ….” Gema suara jawabku yang berpantulan di hatiku selama satu dasawarsa ini kembali berlompatan di tempat dia dilahirkan. Suatu hari kita akan kembali kesini. Menebar hati dengan bukan kita yang sekarang, menyaksikan alam tidak dari mata kita saat ini. Kita akan bertemu lagi. Tidak tidak saat ini meski kediamanku membuatmu menjadi benci pada cintamu, dan mengurung dalam rindu abadi. Apa jadinya jika cintaku ku katakana padamu saat itu. Aku tak tahu. Tapi disinilah aku sekarang Her, disimpang lima Singgahan tempat rasa yang indah pernah singgah di hati kita. Andai kau disini.(9/7/09)