Perahu Kertas
16 May 2010 1 Comment
in Short Story
Ah, hidup biasa tanpa hujanpun sudah terasa susah bernafas apalagi sekarang musim hujan di Jakarta. Curahan air tak henti-hentinya turun dari langit pekat Jakarta. Huh, tanpa sinar matahari lagi pagi ini. Seminggu ini udara begitu lembab, pengab dan sangat tidak bersahabat.
“Aaa…!!!”
Teriakan histeris Ning, tante tukang pijit tunanetra sebelah kosku, memecah pagi subuh jam setengah enam pagiku. Rupanya kakinya langsung disapa dingin air banjir saat turun dari dipan tempat tidurnya. Penasaran aku, bagaimana ekspresi wajahnya ya hiks hiks…
Yach, hancur dech. Pasti bakalan ada sahutan susul menyusul dari tetangga-tetangga penghuni rumah kaleng sebelahku. Tuch benar saja kan: “alat las listriknya terendam air, angkat-angkat ke tumpukan kayu…” Yasrin panik mengkomando kanan- kiri untuk menyelamatkan bengkel las peleg mobilnya. ”Waduh Yus, kotoorrr… naik ke jalan depan sana!“. Yus anak tiga SD itu nyengir kuda saja, saat ketahuan ibunya bermain air selokan berwarna hitam dan berbau anyir, dan masih terus digrojog aliran pembuangan kamar mandi dari lantai dua rumah sebelah. Dia girang bukan kepalang karena hujan semalam pasti membuatnya akan terbebas dari rutinitas alias pergi ke sekolah. Karena pasti haqul yaqin SD 03 Pagi sekolahnya kelelep air ujan.
”Wah, gue ngapain ya…?“ Minum kopi ala tradisi orang gedongan sambil sok puitis menikmati gemerisik rintik hujan pagi hari ditemeni roti untuk sarapan. Puiih..! Nggaklah! Ini bukan jaman baheula saat pagi kudu menanti tukang koran nganterin berita, apalagi ujan-ujan begini. Basi kalee… Buka laptop tat tut tat tut ketik wwwwwwwwww….. seabrek windows tumplek blek dengan berita-berita up to date yang membanjirin kepala tapi lewat begitu saja. Kirim komen sana-sini, nimbrung pojok-pojok diskusi sok punya empati and nggak pengin dianggap basi dan selalu menyimak berita terkini. Eit.. Morning… tak lupa cas cis cus disambungan ”telpon ketik“ alias chat dengan rekan-rekan yang entah bagaimana sok kenal begitu saja hai-hai ngalor ngidul tak tahu juntrungnya. Ah dunia serasa dilipat. Makin dekat dengan siapa saja, tapi serasa berjarak dengan apa saja.
”Pagi Ndri….“ Sapa Mr. Gery
“Pa kbr Pak, kena banjir nggak?”
“Belum sih. Bertahun-tahun Nusa Indah, Padamara ke selatan daerah Ciputat terhindar banjir. Tapi tidak tahu tahun ini”
“Y… Jakarta oh Jakarta. Kalau nggak riweh nggak seru ^ _ ^! Y kan Pak”
“Hey Bunda …. “ (eh anak siapa nih pagi-pagi udah cari emaknya )
He he he rupanya si Dicka anak heavy metal, sekolah di JIBES kerja ntah dimana….
“ Eit, Dick statusnya kok “batal manggung karena kecapekaan”….”
”Iya neh…!!!“
Bla bla bla bla bla
”Aoooo….!“ eh yang ini bukan dari temen chat di FB (fes buk) tapi Mr. Kasto yang melolong dijambak (eh bener ditarik rambutnya, bukan dijewer telingannya kayak di sitkom Suami-suami takut istri) karena mencuri kesempatan dalam kesempitan mojok sama selinya (selingkuhannya) dengan sok romantis menikmati banjir pagi hari berdua di pojok belakang rumah. Pak Kasto rela kakinya terendam air sambil semes-semes alias sms, sambil sekali-kali mencuri pandang Eny yang mengamati dari lantai dua sambil berbalas senyum, dan berbalas pantun lewat sms.Dunia edan. Ah, gue terpaksa ngulum senyum.
Aku sarjana sosial tapi merasa mati akal dan kepekaan sosialnya. Tak ada lagi tema sosial yang menarik dan cukup punya daya diam atau ketetapan peristiwa untuk diteliti. Semua berlalu, melaju, run away begitu cepatnya. Segala bentuk hubungan telah berubah. Aku gamang. Tapi aku juga penikmat sejati. Masuk ke retorika-retorika humanisme, perdamaian, lesbianisme, sampai penggalangan simpatisan partai. Semua teman, semua lawan, semua menjadi perih tak terperikan. Karena kadang aku ingin diam merasakan gelora perasaanku yang ingin diam, gejolak semangatku yang membuatku geming mencari arti.
Rumah-rumah kaleng, rumah tak layak huni beratap seng berserakan di bawah sana. Petak-petak beralas tanah, tanpa ubin tile italia, kaca patri atau pendingin udara. Jamban-jamban tak tertata hanya berbatas tutup ala kadarnya untuk sekedar berkata, eh ada orang buang hajat yang sedikit ingin menikmati privasi kelegaan membuang kotoran. Itu saja. Gunungan sampah di pojok-pojok jengkal tanah sangat dekat dengan lubang nafas orang-orang yang menyempatkan diri bersendawa atau tertawa.
Lihatlah, kerepotan Tante Ning yang harus merayapi temboknya untuk kembali menemukan peralatan dapurnya yang mengambang entah kemana. Yus yang begitu girangnya meninggalkan bangku belajarnya untuk menikmati permainan tahunan mampirnya air ke rumahnya. Kasto dengan otak cabulnya, tak peduli berapa kali istrinya melabrak selingkuhannya. Ada lagi Sony yang katanya sutradara aktris ternama, budhe warti yang suaminya entah kemana. Semua sudah hidup saat sebelum azan subuh terdengar, tentu saja saat aku baru terlelap tidur karena asyik bersosialisasi dengan orang-orang hebat yang berseliweran di laptopku.
”Duar, jglaarrrr !!! ” aduh apalagi ya. Tidak tahu aku sedang membaca reportase Times Magazine. Jazirah arab sedang membara, perseteruan Israel-Palestina yang telah merenggut korban 1000 nyawa perempuan, anak-anak, penduduk sipil dan mungkin juga tentara. Buyar semua! Susah-susah membangun empati, dan lagi berusaha keras menggertakkan gigi menghujat sana-sini alias ngedumel sendiri berlagak sebagai pejuang Ham yang telah didzolimi.
”Ambil keset, basahin lalu tutup di atasnya”, suara Sony memburu sambil terdengar buru-buru menaiki tangga. ”Gimana nih, ndak mau mati dia. Tambah besar. Awas! Jangan sampai merambat ke dinding. Ambil air di ember saja. Siramin terus atasnya”, suara anak-anak kos bersahut-sahutan disela kepanikan. Kompor minyaknya Upi meledak. Huh! Kalau tidak mencium bau hangus malas rasanya aku beranjak meninggalkan komputerku. Padahal pintu kamar Upi Cuma terpaut satu pintu dari ku. Kalau tadi api membesar, kebakaran…. Hah aku akan jadi dendeng dengan posisi yang sangat menakjubkan. Bakalan seperti fosil hitam yang sedang duduk takzim mengawasi layar seakan melihat dunia ajaib keluar dari situ. Hih! Wus-wus aku langsung meniup kobaran bayanganku yang sudah ngelantur. Untung kosan semi triplek ini ndak jadi dilalap api biru. Bukannya memanjatkan syukur, malah komat-kamit jengkel nggak keruan.
”Yus…. Yussy Sulistyowati Bin Ahmadun keluar dari air nggak! Dengar mama nggak!“ Suara petir Ibu Karmo makin membuat suram pagiku. Aku terpaksa melongok dari balkon apa yang terjadi sampai nama Yus perlu dieja kayak penghulu mau ngucapin ijab kabul. Dengan tenangnya Yus sedang melepaskan perahu kertas putihnya berlayar di air keruh yang entah berbaur dengan berjuta basil apa saja. Dengan berjongkok takzim dia awasi perahu kertasnya yang tegak perkasa perlahan berjalan diseret arus kecil aliran air selokan yang tak lancar mengalir disumbat sampah. Ujung rok merahnya ikut tercelup air. Dia membuang nafas kesal saat perahu kertasnya terantuk-antuk plastik-plastik sampah yang mengambang. Perahu kertasnya maju mundur, untuk kemudian lemas digerus air hingga menjadi lumer. ”Ao!!! Sakit Mama!“ Pasti fantasi Yus buyar seketika saat tangan Mamanya dengan sekuat tenaga memukul pantatnya. ”Rumah kebanjiran, bukannya bantuin nawu biar cepat kering malah mainan tidak karuan“. Nah lho mainan air tidak boleh sekarang malah disuruh membuang air dari dalam rumah. Aneh!
Kulihat perahu kertas Yus sudah tidak lagi berbentuk. Hanya segumpal kertas putih yang telah berubah kehitaman dilalap air selokan. Perahu kertas jadi bubur kertas. Bukan seni instalasi tentunya, yang dilekatkan di antara seni sampah yang berserakan di sana sini. Atau aku baru melihat parodi negeri ini. Negeri yang katanya merdeka tak lebih hanya fantasi buta warna yang tak tahu lagi arah tujuannya.
Hmmm… seperti realitas lainnya yang ngloyor begitu saja akupun pergi dari balkon hanya dengan menggidikkan bahu dan menggelengkan kepala. Mengibaskan segala kegilaan idealisme yang mulai ancang-ancang untuk menyerangku tanpa ampun. Oh tidak! Kopi pahitku tentu sudah dingin karena kutinggal nonton teater perahu kertas Yus tadi.
Perahu kertas bangsaku, orang-orang negeriku, jalur gaza, buruh merdeka, cinta mati buku, kutu buku, kutu busuk, tikus-tikus kamarku, hujan dan banjir kosku semua terasa megah sesaat untuk kemudian hanyut dan luluh. Seperti kotoran yang hilang digelontor air waktu kita kejambanan. Benar-benar logika perah kertas atau mungkin tempe mendoan. Secangkir kopi pahitku makin terasa getir melewati kerongkonganku pagi ini. (15/1/2009)
Jun 18, 2010 @ 01:13:11
Oh cool. I luv this short story….bravo Endri!